16-Sept-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XXIV (H)

Perkngatan Wajib Santo Cornelius dan Santo Siprianus (M)
Santa Eufemia

Bacaan I: 1Tim. 3:14-16

Mazmur: 111:1-6; R:2a

Bacaan Injil: Luk. 7:31-35

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak : ”Dengan apakah akan Ku­umpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”

Renungan

Suatu ketika seorang Pastor mengunjungi seorang bapak yang sudah 10 tahun tidak mau lagi datang ke Gereja. Secara ekonomi sukses, namun dia tidak lagi mau percaya bahwa Tuhan ada dan berperan di dalam hidupnya. Dalam kunjungan itu, Pastor mengalami kegagalan karena dia mempertegas bahwa yang menjadi pegangannya saat ini adalah keberhasilan ekonominya. Itulah sumber kebahagiaannya. Peristiwa tidak berhenti di situ. Ternyata anaknya terkena penyakit demam berdarah dan dalam keadaan darurat kritis di ICU. Singkat kata, ia kemudian memohon Pastor untuk datang mendoakan anaknya. Barulah kemudian ia mulai kembali datang ke Gereja sesudah anaknya sembuh.

Bacaan hari ini mengajak kita merenungkan soal kebebalan hati kita terhadap undangan Tuhan untuk mendekat pada-Nya. Tuhan senantiasa mengundang, namun kadangkala kita menutup diri dengan berbagai alasan. Salah satu alasan utama adalah karena kita lebih memilih tetap berada pada kedosaan dan tidak mau berubah. Keadaan lama kita yang penuh dosa itu terasa nikmat dan menyenangkan sehingga kita tidak lagi menyadari diri tengah hidup dalam lumpur dosa.

Persis itulah yang diungkapkan oleh Injil hari ini. Walaupun Yohanes dan Yesus sudah menawarkan pewartaan Kerajaan Allah, namun orang-orang yang mendengarnya tetap menutup telinga dan bebal hati.

Bagaimana dengan kita sendiri? Barangkali hati kita juga sering kali tertutup mendengar nasihat orang lain yang sebenarnya berguna bagi keselamatan diri kita sendiri. Kita perlu membuka hati dan pikiran kita akan tawaran keselamatan dari Tuhan sendiri melalui sesama dan lingkungan sekitar kita.

Ya Bapa, bukalah hatiku dari segala macam kebebalan hati terhadap undangan-Mu. Amin. 

 

Tinggalkan Pesan