Dari Fabie Sebastian Heatubun

Saat menciptakan manusia, terjadilah percakapan antara Allah dan empat malaikat. “Tuhan, mengapa Engkau menciptakan dunia?” tanya malaikat filsuf. “Tuhan, bagaimana Engkau menciptakan dunia? tanya malaikat mewakili kaum arsitek. “Tuhan, berapa harga tanah per meter? tanya malaikat pebisnis.

Malaikat keempat tidak mau bertanya, tapi mengatakan, “Tuhan, terimakasih, Engkau sudah menciptakan dunia ini baik adanya.” Nama malaikat itu Syukur … dan terdengarlah gemuruh tawa gembira umat sambil bertepuk tangan.

Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo, menceritakan kisah itu saat kotbah di depan sekitar 10 ribu umat dalam Misa Pentahbisan Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM di Sentul International Convention Centre (SICC), Sentul City, Bogor, 22 Februari 2014. Mgr Suharyo, yang juga ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), menjadi penahbis pertama, dan Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng penahbis kedua. Mereka mendampingi penahbis utama Mgr Mikhael Cosmas Angkur OFM.

Mgr Paskalis Syukur, yang menggantikan Mgr Angkur, mengambil motto tahbisan “Magnificat Anima Mea Dominum” (Jiwaku Memuliakan Tuhan) dari Injil Luk 1:46. Sebanyak 41 uskup dan sekitar 200 imam hadir. Beberapa di antaranya adalah imam OFM dari Australia, Filipina, India, Malaysia dan Singapura, dan Pimpinan Umum OFM dari Roma, Pastor Michael Anthony Perry OFM.

Di balik motto itu, kata Mgr Suharyo, Mgr Paskalis menyimpan harta rohani berlimpah, dan uskup baru itu memilih Pesta Takhta Santo Petrus untuk waktu tahbisannya “rupanya ingin mengikuti nasehat Rasul Petrus untuk menjadi teladan bagi kawanan domba.”

Duta Vatikan untuk Indonesia, Mgr Antonio Guido Felipazzi, membacakan Bulla Pengangkatan Mgr Paskalis dari Paus Fransiskus dalam bahasa Latin dan Indonesia, yang dikeluarkan di Basilika Santo Petrus, Roma, 21 November 2013. “Kepada Putera kekasih Paskalis Bruno Syukur, anggota Ordo Saudara-Saudara Dina, yang sampai kini adalah Definitor General Ordo, Uskup terpilih Takhta Keuskupan Bogor. Selamat dan berkat apostolik.”

Bagian lain bulla itu menyebut, atas anjuran Kongregasi untuk Penginjilan Bangsa-bangsa, “dengan kewibawaan apostolik kami, kami mengangkat Anda menjadi Uskup Keuskupan Bogor dengan hak-hak yang diberikan dan kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh jabatan tersebut.”

Dalam sambutannya, Mgr Paskalis menyadari tugas itu sebagai undangan untuk lebih dalam dan luas melayani Kristus. Maka, umat diajak bertekad menciptakan persaudaraan sejati. “Dalam Yesus kita akan mampu menghadirkan perdamaian dan persaudaraan,” kata Mgr Paskalis.

Gaya menggembalakan sekitar 90 ribu umat Katolik di 21 paroki di keuskupan yang mencakup sebagian Propinsi Banten dan Jawa Barat itu, kata Mgr Paskalis, akan menitikberatkan nilai pelayanan, kemurahan hati, belaskasihan, persaudaraan sejati, kerendahan hati, perjumpaan sejati antarmanusia, penghargaan terhadap martabat manusia dan martabat alam ciptaan Tuhan.

Uskup baru mengaku sudah mengenal wilayah keuskupannya karena sempat berkeliling bersama Mgr Angkur dan sudah bertemu umat yang akan digembalakan. “Saya sudah bertemu umat yang akan menjadi teman seperjalanan hamba hina dina ini,” kata Mgr Paskalis.

Meski demikian, umat menghormati dan mencintai uskup emeritus yang akan menghabiskan masa pensiunnya di komunitas persaudaraannya di Labuan Bajo, Flores. Setiap namanya disebut dalam kotbah atau sambutan, terdengar tepuk tangan umat. Mgr Angkur bercerita, saat permohonan pengunduran dikabulkan dia memperkenalkan uskup baru itu dengan mengantarnya ke paroki-paroki dan stasi-stasi untuk “memperlihatkan panorama wilayah dan profil umat gembalaan.”

Melihat umat Keuskupan Bogor berasal dari banyak etnis, Mgr Angkur berpesan kepada penerusnya, “Jadilah uskup bagi semua orang Indonesia, tinggalkan KTP Manggaraimu di saku saudara.”

Stefanus Rengkuan yang menghadiri Misa itu mengatakan kepada PEN@ Indonesia bahwa menurut analisisnya penegasan Mgr Angkur itu penting. “Ini menunjukkan kepada umat bahwa Keuskupan Bogor adalah miniatur Indonesia, dekat dengan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), maka uskup itu akan banyak berkontribusi dalam kancah nasional, dalam konteks Gereja lokal dan konteks poleksosbudhankam. Apalagi Uskup KAJ sekarang adalah ketua KWI, yang sangat sibuk,” katanya.

Mgr Paskalis lahir 17 Mei 1962 di Ranggu, Keuskupan Ruteng, Flores. Setelah ditahbiskan imam 2 Februari 1991, dia berkarya di Keuskupan Jayapura, 1991-1993, studi Spiritualitas Fransiskan di Universitas Kepausan Antonianum Roma (1993-1996). Imam itu lalu menjadi magister novis OFM di Depok (1996-2001) dan Minister Provinsial Fransiskan se-Indonesia dua periode  (2001-2010). imam itu juga menjadi Definitor General (Anggota Dewan Penasihat OFM) untuk Asia dan Oseania sejak 2009.

Mewakili KWI, Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar OFM mengutip percakapan Fransiskus Asisi dan Leo. “Saudaraku Leo, manakah syukur paling besar dari saudara komunitas?” tanya Fransiskus. “Saat diangkat jadi profesor di Universitas Paris?” jawab Leo. “Bukan!” tegas Fransiskus. “Apakah saat menjadi orang kudus?” tanya Leo. “Bukan, Bro Leo!” kata Fransiskus. “Ooo, saat menjadi uskup?” tanya Leo. “Bukan juga, Bro!” tegas Fransiskus. “Lho, apa dang, Bro Frans?” Leo bingung. Mgr Leo Ladjar lalu bertanya kepada Mgr Paskalis Syukur, “Saudaraku, apakah syukur paling besarmu?”

“Pada saat saudaraku menggembalakan dombamu dan kakimu terluka, tapi bro tetap tersenyum. Pada saat kukumu tercabut, tapi bro tetap gembira dan membangun persaudaraan sejati!”(paul c pati)***

1510585_10203387850156193_470841140_n

Tinggalkan Pesan