Di Biara Santo Anselmus di Bukit Avebtine Roma ini terletak Pusat Konfederasi  Benedictin. Foto PEN@ Katolik/paul c pati
Di Biara Santo Anselmus di Bukit Aventine Roma ini terletak Pusat Konfederasi Benediktin. Foto PEN@ Katolik/paul c pati

Dalam pertemuan di Ruang Klementin dari Istana Apostolik dengan sekelompok abbas dan biarawan Benediktin, yang merayakan ulang tahun ke-125 berdirinya Konfederasi Benediktin dan peletakan batu pertama Biara Santo Anselmus, Paus Fransiskus mengenang karya kemurahan hati, pendidikan, dan dialog yang diberikan oleh Benediktin bagi Gereja di seluruh dunia.

Paus Fransiskus mengatakan dalam sambutan pertemuan 19 April 2018 itu, bahwa spiritualitas Benediktin terkenal karena motonya “ora et labora et lege(doa dan kerja dan belajar). “Dalam kehidupan kontemplatif, Tuhan sering memberitahukan kehadiran-Nya secara tidak terduga. Dengan meditasi Sabda Allah dalam lectio divina, kita dipanggil untuk tetap mendengarkan suara-Nya guna menjalani ketaatan yang konstan dan penuh sukacita,” kata Paus.

Doa, lanjut Paus, membangkitkan dalam hati kami, kesediaan untuk menerima karunia luar biasa yang Tuhan selalu siap berikan kepada kita, “semangat baru yang menuntun kita, melalui pekerjaan sehari-hari kita, untuk berupaya membagikan karunia kebijakan Tuhan kepada sesama: kepada komunitas, kepada mereka yang datang ke biara untuk mencari Tuhan (quaerere Deum), dan kepada mereka yang belajar di sekolah, akademi dan universitas kalian.”

Di zamannya yang ditandai krisis nilai dan krisis institusi, Santo Benediktus digelari oleh Santo Gregorius Agung sebagai bintang yang bercahaya. “Ini karena dia mampu membedakan antara yang pokok dan yang sekunder dalam kehidupan spiritual, dan dengan tegas menempatkan Tuhan di tengah.” Maka, Paus mengajak para biarawan yang menjadi anak-anaknya saat ini, “jeli dalam mengenali apa yang berasal dari Roh Kudus dan apa yang berasal dari roh dunia atau roh iblis.”

Di zaman ini, ketika orang begitu sibuk sehingga tidak punya cukup waktu untuk mendengarkan suara Tuhan, “biara kalian menjadi laksana oase, tempat pria dan wanita dari segala usia, latar belakang, budaya, dan agama dapat menemukan indahnya keheningan dan menemukan kembali diri mereka, rukun dengan ciptaan, seraya memungkinkan Tuhan memulihkan ketertiban hidup mereka,” kata Paus.

Karisma Benediktin yang suka menyambut sesama dengan suka hati, menurut Paus, akan sangat berharga bagi evangelisasi baru, “karena memberi kesempatan kepada kalian untuk menyambut Kristus dalam setiap orang yang datang, seraya membantu mereka yang mencari Tuhan untuk menerima karunia rohani yang Dia miliki bagi kita masing-masing.”

Selain itu, menurut Paus, para Benediktin selalu diakui karena komitmen mereka untuk ekumenisme dan dialog antaragama. “Saya mendorong kalian untuk melanjutkan pekerjaan penting ini bagi Gereja dan bagi dunia, dengan menempatkan keramahan tradisional kalian dalam pelayanannya. Memang, tidak ada pertentangan antara kehidupan kontemplatif dan pelayanan terhadap sesama. Biara-biara Benediktin, baik yang di kota maupun jauh dari kota, adalah tempat-tempat doa dan keramahtamahan. Stabilitas kalian juga penting bagi mereka yang datang mencari kalian. Kristus hadir dalam perjumpaan ini: Ia hadir dalam biarawan, alam peziarah, dalam orang yang membutuhkan,” kata Paus.

Paus juga berterima kasih untuk pelayanan Benediktin di bidang pendidikan dan formasi di Roma dan di banyak bagian dunia. “Para Benediktin dikenal sebagai ‘sekolah melayani Tuhan’. Saya mendorong kalian, agar memberikan kepada para siswa bukan hanya gagasan dan pengetahuan yang diperlukan, tetapi peralatan alat bagi mereka untuk tumbuh dalam kebijaksanaan yang mendorong mereka untuk terus mencari Tuhan dalam hidup mereka, kebijaksanaan yang akan menuntun mereka untuk mempraktikkan saling pengertian, karena kita semua adalah anak-anak Tuhan, saudara dan saudari, dalam dunia yang sangat haus akan perdamaian ini,” kata Paus Fransiskus. (paul c pati)

cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (18)

Tinggalkan Pesan