Yesus-Mengutus-Muridnya

PEKAN BIASA XIV (H)
Santo Odo, Abas

Bacaan I: Hos. 11:1b.3-4.8c-9

Mazmur: 80:2ac.3b.15-16; R:4b

Bacaan Injil: Mat. 10:7-15

Pada waktu itu Yesus bersabda kepada kedua belas murid-Nya: ”Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”

Renungan

Jika kecewa dan marah, umumnya kita ngambek (mutung). Beda dengan Allah. Allah itu berbalik dari murka-Nya, tidak ngambek. Walaupun marah kepada bangsa Israel yang tidak setia, Allah tetap ingat akan janji-Nya, akan kasih setia-Nya. Dia mengampuni mereka.

Kita juga pernah berdosa. Tuhan pun mengampuni dosa kita. Kita menerima kasih pengampunan Allah itu dengan cuma-cuma. Kita pun diajak bersikap demikian. Jika ada orang yang bersalah kepada kita, kita mau juga mengampuninya dengan cuma-cuma, tanpa syarat-syarat. Umumnya, kita mudah membuat syarat: jika kamu tidak berbuat demikian lagi, jika kamu bayar utangmu dulu, jika kamu datang minta maaf dulu kepada saya, dsb. Sesudah syarat dipenuhi, barulah kita maafkan.

Sebenarnya, jika kita tidak mau mengampuni, kita tidak hanya melanggar cinta kasih Allah, tetapi kita juga pelan-pelan kita memupuk penyakit di dalam diri sendiri. Dari sakit hati, lama kelamaan menjadi sakit fisik, bahkan bisa menderita kanker. Itulah yang pernah terjadi pada seorang ibu yang sakit kanker karena tidak bisa memaafkan. Menurut dokter, 70% sakit fisik berakar dari sakit batin. Maka marilah kita saling memaafkan, saling mengampuni, dan saling menyembuhkan luka-luka batin kita. Jika demikian, kita akan sehat jasmani dan rohani.

Ya Tuhan, semoga aku tidak kikir dalam memberi maaf dan tidak ada tuntutan dalam memaafkan orang. Amin.

 

Tinggalkan Pesan