Blessed is the one who will dine in the Kingdom of God

PEKAN BIASA XXXI (H)

Santo Willibrordus; Beata Maria Assumta Pallota; Santo Ernestus; Santo Herkulanus; Beata Gratia dari Kotar

Bacaan I: Rm. 12:5-16a
Mazmur: 131:1.2.3
Bacaan Injil: Luk. 14:15-24

Pada waktu itu Yesus diundang makan oleh seorang Farisi. Sementara perjamuan berlangsung, seorang dari tamu-tamu itu berkata kepada Yesus: ”Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.

Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.”

Renungan

Tidak semua orang mengerti apa karunia yang diberikan Allah kepadanya. Boleh jadi, sampai orang menutup mata, ada banyak karunia yang belum disadari, digali, dan dikembangkan. Maka, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ”apa yang sudah kulakukan dengan karunia yang diberikan Allah?” Setiap orang mesti terlebih dahulu sadar akan karunia yang dimiliki.

Dalam Injil hari ini Yesus menceritakan kisah orang yang abai dengan karunianya. Karunia yang dimaksud adalah ”status” orang terpilih untuk diundang ke perjamuan. Para undangan ini malah asyik dengan diri sendiri. Sebagai seorang kristiani, lepas dari semua karunia khusus dan personal yang dimiliki masing-masing orang, kita semua diberi karunia dasar: orang-orang terpilih yang diberkati dan dikasihi Allah, para undangan istimewa Allah. Tetapi Santo Paulus melontarkan pertanyaan, untuk apa dan siapa karunia itu? Seberapa penting maknanya bagi kita?

Karunia mengandaikan tanggung jawab. Maka, merujuk kepada refleksi Santo Paulus, kita dipanggil untuk senantiasa membuka diri dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari kesatuan yang mesti saling menopang dengan orang lain. Kasih membuka gerbang sehingga aneka karunia dapat saling berjumpa dan menyempurnakan kemanusiaan.

Allah maha belas kasih, mampukan aku untuk selalu terbuka kepada sesama dan saling menopang supaya terjadilah kehendak-Mu di atas bumi ini. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan