Ungaran (3)

Meski Natal sudah berlalu, namun warga Ungaran, Jawa Tengah, masih  mengenang penghijauan di kawasan embung Desa Lerep, Ungaran Barat, yang dilakukan panitia perayaan Natal Kota Ungaran yang menggandeng pemuda-pemudi lintas agama, tokoh-tokoh lintas agama dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Semarang dan masyarakat Desa Lerep.

Embung adalah cekungan pengatur dan penampung suplai air hujan untuk menjaga kualitas air tanah dan mencegah banjir serta untuk pengairan di musim kemarau.

Menurut Ketua Panitia Perayaan Natal Kota Ungaran, Pendeta Natanael Didik, acara penghijauan yang sederhana tanggal 20 Desember 2015 itu sebenarnya dipersiapkan dengan sangat singkat. “Suatu program sederhana, tapi bisa melibatkan pemuda lintas agama. Tidak terlalu dipersiapkan lama,” kata pendeta itu.

Rombongan pemuda-pemudi lintas agama bersama para tokoh agama berkumpul di pelataran Gereja Katolik Kristus Raja Ungaran. Dari situ mereka berangkat beriringan, ada yang mengendarai sepeda motor, ada pula yang berombongan naik mobil menuju Desa Lerep, yang terletak di lereng pegunungan Ungaran.

Setelah sampai di kawasan embung, sejumlah warga desa sudah menunggu dengan berbagai peralatan pertanian seperti cangkul dan sabit. Ketika bibit tanaman jati, akasia, cengkeh, dan sengon tiba, pemuda-pemudi lintas agama bekerja sama dengan para tokoh agama dan masyarakat setempat menurunkan bibit-bibit tersebut dari mobil ke lokasi.

Prosesi penghijauan diawali dengan sambutan ketua FKUB Kabupaten Semarang dan doa bersama. Ketua FKUB Kabupaten Semarang Sinwani mengatakan, kegiatan penghijauan itu dilaksanakan sebagai cara untuk menumbuhkan semangat bhinneka tunggal ika pemuda lintas agama. “Kita tumbuhkan kecintaan tanah air, dengan mengadakan penghijauan,” katanya.

Sinwani mengajak pemuda-pemudi supaya belajar pada pohon yang bisa menyerap air di kala hujan sehingga tidak menimbulkan bencana. Demikian juga pada saat kemarau, pohon rindang bisa memberi keteduhan dari terik matahari dan akan memancarkan air di bawahnya.

“Jadi kita sebagai umat beragama, khususnya pemuda lintas iman ini, mudah-mudahan bisa bersemangat seperti halnya contoh yang diberikan oleh pohon rindang itu, yang nantinya akan membawa kesejukan di tanah air Republik Indonesia ini, sehingga yang menjadi cita-cita guru bangsa kita untuk menjadikan Bangsa Indonesia yang merdeka, sejahtera lahir dan batin, bisa tercapai dan untuk kesejahteraan masyarakat di Indonesia, khususnya di Kabupaten Semarang,” katanya.

Sekretaris Panitia Natal Paulus Subarto mengatakan, penghijauan merupakan kegiatan yang baik, terlebih bisa menjalin kerja sama yang bagus antarumat beragama. Penghijauan menurutnya juga merupakan upaya membantu pemerintah dalam melestarikan air. “Lerep adalah daerah yang memberikan air ke daerah Ungaran. Kalau di sini pohonnya banyak, otomatis sumber airnya juga bagus,” katanya.

Delegatus Komisi Hubungan Antaragama Keuskupan Agung Semarang sekaligus wakil ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan, penghijauan itu bisa dimaknai sebagai upaya memberikan keamanan akan air. Dengan penghijauan itu, imam itu berharap agar air bisa disimpan dengan aman sehingga tidak menimbulkan banjir di kawasan lebih bawah seperti daerah Semarang.

“Maka, simbol peradaban kasih yang sejahtera, bermartabat dan beriman dimulai dari sini. Kita kerjakan melalui lintas agama, enam agama ada di sini melindungi tempat-tempat ibadat yang ada di Semarang seperti Masjid Agung, Katedral, Kelenteng Tay Kak Sie, Pura Girinatha. Semua terjaga dari sini dari sisi keamanan,” kata imam itu.

Pelaksana Teknis Pertanian Desa Lerep, Subardi, menyambut positif program itu. Dia berharap agar kegiatan serupa bisa dilakukan dalam waktu-waktu mendatang.

Meski gerimis turun, para pemuda-pemudi lintas agama, tokoh lintas agama dan warga setempat mengambil bibit-bibit tanaman itu dan menanamnya di lubang-lubang tanah yang mereka buat dengan cangkul.(Lukas Awi Tristanto)

Ungaran (7)

Ungaran (2)

Ungaran (6)

1 komentar

Tinggalkan Pesan