jesus-templo-gente-690x321

PEKAN PRAPASKAH IV (U)

Santo Benyamin

Bacaan I: Keb. 2:1a.12-22

Mazmur: 34:17-18.19-20.21.23; R:19a

Bacaan Injil: Yoh. 7:1-2.10.25-30

Yesus berjalan keliling Galilea; Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. Beberapa orang Yerusalem berkata: ”Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: ”Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.

Renungan

Identitas, khususnya asal-usul Yesus, menjadi bahan pergunjingan di antara penziarah dan penduduk Yerusalem yang sedang merayakan hari raya Pondok Daun. Sekalipun banyak yang menyanjung-Nya sebagai nabi, namun tidak sedikit juga yang membenci-Nya sebab berulang-kali Ia memaklumkan Diri sebagai Anak Allah. Ia dinilai menghujat Allah, ditambah lagi dengan ajaran, cara hidup dan kritik-Nya yang sangat pedas. Rencana keji untuk melenyapkan-Nya sudah tersusun rapi. Maka pandangan dan sikap orang fasik yang ditulis Kebijaksanaan Salomo sungguh tepat dialamatkan kepada-Nya.

Hal ini berlaku pula bagi banyak orang benar yang hidup keimanan dan perilakunya menjadi ancaman bagi orang fasik. Sebagai murid-Nya, kita sering menghadapi aneka tantangan dan pencobaan; kebencian dan ancaman seolah menjadi menu wajib (bdk. Mat. 5:10-11; Luk. 6:22-23; Yoh. 15:18-21; Rm. 10:3; 1Yoh. 3:13). Sikap yang tepat untuk kita tunjukkan adalah berdoa bagi mereka dan tetap setia, percaya akan penyelenggaraan Tuhan dalam hidup kita; sebab, siapa yang bertahan sampai kepada kesudahannya akan selamat (bdk. Mat. 24:13).

Ya Tuhan, iman yang Dikau anugerahkan kepadaku tidak berasal dari dunia, maka sertai aku dengan Roh-Mu agar aku kuat dan setia menjadi murid-Mu di dunia. Semoga aku boleh berbangga karena layak menderita bersama-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan