5-Okt-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XXVII (H)

Beato Eugenius Bossilkoff; Santa Anna Maria Gallo;
Beato Alberetus Marvalli; Beato Raymundus dari Kapua

Bacaan I: Yun. 1:1-17; 2:10

Mazmur: Yun. 2:2-4.7; R:7c

Bacaan Injil: Luk. 10:25-37

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ”Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: ”Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya: ”Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: ”Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: ”Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: ”Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: ”Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Renungan

Tak kenal maka tak sayang. Jangankan disayang, orang yang tak dikenal, disapa pun sering tidak. Dalam perjalanan yang berjam-jam pun dengan bus, kereta atau pesawat, orang bisa berdiam diri dan saling membisu. Tentu tidak semua demikian.

Yunus diutus ke Niniwe. Apa yang dibuatnya? Jangankan bergegas pergi menjumpai mereka, ia bahkan mencari jalan ke tempat lain. Demikian pula orang seorang imam dan seorang Lewi yang lewat begitu saja dan bahkan mencari jalan lain ketika melihat seorang asing yang sedang sekarat. Mereka semua memperlihatkan sikap yang sama bahwa ‘orang asing tidak perlu diladeni apalagi dilayani’, ‘orang asing itu lebih baik mati saja daripada saya susah-susah, mencemari diri sendiri dan akhirnya urusan saya malah terbengkalai’. Berbeda dengan mereka, ada orang Samaria yang mau mendekati, merawat luka-lukanya, menghantar ke tempat perawatan yang lebih baik dan bahkan menjamin semua ongkos perawatannya. Orang Samaria memperlakukan orang asing itu sebagai ‘sesama’. Yesus mengajarkan supaya kita bersikap sebagai sesama bagi siapa saja yang kita jumpai di tengah jalan penziarahan hidup kita.

Ya Tuhan, mestinya aku bersyukur bahwa Kauhadirkan begitu banyak orang di tengah-tengah hidupku; semoga aku bersikap dan memperlakukan mereka sebagai sesama. Amin.

 

Tinggalkan Pesan