IMG_20180812_070308899

Sebelum menahbiskan imam diosesan dari Keuskupan Purwokerto, Mgr Robertus Rubiyatmoko meminta agar tiga diakon itu menanggapi panggilan Tuhan dengan serius. “Menanggapi dengan kesejukan hati, dengan menyediakan diri untuk diutus bagi penggembalaan kawanannya. Kesediaan inilah yang menurut saya menjadi modal utama seorang gembala umat,” kata Mgr Rubi yang sebelumnya melakukan dialog interaktif dengan ketiga diakon itu.

Uskup Agung Semarang itu menahbiskan tiga imam diosesan Keuskupan Purwokerto di Gereja Santo Petrus Pekalongan, 31 Juli 2018. Tiga imam yang ditahbiskan adalah Pastor Yusuf Widiarko Pr, Pastor Ia Indra Pamungkas Pr, dan Pastor Florentinus Bram Mahendra Siagian Pr.

Dalam tahbisan itu, Mgr Rubi didampingi Uskup Emeritus Keuskupan Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ, Uskup Emeritus Ketapang Mgr Blasius Pujaraharja Pr, dan Uskup Terpilih Keuskupan Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono Pr. Sejumlah imam diosesan, imam kongregasi, biarawan-biarawati, umat awam dan kaum muda hadir dalam tahbisan itu.

Seorang imam, lanjut Mgr Rubi, mesti bersedia diutus ke mana pun, kapan pun, justru karena dia menyediakan diri untuk melayani Allah dan Gereja-Nya melalui keuskupan. “Maka sudah semestinya kita menyerahkan diri seutuhnya pada kepentingan keuskupan,” kata Mgr Rubi.

Menurut Mgr Rubi, kesiapsediaan menjadi modal dasar seorang penatua, seorang imam, atau pun seorang gembala. “Siap sedia diutus ke mana pun dengan penuh keberanian tanpa ketakutan, tanpa kekhawatiran, tanpa was-was. Namun juga bisa diandalkan dan siap untuk melayani. Dan semua dilakukan dengan memberikan diri seutuhnya bahkan rela mati demi kawanan. Itu semua bisa diwujudkan dalam keseharian melalui teladan kehidupan yang sangat konkret,” kata prelatus itu.

Kepada umat yang hadir, Mgr Rubi mengatakan, bahwa ketiga imam baru itu telah menyediakan diri untuk kita semua, baik yang di dalam Gereja sendiri, maupun yang di luar Gereja. “Mudah-mudahan kesediaan diri ini mendapatkan tanggapan positif dari seluruh umat. Umat pun juga menanggapinya, mendukungnya dengan sukacita, tanpa menawar-nawar,” kata Mgr Rubi.

Mgr Rubi mengatakan, kesiapsediaan para imam hanya akan menjadi nyata, dan berbuah yang berlimpah kalau ditanggapi oleh kesediaan umat untuk mendukungnya.

Juga diingatkan bahwa Tuhan akan terus memanggil dan mendampingi meskipun imam adalah manusia lemah. “Melalui kesadaran diri yang penuh dengan kelemahan, akhirnya akan merasakan betapa Tuhan menggunakannya, memakainya dengan mendampingi dari waktu ke waktu. Rahmat Tuhan itu berlimpah,” kata Mgr Rubi.

Pastor Florianus Bram Mahendra Siagian mengatakan, dirinya tertarik menjadi imam ketika duduk di kelas 3 SD saat melihat seorang sosok imam yang menarik perhatiannya, Pastor Ia Indra Pamungkas mengatakan, seorang imam tidak hanya menggembalakan umat di Gereja, namun, ia juga menjadi gembala bagi masyarakat di luar Gereja untuk bersama-sama hidup dalam masyarakat luas.

Selama ini, upacara tahbisan imam di Keuskupan Purwokerto diselenggarakan di berbagai paroki secara bergantian. Menurut Kepala Paroki Santo Petrus Pekalongan Pastor Martinus Ngarlan Pr, hal itu bertujuan “untuk melibatkan semakin banyak umat dan memperkenalkan panggilan imam pada orang muda di berbagai tempat di daerah.”(Lukas Awi Tristanto)

IMG_20180812_070319815 (1)

_IMG_000000_000000

IMG_20180812_070256496

Tinggalkan Pesan