4-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA IX (H)
Santo Fransiskus Caracciolo; Santo Kuirinus;
Beato Yakobus dari Viterbo; Santo Petrus dari Verona

Bacaan I: Tob. 6:10-11; 7:1.6.8-13; 8:1.5-9

Mazmur: 128:1-2.3.4-5; R:1a

Bacaan Injil: Mrk. 12:28b-34

Pada suatu hari, seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: ”Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: ”Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: ”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan

Perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi serta mengasihi manusia seperti diri sendiri sebetulnya sudah ada dalam Perjanjian Lama. Bagian pertama perintah itu yakni mengasihi Allah berasal dari Kitab Ulangan 6:4-5. Sedangkan bagian kedua yakni mengasihi sesama manusia berasal dari Kitab Imamat 19:18. Apakah kekhasan dari cinta kasih yang diwartakan Yesus itu? Ada dua kekhasan-Nya, yakni cinta itu tanpa syarat dan melampaui sekat-sekat primordial.

Mencintai orang-orang baik tidaklah terlalu sulit. Tetapi mencintai orang-orang jahat tidak terlalu gampang. Mencintai sesama anggota keluarga, suku, atau pemeluk agama mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi mencintai orang lain yang bukan anggota keluarga, suku atau agama tidak terlalu mudah. Injil hari ini menantang kita untuk mencintai orang-orang lain tanpa syarat dan tanpa membeda-bedakan. Soalnya, kalau kita hanya mencintai orang-orang yang mencintai kita, apakah bedanya? Orang yang tidak beragama pun berbuat demikian. Sebab itu kita dituntut untuk menjadi sempurna dalam cinta kasih, sama seperti Bapa di surga sempurna adanya.

Tuhan, mampukanlah aku untuk mencintai Engkau dengan segenap kemampuanku dan mencintai sesamaku tanpa pilih kasih. Amin.

 

Tinggalkan Pesan