Home KEGEREJAAN Mgr John Philip Saklil tahbiskan imam-imam diosesan “hasil kebun sendiri”

Mgr John Philip Saklil tahbiskan imam-imam diosesan “hasil kebun sendiri”

0

Tahbisan 1

Di halaman Katedral  Tiga Raja Timika, Papua, hari Sabtu, 7 Oktober 2017, nampak prosesi adat warga Papua dengan pakaian adat masing-masing menari-nari membawa empat orang diakon di atas tandu. Dua dari diakon itu adalah putra sulung dari sukunya yang siap jadi imam pertama.

Keluarga dan masyarakat adat Suku Amungme dan Suku Nduga membawa Diakon Ibrani Gwijangge, orang pertama yang menjadi imam dari suku itu, dari Suku Biak membawa Diakon Yosias Ferdinand Wakris yang juga putra pertama yang menjadi imam dari sukunya yang mayoritas Protestan.

Dua lainnya, Diakon Yance Yanuarius Yogi dan Diakon Selphius Goo dibawa oleh masyarakat dan keluarga dari Suku Mee, Paniai.

Kemudian keluarga-keluarga menyerahkan para diakon kepada Gereja Katolik yang diwakili Uskup Timika Mgr John Philip Saklil di halaman katedral. Kepada uskup, keluarga dari Diakon Yosias menyerahkan Piring Keramik Cina “sebagai tanda penyerahan anak kepada Tuhan.” Piring Keramik Cina biasa digunakan oleh Suku Biak sebagai ‘mahar’ atau emas kawin dari pihak pria kepada pihak wanita.

Tahbisan dilaksanakan hari itu bertepatan dengan Pesta Bunda Maria Ratu Rosario dan HUT ke-7 Konsekrasi Katedral Tiga Raja Timika, Papua. Uskup Timika Mgr John Philip Saklil didampingi Vikjen Pastor Martin Kuayo Pr, Pastor Rekan Katedral Pastor Honoratus Pigai Pr, dan imam-imam konselebran dari seluruh wilayah keuskupan serta para imam Keuskupan Manado, Jayapura, Agats, dan Sorong.

Khotbah Mgr Philip Saklil mengingatkan para diakon yang akan ditahbiskan serta para imam yang hadir dan seluruh umat tentang empat fungsi imam dalam Gereja Katolik, yaitu sebagai murid Kristus “yang menanggapi panggilan Allah secara total dengan meninggalkan keluarga atau adat istiadat demi dan hanya kepada Allah,” sebagai Rasul Kristus “yang menjalani tugas kerasulan untuk melayani orang lain dalam suka maupun dalam kesepian,” sebagai presbiter (menjadi rumah Tuhan) “yang bisa menjadi panutan orang lain,” dan sebagai pelayan sakramen “dengan Sakramen Ekaristi sebagai Jantung Imamat.”

Atas nama teman-temannya, Pastor Yance Yogi mengatakan tahbisan imamat itu diibaratkan seperti honai (rumah adat Papua) dari empat diakon yang ditahbiskan menjadi imam. “Honai pertama untuk Allah Bapa, honai kedua untuk Bapak Uskup, honai ketiga untuk para imam baru, dan honai keempat untuk seluruh umat Keuskupan Timika,” kata imam baru itu.

Keuskupan Timika memiliki umat sebanyak 112.240 yang tinggal di 37 paroki yang terbagi dalam lima dekenat yakni Mimika-Amimuga, Teluk Cenderawasih, Moni Puncak Jaya, Paniai, dan Kamapi. Namun, beberapa paroki belum mempunyai imam tetap, dan beberapa paroki masih dipimpin oleh pastor awam (petugas pastoral paroki baik diakon awam pria atau wanita).

Luas wilayah Keuskupan Timika kurang lebih 81.810 kilometer persegi yang terbentang dari pantai selatan yang berbatasan dengan Laut Arafuru, naik ke bagian barat pegunungan tengah Papua, dan turun ke bagian utara Teluk Cenderawasih yang meliputi Kepulauan Yapen, Biak, dan Supiori, yang berbatasan dengan Samudra Pasifik.

Keuskupan Timika, yang terbentuk tahun 2004 dengan uskup pertama Mgr John yang berkarya dengan motto Parate Viam Domini  (Siapkan Jalan bagi Tuhan), merupakan pemekaran dari Keuskupan Jayapura. Selain imam diosesan yang kini berjumlah 23 orang, imam-imam yang berkarya di keuskupan ini berasal dari Serikat Jesus, OFM, dan SCJ. Tarekat-tarekat suster di keuskupan itu adalah FCH, OSU, AK, DSY, TMM, dan KSFL.

Acara tahbisan juga dimeriahkan oleh drumband SD Seminari Keuskupan Timika. Melihat kehadiran dan partisipasi anak-anak seminari, Uskup John berharap timbul benih-benih panggilan dari masyarakat asli Papua, seperti yang dirayakan hari ini yang digambarkan oleh Mgr John dengan mengatakan “keempat diakon ini adalah hasil kebun sendiri.”(Vincent Budi)

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version

polestoto

lahirtoto

warung403

warung403 login

situs warung403

lahirtoto

LAHIRTOTO

LAHIRTOTO LOGIN

lahirtoto

imgstock

Hosting Gambar

Kasino Online di Tengah Perubahan Kebiasaan Masyarakat Mengakses Informasi Digital

Mengapa Pemahaman tentang Peluang Menjadi Penting dalam Permainan Kasino Digital?

Fenomena Kasino Online dan Tantangan Membedakan Informasi dengan Promosi

Bagaimana Kemudahan Pembayaran Digital Memengaruhi Aktivitas Kasino Online?

Di Balik Popularitas Kasino Digital, Ada Persoalan Literasi yang Jarang Dibahas

Kasino Online dan Perubahan Cara Pengguna Menilai Keamanan Platform Digital

Ketika Hiburan Berbasis Internet Menimbulkan Pertanyaan tentang Batas Pengeluaran

Memahami Pengaruh Pengalaman Menang dan Kalah terhadap Keputusan Pengguna Kasino

Mengapa Perlindungan Identitas Digital Menjadi Perhatian dalam Kasino Online?

Menelusuri Hubungan Antara Perkembangan Kasino Online dan Kesadaran Risiko Pengguna

Mengapa Kasino Online Semakin Sering Dibahas dalam Fenomena Budaya Digital?

Di Balik Tampilan Kasino Digital, Ada Desain yang Memengaruhi Keputusan Pengguna

Kasino Online dan Fenomena Hiburan Instan yang Mengubah Persepsi Risiko

Bagaimana Notifikasi Digital Memengaruhi Kebiasaan Pengguna Kasino Online?

Ketika Transaksi Tanpa Uang Tunai Mengubah Cara Pengguna Melihat Pengeluaran

Mengenali Perbedaan Antara Hiburan Digital dan Perilaku Bermain Berlebihan

Kasino Digital dalam Sorotan: Mengapa Transparansi Sistem Semakin Penting?

Dari Layar Smartphone hingga Media Sosial, Bagaimana Kasino Online Diperkenalkan?

Mengapa Kemenangan Kecil Bisa Memengaruhi Cara Pandang terhadap Kasino Online?

Menelusuri Peran Konten Digital dalam Membentuk Persepsi tentang Kasino Online