anak-muda-naim-hidup-kembali

PEKAN BIASA XXIV (P)
Santo Yohanes Krisostomus

Bacaan I: 1Kor. 12:12-14.27-31a

Mazmur: 100:2-5; R:3c

Bacaan Injil: Luk. 7:11-17

Pada suatu ketika Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: ”Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: ”Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: ”Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan ”Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya

Renungan

Sudah lazim, dalam rangka menyelenggarakan suatu acara/kegiatan dibentuklah suatu panitia acara. Dalam panitia itu terhimpunlah sejumlah orang yang dibagi-bagi dalam berbagai bidang sesuai dengan kemampuan dan kompetensi orang tersebut. Demikian pun halnya dengan komunitas Gereja kita. Paulus menggambarkan Gereja sebagai persekutuan orang yang masing-masing memiliki karunia. Karunia itu dianugerahkan Allah dan dimaksudkan untuk membangun Gereja sebagai persekutuan orang-orang dengan berbagai karunia, tetapi dalam satu Tubuh dan satu Roh. Kesatuan dalam satu Tubuh dan satu Roh menjadi daya pengikat dari anggota yang berbeda-beda peran dan tanggung jawab karena perbedaan karunia yang dianugerahkan Allah.

Yesus menampilkan diri-Nya sebagai seorang yang dikaruniai kuasa untuk menyembuhkan dan menghidupkan orang. Yesus, tergerak oleh belas kasih-Nya, menyatakan kuasa untuk menghidupkan anak tunggal seorang ibu. Demikian Yesus meneladankan kepada kita bahwa karunia yang diberikan oleh Allah hendaknya kita gunakan dan manfaatkan demi keselamatan orang lain dan diberikan karena belas kasih/cinta kasih.

Yakinlah bahwa Allah telah memberikan kepada kita berbagai karunia lewat pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan. Tergerakkah kita untuk mempersembahkan dengan penuh kasih karunia yang ada pada kita demi keselamatan orang lain?

Ya Tuhan, aku senantiasa bersyukur atas karunia yang Kauanugerahkan; oleh Roh-Mu, mampukanlah aku untuk menggunakannya demi kesatuan Gereja dan keselamatan sesama. Amin.

Tinggalkan Pesan