Duta
Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi. (Foto Paul C Pati/PEN@ Katolik)

Tanggal 26 April 2017 pukul 12.00 waktu Roma, atau pukul 18.00 WIB, Kantor Pers Tahta Suci memberitakan bahwa Bapa Suci Fransiskus mengangkat sebagai Nuntius Apostolik atau Duta Vatikan untuk Nigeria, Yang Mulia Mgr Antonio Guido Filipazzi, Uskup Agung Titular Sutri, yang kini menjadi Nuntius Apostolik di Indonesia.

Paus Benediktus XVI mengangkat Mgr Antonio Guido Filipazzi menjadi Duta Besar Vatikan untuk Indonesia menggantikan Mgr Leopoldo Girelli, tanggal 23 Maret 2011, di Vatikan. Mgr Antonio lahir di Melzo, Milano, Italia, 8 Oktober 1963, dan ditahbiskan imam 10 Oktober 1987 di Keuskupan Ventimiglia, San Remo, Italia, pada usia 24 tahun.

Mgr Antonio yang fasih berbicara berbicara bahasa Inggris, Jerman, Perancis dan Spanyol itu datang ke Indonesia dan dijemput oleh Ketua KWI (waktu itu) Mgr Martinus Dogma Situmorang OFM Cap dan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo (sekretaris KWI), tanggal 18 Mei 2011.

Laureat untuk Hukum Kanonik ini masuk dalam pelayanan diplomatik Tahta Suci tanggal 1 Juli 1992, dan selanjutnya secara berturut-turut mewakili Tahta Suci di bidang hubungan dengan negara-negara di Sri Lanka dan Austria.

Ia ditahbiskan uskup di Basilika Santo Petrus., Vatikan, tanggal 5 Februari 2011, pada usia 47 tahun. Sebulan kemudian ia ditunjuk menjadi Nuntius Apostolik untuk Indonesia menggantikan Mgr Leopoldo Girelli yang sejak Januari 2011 menjadi Nuntius Apostolik untuk Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Mgr Antonio pernah menjadi Sekretaris Kedutaan Besar Vatikan di Austria (1995-1998), dan kemudian menjadi sekretaris pertama dan penasihat Kedutaan Besar Vatikan di Jerman. Antara tahun 2002 dan 2003, ia mengajar Hukum Kanonik di Seminari Redemptoris Mater di Berlin. Tahun 2003, ia menjadi Nuntiaturat untuk Kuria Romawi hingga 2011 dalam bidang Hubungan Luar Negeri.

Dalam homili Misa Tahbisan Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap di Stadion Baning Sintang, 22 Maret 2017, Mgr Antonio mengingatkan untuk memandang pemilihan uskup dengan kacamata iman. Sayangnya, lanjut Uskup Agung Filipazzi, cara pandang itu “kurang diterapkan di komunitas-komunitas Kristiani, sehingga yang diutamakan adalah cara pandang manusiawi belaka.”

Akibatnya, lanjut Mgr Antonio, umat sering mempersoalkan asal usul dan kelompok etnis uskup terpilih, “apakah uskup itu projo atau biarawan, apa latar belakang studinya, bagaimana pelayanannya selama ini, kelebihan dan kekurangannya baik yang benar maupun yang difitnahkan kepadanya.”

Seharusnya, menurut Mgr Antonio, “uskup dipandang dengan mata Yesus, yakni melalui iman, sambil mengaku bahwa orang itu, dengan segala kekurangannya, adalah Yesus sang gembala yang baik, yang membimbing kita.” Jika pandangan iman seperti itu dimiliki orang Katolik, Uskup Agung Filipazzi yakin, “pasti banyak kesulitan dan perpecahan dapat teratasi, sehingga kita dapat kian bersama bekerja demi Kerajaan Allah.” (paul c pati)

1 komentar

Tinggalkan Pesan