Polisi militer Nigeria berpatroli di daerah di mana boko haram milisi lainnya melakukan serangan (AFP)
Polisi militer Nigeria berpatroli di daerah di mana boko haram milisi lainnya melakukan serangan (AFP)

Datang laporan tanggal 24 April 2018 tentang serangan terhadap Gereja Katolik Santo Ignatius di Mbalom, di negara bagian Benue tengah di Nigeria. Gereja itu dikepung, dan di saat umat beriman meninggalkan gereja para pelaku mulai menembaki mereka. Dua imam dan 16 umat paroki terbunuh. Peristiwa ini hanyalah peristiwa terakhir dari serangkaian serangan di Nigeria selama beberapa tahun terakhir, seperti dilaporkan oleh Joachim Teigen dari Vatican News.

Presiden Nigeria Muhammadu Buhari mengecam keras serangan itu. Keuskupan Makamdi, di mana gereja itu terletak, juga mengungkapkan keluhan mereka atas ketidakamanan penduduk.

Direktur Komunikasi Keuskupan Agung Abuja, Pastor Patrick Alumuku, menjelaskan kepada Vatikan News bahwa serangan itu terjadi dalam apa yang disebut sebagai “keranjang roti dari Nigeria”. “Kelompok-kelompok gembala-gembala nomaden (pengembara) dipaksa pindah ke selatan karena penggurunan, yang mengakibatkan konflik atas tanah dan sumber daya di wilayah subur ini,” katanya.

Menurut Human Rights Watch, lebih dari 3000 orang telah tewas dalam serangan sejak 2010.

Meskipun Boko Haram belum menyatakan bertanggung jawab, ini jelas ideologi Boko Haram, kata Pastor Alumuku, seraya menambahkan bahwa orang-orang ini diserang karena mereka Kristen, di wilayah di mana jumlah mereka mencapai 95 persen dari jumlah penduduk.

Meskipun, pemimpin Nigeria telah mencela serangan itu, Pastor Alumuku menemukan respon dari keinginan pemerintah Nigeria, yang mengatakan “tidak ada yang dilakukan untuk menghentikan pembunuhan yang terjadi hari demi hari.” (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan