laici-in-basilica-lateranense

PEKAN BIASA XXXII
Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran (P);

Santo Teodorus Tiro, Martir

Bacaan I: Yeh. 47:1-2.8-9.12

Mazmur: 46:1-3.5-6.8-9; R:5

Bacaan Injil: Yoh. 2:13-22 

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ”Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”  Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: ”Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: ”Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: ”Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?”  Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

Renungan

Rumah Allah, apa pun nama dan bentuknya, adalah tempat dimana manusia dapat secara khusus menunjukkan rasa bakti dirinya di hadapan Sang Ilahi. Manusia merasakan kuasa kasih, kerahiman dan pengampunan Ilahi memancar dan mengalir melalui tanda dan simbol yang ada dan terjadi dalam Rumah Allah. Bahkan, perjanjian antara Allah dan manusia dibarui dalam tata peribadatannya.

Oleh karena itu, dapat dimengerti kalau Yesus marah pada saat melihat orang-orang mengotori bait Allah dengan urusan jual-beli. Ia melihat bahwa mereka datang ke bait Allah bukan semata-mata demi urusan Ilahi, malah demi keuntungan diri sendiri. Mereka memanfaatkan nama Allah untuk membenarkan kejahatan mereka.

Tak jarang kita pun ke gereja dengan harapan agar Tuhan mendengarkan doa dan mengabulkan permohonan pribadi melulu. Kita sering kali lupa untuk lebih berani membuka hati kepada kerahiman dan kehendak Allah yang akan membuahkan damai sejahtera.

Tuhan, aku sadar bahwa dunia ini tidak akan pernah memuaskanku. Aku masih sering merasakan ‘kehausan’. Hanya Engkaulah yang dapat memuaskan dahagaku. Amin. 

 

Tinggalkan Pesan