Lukas 7 11 sampai 17

PEKAN BIASA X (H)
Peringatan Wajib Santo Bonifasius;
Santo Ferninandus Constante

Bacaan I: 1Raj. 17:17-24

Mazmur: 30:2. 4. 5-6. 11. 12a. 13b; R:2a.

Bacaan II: Gal. 1:11-19

Bacaan Inji l: Luk. 7:11-17

Sekali peristiwa Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: ”Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: ”Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: ”Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan ”Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Renungan

Kematian selalu dirasakan sebagai sebuah kehilangan yang besar dan paling mendasar. Terlebih jika orang yang mati itu adalah orang yang amat dikasihi dan menjadi tumpuan dan penopang hidup. Apalagi kalau dia adalah anak atau saudara satu-satunya. Hidup akan semakin merana. Sebab, kepergiannya tak tergantikan oleh orang atau sesuatu yang lain. Semuanya akan terasa sia-sia dan orang akan bertanya untuk apa lagi ia hidup jika kita kehilangan orang yang paling dikasihi. Paling kurang inilah yang dialami oleh janda di Nain ketika Ia kehilangan putra tunggalnya. Status janda tentu sudah menjadi beban tersendiri baginya. Dapat dibayangkan bagaimana perasaannya ketika putra satu-satunya itu juga justru harus pergi selamanya. Hidup menjadi pesimis dan buram: Tak punya alasan lagi untuk hidup.

Di tengah situasi itu, Tuhan Yesus hadir di Nain. Ia menghentikan rombongan duka dan membangkitkan si pemuda yang akan segera dimasukkan ke liang kubur. Dapat dibayangkan perasaan si janda ketika Yesus datang mengubah air mata dukacita itu menjadi air mata sukacita. Harapan pun kembali ditemukan. Betapa Allah senantiasa melawat umat-Nya.

Sebagaimana si janda, sering kali kita juga mengalami kehilangan harapan, semangat, dan bahkan sampai merasa bosan untuk hidup. Berhadapan dengan situasi ini, cukup sering kita mengadalkan kekuatan manusiawi kita, bahkan tak jarang pula menggunakan kuasa kegelapan, seperti praktik perdukunan, untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang instan. Kita sering kali lupa akan Tuhan, karena merasa Tuhan tidak pernah berpihak pada kita atau memang karena kita tidak pernah mengundang Tuhan ke dalam hidup kita pribadi. Persoalan kita adalah kita sering kali tidak sabar dan tidak menunggu waktunya Tuhan. Injil hari ini mengajarkan kita, bahwa Tuhan senantiasa datang pada saat yang tepat, asalkan kita punya iman dan hati untuk mempercayakan diri kepada-Nya dan menunggu waktunya Tuhan.

Ya Tuhan, semoga aku pun senantiasa setia, sabar, berkanjang serta memiliki pengharapan yang teguh akan janji keselamatan-Mu dalam setiap masalah dan penderitaan yang kuhadapi. Amin.

Tinggalkan Pesan