anak-hilang

PEKAN BIASA XXIV (H)
Santo Protus dan Hyasintus;
Beato Yohanes Gabriel Perboyre, Martir.

Bacaan I: Kel. 32:7-11.13-14

Mazmur: 51:3-4.12-13.17.19; R:Luk 15:18

Bacaan II: 1Tim. 1:12-17

Bacaan Injil: Luk. 15:1-32 (Luk. 15:1-10)

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: ”Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: ”Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jika­lau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak mening­galkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kute­mukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. Atau perempuan manakah yang mempunyai sepu­luh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersu­kacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”

Renungan

Salah satu faktor penyebab perceraian adalah ketidakmampuan orang untuk memaafkan dan menerima kembali pasangan yang telah berkhianat. Kita sadar bahwa sebagai manusia kita gampang jatuh dalam dosa dan kita ingin dimaafkan, tetapi di sisi lain kita begitu sulit untuk memaafkan orang lain. Keputusan kita untuk mengakui kesalahan dan memberi maaf amat berpengaruh pada pola relasi kita dengan yang lain.

Perumpamaan tentang dirham, apalagi anak yang hilang, mengajarkan banyak hal untuk menata relasi antarmanusia. Dirham dan anak yang hilang, dipandang dan diperlakukan sebagai sesuatu/seorang yang berharga dan karena itu dicari dan dinantikan kembalinya. Karena berharganya sesuatu/seseorang itu, maka ketika diketemukan kembali akan ada sukacita yang besar bagi pemiliknya. Betapa besar sukacita seorang bapa ketika anaknya kembali. Yesus mengajarkan betapa besar sukacita Bapa ketika anak-anaknya, yang tersesat dan menjauh dari-Nya, kemudian bertobat dan kembali kepada Bapa. Allah yang mengampuni dinyatakan juga dalam kisah bangsa Israel dalam bacaan pertama. Allah, karena teringat akan janji-janji-Nya, menyesal dan membatalkan rencana malapetaka yang dirancang-Nya atas umat-Nya yang tidak setia.

Sudah berapa kali kita jatuh dalam dosa dan mengharapkan pengampunan Allah? Berapa kali juga kita rela mengampuni orang yang bersalah kepada kita? Adalah bijak kalau kita ingin diampuni maka kita juga suka/rela mengampuni. Dengan demikian, hidup ini terasa indah dan penuh sukacita.

Ya Tuhan, semoga aku rela memaafkan mereka yang menyakiti hatiku dan menyusahkan aku. Semoga kelak aku kembali kepada-Mu dengan sukacita. Amin.

Tinggalkan Pesan