IMG_2557
Suster Maria Yohana OP berdialog dengan Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF dalam Misa perayaan Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018 di Panti Asuhan Pondok Si Boncel. PEN@ Katolik/pcp

“Suster, mengapa suster memilih Ordo Pewarta (OP) sebagai cara hidup suster sampai sekarang?” tanya seorang imam. “Karena hubungan dengan para suster OP lebih akrab dan rumah saya dekat sekolah yang dijalankan para suster OP,” jawab suster itu. “Apa yang suster hidupi dalam kongregasi OP?” kejar imam itu. “Saya mengagumi cara hidup serta karya pelayanan para suster OP,” jawab suster itu.

Tanya jawab itu terjadi di Panti Asuhan Pondok Si Boncel, Srengseng Sawah Pasar Minggu, antara Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF dan Suster Maria Yohana OP yang merayakan HUT ke-80 dalam Misa perayaan Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018. Santo Dominikus, pendiri Ordo Dominikan (Ordo Pewarta, OP), lahir 8 Agustus 1170 di Caleruega, Spanyol.

Misa di bagian pintu masuk pondok itu, dihadiri 11 suster OP, 23 Dominikan Awam dari Chapter Santa Katarina Siena Jakarta, termasuk presidennya Stephanus Suriaputra OP, dan Koordinator Nasional Dominikan Awam di Indonesia Theo A Atmadi OP, dan 50 dari 72 anak Pondok Si Boncel bersama 15 ibu pendamping yang bertugas shift saat itu. 12 anak yang lain tidak hadir karena masih bayi.

Setelah mengingatkan riwayat Santo Dominikus dan usahanya melawan bidaah yang waktu itu berkembang, “agar manusia kembali kepada Allah,” Pastor Herlambang memastikan bahwa para suster dan Dominikan Awam sebelum berkaul pasti sudah dibekali atau merefleksikan cara hidup Santo Dominikus.

“Setiap biarawan-biarawati juga Dominikan Awam mengerti bahwa ikut kongregasi tidaklah mudah. Cara hidup biarawati memiliki sikap lepas bebas atau totalisme, siap terjun ke mana pun saat diutus. Untuk pesta ini, Dominikan Awam pun harus meninggalkan yang mereka sukai,” dalam kaitan dengan relasi dan kedekatan dengan barang duniawi, kata Pastor Herlambang seraya mengutip Lukas 9:62, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Awam, suster, anak-anak panti dan pengasuh pun diundang menjadi pewarta sejati seperti Santo Dominikus, “mewartakan yang benar dan tidak membuat berita tidak benar, karena kita hendak melawan bidaah jaman sekarang,” kata Pastor Herlambang. Imam itu juga mengajak mereka membawa berita-berita benar “supaya dunia tidak ditutupi kepalsuan dan kebohongan, tetapi cahaya kebenaran seperti yang diwartakan Santo Dominikus, yang selalu memberi inspirasi bagi wajah Gereja yang baru.”

Suster Maria Hildegardis Afra OP yang menjadi pimpinan komunitas para suster di panti itu sekaligus pembina rohani Dominikan Awam Jakarta, dari Taman Aries dan Pondok Indah, mengatakan kepada PEN@ Katolik, “meski acara ini sederhana dan singkat, namun terasa sekali persaudaraan Dominikan, khususnya semangat melayani, dan antusias dalam menghadiri perayaan.”

Memang, menurut suster itu, studi adalah salah satu pilar Dominikan yang perlu ditingkatkan dan diminati Dominikan Awam. Selain itu, mereka membutuhkan pendamping khusus, “bukan seperti saya yang sudah terbatas waktunya.”

Yang diharapkan dari Dominikan Awam, tegas Suster Hilde, adalah keterlibatan semakin besar dari generasi muda. “Kita sudah mulai. Di setiap perayaan, komunitas para suster melibatkan anak-anak, membiasakan mereka untuk studi atau mempertanyakan mengapa ada peristiwa ini atau bagaimana menghadapi situasi ini. Pertanyaan itu selalu kita bawa dalam dialog bersama,” kata Suster Hilde.

Pondok Si Boncel didirikan untuk mengurus anak-anak yatim piatu di bawah umur tujuh tahun. Panti itu didirikan tahun 1972 di Jalan Raden Saleh Raya nomor 7 Jakarta. Karena terbatas daya tampung, 1 April 1981 panti itu pindah ke Srengseng Sawah Pasar Minggu. Pengelolaan panti dipercayakan kepada para suster OP, yang tidak hanya merawat dan mendampingi anak-anak, tetapi perduli terhadap pendidikan yang harus diperoleh anak-anak khususnya pendidikan formal tingkat awal atau Taman Kanak Kanak.

Misa Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018, menurut Suster Hilde, “mencoba mengangkat dan menunjukkan kepedulian dan keterlibatan lebih besar pada karya-karya kita” dan saat itu anak-anak kecil Pondok Si Boncel bukan hanya duduk sebagai peserta Misa melainkan terlibat sebagai koor. Mereka menyanyi dipimpin dua teman mereka yang bergantian menjadi dirigen, dan seorang membawa persembahan bersama seorang ibu pendamping. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Suster-Suster Dominikan gelar halalbihalal bersama warga sekitar panti asuhan

Kerasulan Dominikan Awam di Jakarta resmi didirikan sebagai yang pertama di Indonesia

Dominikan Awam diminta mewartakan dalam persaudaraan di masyarakat dan Gereja

Kapitel pertama Dominikan Awam Chapter Santa Katarina Siena berlangsung penuh rahmat

Tiga chapter persaudaraan Dominikan Awam di Indonesia diresmikan

Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF memimpin Misa Pesta Santo Dominikus di Panti Asuhan Pondok Si Boncel. (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF memimpin Misa Pesta Santo Dominikus di Panti Asuhan Pondok Si Boncel. (PEN@ Katolik/pcp)
Seorang anak Pondok Si Boncel memimpin lagu dalam Misa Pesta Santo Dominikus. (PEN@ Katolik/pcp)
Seorang anak Pondok Si Boncel memimpin lagu dalam Misa Pesta Santo Dominikus. (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor menerima bahan roti dan anggur serta bahan persembahan yang dibawa seorang anak panti bersama ibu pendamping. (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor menerima bahan roti dan anggur serta bahan persembahan yang dibawa seorang anak panti bersama ibu pendamping. (PEN@ Katolik/pcp)
IMG_2609
Suster M Yohana OP memotong tumpeng ulang gtahun ditemani Suster M Hildegardis Afra OP. (PEN@ Katolik/pcp)
Suster Maria Hildegardis Afra OP (berdiri di tengah) bergambar bersama Dominikan Awam Jakarta yang hadir dalam pesta Santo Dominikus. (PEN@ Katolik/pcp)
Suster Maria Hildegardis Afra OP (berdiri di tengah) bergambar bersama Dominikan Awam Jakarta yang hadir dalam pesta Santo Dominikus. (PEN@ Katolik/pcp)

Tinggalkan Pesan