Pagar militer yang ditutupi pita perdamaian di sebuah taman dekat Zona Demiliterisasi yang membagi Korea Utara dan Korea Selatan (AFP)
Pagar militer yang ditutupi pita perdamaian di sebuah taman dekat Zona Demiliterisasi yang membagi Korea Utara dan Korea Selatan (AFP)

Konferensi Agama-Agama Korea untuk Perdamaian (KCRP) meminta pemerintah Amerika Serikat, Cina, Rusia, dan Jepang untuk mendukung langkah rekonsiliasi di semenanjung yang terbagi itu guna mendukung pertemuan tingkat tinggi pekan ini antara Seoul dan Pyongyang.

Dalam sebuah pernyataan, seperti dilaporkan oleh Vatican News, 26 April 2018, KCRP, yang didukung oleh Ketua Konferensi Waligereja Korea Mgr Kim Hee-joong, mengatakan bahwa negara “mendambakan” kedatangan “musim semi perdamaian.”

Menjelang pertemuan 27 April 2018 antara Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, pernyataan itu mengingatkan bahwa pemisahan di antara dua bagian dari semenanjung itu adalah penghalang terakhir yang ditinggalkan oleh Perang Dingin.

Para pemimpin agama itu menyerukan kepada para pemerintah utara dan selatan agar memenuhi kewajiban mereka untuk meneruskan dialog dan saling pengertian. Pernyataan itu mendesak pemimpin Korea Utara untuk memanfaatkan kesempatan itu guna “mematahkan rantai yang telah mengikat dan membatasi tanah ini selama lebih dari tujuh puluh tahun.”

Mereka juga menyerukan kepada semua pemimpin politik yang terlibat dalam proses pemulihan untuk mendukung upaya-upaya rekonsiliasi ini, seraya menambahkan bahwa “Amerika Serikat adalah negara kunci untuk membawa perdamaian ke Semenanjung Korea.” Mereka meminta AS, Cina, Rusia dan Jepang untuk mendukung KTT itu, serta pertemuan yang direncanakan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara bulan depan.

Pada hari Rabu, 25 April 2018, Paus Fransiskus juga berdoa agar pertemuan minggu ini berhasil baik, dengan menggambarkannya sebagai kesempatan untuk “dialog transparan dan langkah konkret untuk rekonsiliasi” guna menjamin perdamaian di semenanjung itu dan di seluruh dunia.

Ketika berbicara dalam audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, Paus meyakinkan kepada orang-orang Korea bahwa dia akan tetap mendoakan mereka, seraya menambahkan bahwa Tahta Suci “menyertai, mendukung dan mendorong setiap prakarsa tulus dan berguna” untuk membangun perdamaian dan persahabatan di antara bangsa-bangsa. Paus mendesak semua pemimpin politik untuk “berani berharap” dan untuk menjadi pembangun perdamaian.

Kim Jong-un akan bertemu Moon Jae-in pukul 9.30 pagi waktu setempat. Itu yang pertama kalinya seorang pemimpin Korea Utara melintasi garis demarkasi militer sejak akhir perang Korea lebih dari 60 tahun lalu.

Keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi antara kedua negara mereka, yang secara teknis masih berperang karena perjanjian damai tidak pernah ditandatangani ketika perang berakhir tahun 1953. (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan