Paus dan anak-anak3

Anak-anak memiliki kesempatan seumur hidup saat ini untuk mengajukan pertanyaan apa saja yang mereka inginkan kepada Paus Fransiskus. Diperkirakan 7.000 anak berkumpul di Ruang Audiensi Paulus VI. Program itu disponsori oleh Fabbrica della Pace (Pabrik Perdamaian), organisasi yang mempromosikan prakarsa-prakarsa perdamaian serta pemahaman lintas budaya melalui pendidikan.

Bapa Suci menyambut anak-anak yang hadir seraya berterima kepada mereka untuk pertanyaan-pertanyaan yang mereka kirim sebelumnya.

Seorang gadis kecil, Chiara, yang mengatakan banyak berdebat dengan saudara perempuannya, bertanya kepada Paus apakah ia pernah berdebat dengan anggota-anggota keluarganya. Pertanyaan itu, kata Bapa Suci, bisa terkait dengan setiap orang yang hadir.

Meskipun selalu muncul argumen, kata Paus, apa yang paling penting ada rekonsiliasi. “Ini bisa terjadi. Jangan biarkan argumen-argumen bertahan hingga hari berikutnya. Ini jelek! Jangan mengakhiri hari tanpa membuat perdamaian,” kata Paus.

“Saya pun banyak kali berdebat, sekarang juga … Kepala saya sedikit panas, namun saya selalu berusaha berdamai. Berdebat itu manusiawi. Yang penting jangan disimpan, yang penting berdamai sesudahnya. Mengerti?”

Anak-anak lain bertanya kepada Bapa Suci apakah dia lelah berada di sekitar begitu banyak orang dan apakah dia ingin “sedikit damai (tenang).” Paus menjawab: “Berkali-kali saya menginginkan sedikit ketenangan (kedamaian), untuk beristirahat sedikit lebih lama. Ini benar. Namun berada bersama orang-orang tidak menghapus kedamaian saya.”

“Yang menghapus kedamaian adalah cemburu, iri hati, keserakahan. Namun, berada bersama orang-orang itu indah, tidak menghapus kedamaian! Bisa sedikit lelah karena orang bisa lelah, saya bukan orang muda …..Tetapi itu tidak menghapus kedamaian.”

Pertanyaan lebih serius tentang perang, pengampunan, hukuman penjara bagi remaja, dan iman. Mengenai pertanyaan seorang pelajar Mesir yang bertanya mengapa orang berkuasa tidak berbuat lebih banyak untuk membantu sekolah-sekolah di daerah-daerah konflik, Paus berusia 78 tahun itu mengatakan bahwa ada juga pertanyaan yang lebih besar: Mengapa begitu banyak orang yang berkuasa tidak menginginkan perdamaian?

“Mereka hidup dari peperangan! Industri senjata: ini serius! Yang berkuasa, beberapa orang yang berkuasa, menghasilkan uang lewat pabrik senjata, dan menjual senjata ke negara yang bertentangan dengan negara ini, dan kemudian mereka menjualnya kepada yang bertentangan dengan negara itu  …! Itu industri kematian!” seru Paus.

“Seorang imam tua yang saya kenal beberapa tahun lalu mengatakan: Iblis masuk melalui dompet. Karena keserakahan,” lanjut Paus.

Ketika ditanya apakah seseorang yang melakukan “hal-hal mengerikan” bisa diampuni, Paus menjawab: “Allah mengampuni segalanya! Paham? Kitalah yang tidak tahu cara mengampuni.”

“Lebih mudah mengisi penjara daripada membantu mereka yang telah membuat kesalahan untuk maju,” lanjut Paus. “Jalan paling mudah? Masuk penjara. Dan tidak ada pengampunan. Dan apa artinya pengampunan? Engkau jatuh? Bangun! Aku akan membantumu untuk bangun, untuk memasukkan kembali dirimu ke dalam masyarakat. Selalu ada pengampunan dan kita harus belajar memaafkan.”

Melanjutkan diskusi tentang hukuman penjara, seorang tahanan muda dari pusat penahanan Casal del Marmo bertanya apakah Paus setuju bahwa penjara merupakan tanggapan yang tepat untuk pemuda bermasalah seperti dia.

“Tidak, saya tidak setuju. Saya ulangi apa yang saya katakan: (penjara) untuk membantu bangun, untuk memasukkan kembali [ke dalam masyarakat] dengan pendidikan, dengan cinta, dengan kedekatan. Tapi solusi dari penjara-penjara adalah bahwa yang paling nyaman melupakan mereka yang menderita!”

Paus mendorong kaum muda untuk tidak menghakimi mereka yang dipenjara tetapi membantu mereka yang telah melakukan kesalahan untuk masuk kembali ke dalam masyarakat.

Menutup sambutannya, Paus Fransiskus sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada anak-anak atas pertanyaan-pertanyaan mereka, seraya meminta mereka untuk berdoa baginya.

“Dan upayakanlah perdamaian! Mengerti?” kata Paus seraya mendorong mereka mengulangi sebuah kalimat terkenal: “Di mana tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian.” (pcp berdasarkan laporan Junno Arocho Esteves dari Zenit.org)

Paus dan anak-anak2

Tinggalkan Pesan