samuel-oton-sidin3

Hari Rabu, 21 Desember 2016, Vatikan mengumumkan bahwa Paus Fransiskus mengangkat Pastor Samuel Oton Sidin OFMCap sebagai Uskup Sintang dengan luas wilayah 62,193 km2, penduduk sebanyak 979,300 orang, umat Katolik berjumlah 252,400 orang, imam sebanyak 67 orang, dan kaum religius 71 orang. Sintang terletak di Kalimantan Barat dan masuk Propinsi Gerejawi Pontianak.

Keuskupan Sintang pertama dipimpin oleh Prefek Apostolik Pastor Lambertus van Kessel SMM sejak 4 Juni 1948 hingga 23 April 1956, kemudian Vikaris Apostolik Sintang hingga Administrator Apostolik Mgr Lambertus van Kessel SMM sejak 23 April 1956 hingga 25 Mei 1973, Administrator Apostolik Sintang Mgr Lam van de Boom (1973–1976), Uskup Sintang Mgr Isak Doera (9 Desember 1976–1 Januari 1996), Administrator Apostolik Mgr Agustinus Agus (1996–29 Oktober 1999), Uskup Sintang Mgr Agustinus Agus (29 Oktober 1999–3 Juni 2014), Administrator Apostolik Mgr Agustinus Agus (3 Juni 2014).

Uskup terpilih, Pastor Samuel, lahir tahun 12 Desember 1954 di Pontianak. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Nyarumkop, tahun 1977, dia masuk OFMCap dan mengikuti pendidikan di Seminari Antardiosis di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Pengikraran kaul kekal sebagai OFMCap dilaksanakan 18 Juli 1982 dan ditahbiskan imam 1 Juli 1984.

Setelah tahbisan imam, Pastor Samuel menjalankan tugas Pastor Rekan di Nyarumkop (1984-1985) kemudian Studi Spiritualitas di Universitas Antonianum, Roma (1985-1990). Imam itu kemudian dipercayakan sebagai Wakil Magister di Novisiat OFMCap (1990-1993) dan menjadi Magister Novisiat (1993-1997), bahkan Minister Provinsi OFMCap Pontianak (1997-2003).

Imam itu pernah menjadi Direktur Rumah “Rumah Pelangi” yang bergerak di bidang konservasi hutan (2003-2008), sebelum kembali lagi menjadi Minister Provinsi OFM Cap Pontianak (2009-2012). Sejak 2012 hingga saat pengangkatan sebagai Uskup Sintang, imam itu bertugas sebagai Pastor Paroki Santo Fransiskus Tebet, Jakarta.

“Rumah Pelangi” terinspirasi kisah Nabi Nuh, yang setelah keluar dari Bahtera Nabi Nuh menyaksikan pelangi terbentang di langit dan tidak akan pernah ada lagi bencana menimpa manusia. Pelangi juga adalah simbol kerukunan universal antara umat manusia, alam, dan Sang Pencipta. “Rumah Pelangi” dipilih untuk mengingatkan keinginan hidup berdampingan selalu satu sama lain.

Hari ini, 5 Juni 2012, tulis media saat itu, pada Hari Lingkungan Hidup se-Dunia presiden menyerahkan penghargaan Kalpataru kepada Pastor Samuel dari “Rumah Pelang” di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, sekitar 60 kilometer arah Timur Kota Pontianak. Imam itu terpilih untuk Kategori Pembina Lingkungan, karena telah melakukan berbagai hal.

“Rumah Pelangi”  di kawasan yang dikenal dengan sebutan Bukit Tunggal berdiri karena kegelisahan Ordo Kapusin Pontianak. Mereka gelisah dengan pembalakan liar dan laju pembangunan di sektor perkebunan kelapa sawit. Ancaman paling besar kala itu adalah sumber utama pasokan air. Maka, langkah konkret yang dilakukan ordo adalah penyelamatan lingkungan. Di tempat itu juga terdapat sumber mata air bagi kebutuhan warga di sekitarnya.

Pastor Samuel pun menanam kembali lahan kritis yang pernah terbakar, melestarikan jenis-jenis buah, khususnya yang asli Kalimantan, dan jenis-jenis kayu khas Kalimantan, dengan mencari bibit dari berbagai tempat dan menanamnya pada lahan tersedia, membuat pembibitan jenis tanaman langka (kayu-kayuan, bambu, buah-buahan dan rotan), mendirikan “Komunitas Centre” untuk pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan sosialisasi tenteng pelestarian alam.

Pastor Samuel juga membuat konservasi keanekaragaman hayati areal hutan yang produktif, baik yang berupa rawa-rawa pada tanah datar maupun tanah perbukitan, menyiapkan bibit entrys karet untuk masyarakat sekitar, menciptakan arboretum/museum lingkungan hidup yang berfungsi sebagai tempat praktek lapangan, penelitian dan lapangan kerja baru bagi pecinta dan pemerhati lingkungan, dan melakukan penangkaran fauna langka jenis landak.

Hari Studi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2012 tentang Eko Pastoral, 5-7 November 2012, dengan tema “Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan” yang membicarakan tulisan Prof Dr Emil Salim berjudul “Refleksi: Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan,” juga menampilkan Pastor Samuel pembawa makalah berjudul “Sejauh ini Allah Hanya Menciptakan Satu Bumi.”

Imam itu melihat, sampai sekarang bumilah satu-satunya tempat tinggal manusia. “Namun saat ini bumi mengalami pertumbuhan penduduk yang begitu pesat. Penduduk bumi sudah melampaui angka 7 milyar. Selain itu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kadang merusak sumber daya alam.”

Mengatasi krisis ekologia, imam itu mengharapkan Gereja merancang dan melaksanakan program kelestarian lingkungan sesuai dengan pesan Kitab Suci serta ikut meningkatkan dan mengawasi pembangunan yang merusak lingkungan.

“Semua bertanggung jawab karena bumi adalah satu-satunya tempat tinggal semua manusia. Sebagai orang Kristen segala ciptaan berasal dari Tuhan dan manusia bertanggung jawab memelihara bumi sesuai kehendak Sang Pencipta. Kuasa manusia itu dibatasi tanggung jawab terhadap Sang Pencipta, maka tidak bisa semena-mena,” tegas imam itu.

Menurut imam itu, berbagai pendekatan dengan para pengusaha dan penguasa, pendekatan terhadap masyarakat umum, masyarakat adat, dan semua pihak untuk menyadarkan tanggung jawab ekologis bersama adalah “penting.”

Ketika menerima pernyataan resmi dari Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta Pastor Adi Prasojo Pr bahwa “hari ini Rabu, 21 Desember 2016,” secara resmi Paus Fransiskus menunjuk Pastor Samuel menjadi Uskup Keuskupan Sintang,” maka halaman Facebook Paroki Asisi Tebet hanya menulis “Selamat bertugas sebagai Uskup Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat.”(paul c pati)

samuel-oton-sidin

samuel-oton-sidin2

samuel-oton-sidin4

Tinggalkan Pesan