Mgr Anton

Dengan kesediaan dan kesetiaan diutus oleh Paus, Sang Gembala Gereja Universal, ketika dipanggil tanggal 24 Mei 2014 oleh Duta Vatikan untuk Indonesia, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC yang sedang melaksanakan visitasi di Medan dan Tebing Tinggi kembali ke Jakarta.

“Nuncio mengucapkan selamat datang dan bertanya tentang keadaan di Medan. Dua menit kemudian menanyakan minum apa, dan lalu mengatakan bahwa Sri Paus telah menunjuk Saudara sebagai Uskup Baru Bandung. Saya tidak dapat berkata apa-apa, karena tidak ada pengantar. Jadi tidak ada persiapan apapun. Tidak ada kata-kata yang menggiring ke sana,” cerita imam itu saat bertemu Mgr Antonio Guido Filipazzi.

Lalu Mgr Anton menjawab, “I am a servant of the church. When the Church needs me, I will make myself available. Whatever the Holy Pope asks me to do something, I will do” (Aku ini adalah hamba Gereja. Kalau Gereja membutuhkan saya, saya akan menyiapkan diri. Apa pun yang Paus minta aku kerjakan akan saya lakukan). Setelah itu, imam itu tidak berbicara apapun.

Lalu Nuncio mengangkat telepon, rupanya berbicara dengan Mgr Suharyo, dan berkata, “Yang Mulia kita sungguh memiliki Uskup Bandung.” Mgr Anton pun kaget. “Biasanya disuruh berenung atau berdoa tujuh hari.” Penetapan dan pengumuman Paus tentang pengangkatan Mgr Anton sebagai Uskup Bandung dilakukan tanggal 3 Juni 2014.

Mgr Anton menjelaskan lambang atau logo, yang akan menjadi visi pastoralnya setelah ditahbiskan uskup tanggal 25 Agustus 2014, kepada semua pastor paroki, pimpinan komisi keuskupan, pimpinan Dewan Pastoral Paroki, lembaga, organisasi dan kelompok kategorial se-Keuskupan Bandung yang berkumpul di Lembang untuk Temu Pastoral Tengah Tahun tanggal 27-28 Juni 2014.

Berdasarkan gagasannya, lambang itu dibuat oleh Pastor Christophorus Harimanto Suryanugraha OSC dan penyempurnaan teknis-grafis oleh Steven Brahma di hari Pentakosta, 8 Juni 2014. Secara keseluruhan, lambang itu menceritakan Perjamuan Malam Terakhir saat Yesus bersabda: “Aku memberi perintah baru kepada kamu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13: 34). Perintah ini diulangi Yesus dalam amanat perpisahan-Nya (Yoh 15: 12).

Semangat Ekaristi yang merupakan sumber dan puncak hidup Kristiani, kata Mgr Agus, akan menjiwai tugas penggembalaan Uskup Bandung di tanah Parahyangan. “Dengan busana ungu, tongkat gembala, dan topi galero bertali, Uskup Bandung yang berasal dari Ordo Salib Suci ini hendak mewujudkan tugas pastoralnya dalam kesetiaannya kepada Gereja Universal, di bawah pimpinan Sri Paus sebagai Gembalanya.”

Keuskupan Bandung, menurut Prior Provinsial OSC Provinsi Sang Kristus Indonesia yang lahir di Bandung tanggal 14 Februari 1968, adalah suatu “komunitas dinamis dari beragam budaya dan beraneka talenta bagai enam tangan warna-warni: ada yang merangkul, berbagi, dan ada pula yang terbuka menerima. Komunitas yang terus menyempurnakan diri ini membangun persekutuan sehati-sejiwa dan berpusat pada Ekaristi dengan anggur dalam piala dan hosti terpecah di atas patena.”

Mengenang mantan uskup Bandung, Alm Mgr Alexander Djajasiswaja Pr, yang selalu berkata “Pergilah ke Pasar,” maka Mgr Anton menambahkan, “Kita sudah pergi ke pasar. Tapi saya juga ingatkan, jangan pernah lupa juga pergi dari altar menuju pasar. Kalau tidak akan kesasar di pasar.”

Dengan demikian, lanjut doktor dari Universitas Kepausan Lateran di Roma itu, “Keuskupan Bandung menjadi Gereja yang berdoa melalui persatuan dengan Tuhan agar juga menjadi Gereja yang bertindak melalui pelayanan kenabian dalam dunia.”

Salib Kristus, tegas Mgr Anton, menjadi kekuatan Gereja Keuskupan Bandung yang sedang berziarah di dunia (tanah hijau) menuju Bapa di surga (langit biru). “Hanya dengan hati yang terbuka pada Roh Kudus, akan terciptalah komunitas mistik dan profetik yang melaksanakan perintah Tuhan: Ut Diligatis Invicem; “Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh 15: 17).”

Dua Belas (12) Unsur dalam Lambang Uskup Bandung yang akan digunakan setelah pentahbisan oleh Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC adalah:

  1. Topi galero bertali: Hirarki dalam tingkat uskup dengan kesediaan dan kesetiaan diutus Sri Paus, Sang Gembala Gereja Universal.
  2. Tongkat gembala: Pedoman pelayanan pastoral untuk menghadirkan kasih Allah melalui pengalaman mistik dan tindakan profetik.
  3. Burung merpati: Roh Kudus sebagai Roh Penghibur dan Pembaharu Gereja Keuskupan Bandung.
  4. Piala dan hosti terpecah: Ekaristi sebagai sumber hidup Kristiani dan saat perjumpaan dengan Tuhan bagai Wanita Samaria (Yoh 4: 5-42).
  5. Enam tangan warna-warni: Komunitas plural yang menyempurnakan diri dengan semangat murah hati bagai Pria Samaria (Luk 10: 25-27).
  6. Warna hijau: Tatar Sunda atau wilayah Parahyangan sebagai dunia di mana Gereja Keuskupan Bandung berziarah dan memasyarakat.
  7. Warna biru langit: Ruang kudus, di mana Yang Ilahi bersemayam sebagai tujuan perziarahan.
  8. Warna ungu: Rahmat martabat uskup sebagai anugerah bagi kesejahteraan dan keselamatan domba-domba Tuhan.
  9. Salib merah putih: Kanonik Regulir Ordo Salib Suci yang mempersembahkan anggotanya menjadi Uskup Bandung ke-5.
  10. Salib sebagai latar belakang: Gereja yang berziarah dengan berdoa (mistik) dan bertindak (profetik) berdasarkan misteri Salib Kristus.
  11. Bentuk hati: Gereja berhati yang mengutamakan cinta kasih dengan keyakinan di mana ada kasih, hadirlah Tuhan.
  12. Ut Diligatis Invicem: Perintah baru Yesus untuk saling mengasihi sebagai wujud kasih akan Allah (perintah I) dan sesama (perintah II). (paul c pati)

 

2 KOMENTAR

  1. […] “Saya seorang hamba Gereja. Dengan rendah hati dan penuh iman saya berkomitmen, kapan pun Gereja membutuhkannya saya akan siap. Apa pun yang Sri Paus minta saya akan laksanakan.” Itulah jawaban Mgr Anton saat ditanya Duta Vatikan Mgr Antonio Guido Filipazzi tanggal 24 Mei 2014. Pengumuman Paus tentang pengangkatan Mgr Anton sebagai Uskup Bandung dilakukan 3 Juni 2014. http://penakatolik.com/2014/07/04/semangat-ekaristi-akan-jiwai-tugas-uskup-baru-di-tanah-parahyangan… […]

Tinggalkan Pesan