DSCN7681

“Pesan damai harus dilakukan secara konkret di tengah masyarakat seperti dilakukan oleh pelopor perdamaian, Santo Fransiskus Asisi, dalam kehidupan setiap hari,” kata Pastor Rekan Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading Jakarta dan wakil Katolik dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta.

Pastor Antonius Suyadi Pr berbicara dengan PEN@ Katolik di sela-sela acara pentas seni dan budaya lintas agama yang dilaksanakan di Pendopo Balai Kota DKI Jakarta, 23 September 2017. Acara itu dihadiri Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat serta perwakilan masing-masing agama yakni Katolik, Islam, Protestan, Buddha, Hindu dan Khonghucu, serta sekitar 600 murid PAUD, TK, SD dan SMP mewakili masing-masing agama  di wilayah DKI Jakarta.

Sebagai wakil umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Pastor Suyadi mengatakan akan terus mengupayakan kerja sama untuk membangun persaudaraan sejati melalui kegiatan bersama misalnya lewat dialog, talk show dan festival.

Dijelaskan, di Jakarta juga masih berlangsung program bernama Sekolah Agama dan Bina Damai (SABDA) yang juga didukung oleh Gereja Katolik. Program itu bukan hanya diikuti perwakilan enam agama di DKI tapi juga dari Kalimantan dan Jawa Timur. “Hingga kini program ini telah melahirkan sekitar 3000 orang dalam lima angkatan, yang kini tersebar di DKI dan luar DKI.”

Dari jumlah itu, jelas Pastor Suyadi, sudah ada 280 alumni Katolik yang diharapkan menjadi pelopor damai di tempat masing-masing di tengah masyarakat. “Kita sangat berharap dari SABDA lahirlah  mereka-mereka yang selalu peduli dan bekerja sama demi perdamaian,” kata imam itu.

SABDA adalah program yang diinisasi Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina bersama FKUB Provinsi DKI Jakarta. SABDA I diadakan 8-12 Juni 2015 di Pondok Remaja PGI Cipayung, Bogor. Beberapa kali SABDA angkatan berikutnya dilaksanakan di Wisma Samadi milik KAJ di Duren Sawit, Jakarta Timur.

Selain kerja sama itu, Suyadi mengajak umat di paroki-paroki KAJ untuk selalu mengundang umat lain Islam, Protestan, Buddha, Khonghucu dan Hindu saat melaksanakan pesta Gereja misalnya ulang tahun paroki, Natal, dan Paskah “sehingga kebersamaan itu selalu dipupuk dengan baik.”

Kurang keterbukaan antarumat beragama, menurut imam itu, menjadi faktor penghambat upaya perdamaian di DKI Jakarta. “Kalau Katolik terbuka dan mengajak pihak lain untuk saling menghargai, menghormati, maka kedamaian pasti akan tercapai,” kata Pastor Suyadi.

Sementara itu, Djarot Saiful Hidayat mengajak seluruh peserta pentas seni dan budaya  untuk selalu menjaga kesatuan dan kebersamaan sehingga tercipta kedamaian yang diharapkan. Sedangkan Ketua Matakin Jakarta Barat Liem Liliany Lontoh mengatakan kehidupan yang damai dapat tercipta apabila semua pemeluk agama saling menghormati dan bekerja sama. “Cinta kasih pasti diajarkan semua agama, karena menyadari bahwa semua makhluk di bumi berasal dari Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Kegiatan pentas seni dan budaya itu diisi dengan tari, musik  dan lagu yang dipersembahkan masing-masing perwakilan agama. Tujuannya untuk meneguhkan kebersamaan dan menciptakan perdamaian serta persaudaraan antara siswa-siswi yang berasal dari enam agama. “Kita harapkan lewat perjumpaan ini mereka saling mengenal dan selalu tercipta kedamaian,” kata Ketua FKUB DKI Jakarta, KH Ahmad Syafii Mufid. (Konradus R Mangu)

DSCN7693

Tinggalkan Pesan