Generasi Muda Diajak Melihat Pertanian sebagai Peluang Masa Depan

PenaKatolik.Com | Siapa bilang pertanian hanya menjadi pekerjaan bagi generasi tua? Di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan pangan nasional, sektor pertanian justru menyimpan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan oleh generasi muda. Keberanian untuk memulai, kemauan belajar, serta kemampuan membaca peluang menjadi modal penting bagi lahirnya petani-petani muda yang inovatif.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan temu lapangan dan diskusi pertanian di Baguruh, Dusun Semata, Desa Temiang Sawi, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Jumat (30/10/2026) bersama beberapa mahasiswa Agribisnis Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, (Unika San Agustin).

Kegiatan ini mempertemukan praktisi pertanian, akademisi, mahasiswa, dan unsur pemerintah untuk membicarakan masa depan pertanian sekaligus melihat secara langsung pelaksanaan Gerakan Tanam Padi Serempak.

Nikolaus Supin, S.Th., praktisi yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyoroti masih adanya anggapan bahwa pekerjaan di bidang pertanian kurang menarik bagi generasi muda. Menurutnya, pandangan semacam itu perlu diubah karena pertanian bukan sekadar pekerjaan mengolah tanah, melainkan juga ruang untuk membangun usaha dan menciptakan peluang ekonomi.

Dia mengajak kaum muda, khususnya mereka yang tinggal di wilayah Kabupaten Landak, agar tidak merasa gengsi untuk menekuni bidang pertanian. Potensi daerah yang tersedia dapat menjadi peluang usaha apabila disertai keberanian, kreativitas, dan kesediaan untuk terus belajar.

“Yang terpenting adalah berani memulai, mau belajar, dan mampu melihat peluang yang ada,” kata Supin.

Bagi Supin, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Regenerasi petani tidak cukup hanya dengan mengajak orang muda bekerja di sawah, tetapi juga perlu menumbuhkan cara pandang baru bahwa pertanian dapat dikelola sebagai kegiatan produktif dan memiliki prospek ekonomi.

Perguruan Tinggi dan Pemerintah Perlu Membuka Ruang

Persoalan regenerasi petani juga berkaitan erat dengan pendidikan dan pendampingan. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di perguruan tinggi perlu dipertemukan dengan pengalaman praktis di lapangan agar dapat menghasilkan gagasan dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Pianus Tutuk, eks Ketua Himpunan Mahasiswa Agribisnis (HIMAGRI) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. Dia menilai kolaborasi antara pemerintah, praktisi, dan perguruan tinggi perlu diperkuat untuk meningkatkan kapasitas generasi muda dalam mengembangkan sektor pertanian.

Menurutnya, mahasiswa tidak seharusnya hanya memahami pertanian melalui teori dan pembelajaran di ruang kelas. Mereka perlu memperoleh kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan lapangan sehingga ilmu agribisnis yang dipelajari dapat diterapkan dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pertanian di Kabupaten Landak.

“Kami berharap adanya perhatian dan fasilitasi dari pemerintah maupun praktisi melalui pelatihan-pelatihan bagi kaum muda,” katanya.

Dia juga berharap mahasiswa Agribisnis mendapatkan ruang lebih luas untuk mengikuti pelatihan, kegiatan praktik, dan pengembangan inovasi pertanian. Kesempatan tersebut dinilai penting untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan sektor pertanian sekaligus membangun kemampuan mereka sebagai generasi penerus.

Perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan lulusan yang memahami teori pertanian, tetapi juga mendorong lahirnya sumber daya manusia yang mampu membaca persoalan, mengembangkan solusi, dan mengambil bagian dalam pembangunan sektor pertanian.

DOKUMENTASI -Foto bersama praktisi, akademisi, mahasiswa, dan perwakilan pemerintah dalam kegiatan temu lapangan dan diskusi pertanian di Baguruh, Dusun Semata, Desa Temiang Sawi, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak.

Teknologi Mendukung Produktivitas Pertanian

Diskusi mengenai masa depan pertanian kemudian dilengkapi dengan pengamatan langsung terhadap Gerakan Tanam Padi Serempak. Kegiatan ini dilaksanakan melalui pendekatan PMAAS (Pertanian Modern – Advanced Agriculture System) sebagai bagian dari upaya mendukung program pemerintah menuju swasembada pangan nasional.

Dalam kegiatan lapangan tersebut, peserta menyaksikan penggunaan alat transplanter yang telah dimodifikasi oleh pemerintah. Modifikasi dilakukan dengan menggunakan mekanisme roda berbentuk bulat serta saluran atau corong untuk membantu proses penyaluran bibit padi ke area tanam.

Pengenalan teknologi tersebut memberikan gambaran bahwa pengembangan pertanian tidak hanya bergantung pada tenaga manusia, tetapi juga membutuhkan pemanfaatan teknologi dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Kegiatan ini turut melibatkan Immanuel Suprianto dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ngabang dan Polikarpus Payong selaku Ketua Program Studi Agribisnis Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

Kehadiran unsur penyuluh pertanian, praktisi, dan akademisi memperlihatkan pentingnya pertukaran pengetahuan dalam mengembangkan sistem pertanian yang lebih modern. Pengalaman praktis dapat dipadukan dengan kajian akademis dan dukungan pemerintah untuk menghasilkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi pertanian setempat.

Membangun Masa Depan Pertanian Landak

Pertanian Kabupaten Landak membutuhkan lebih dari sekadar lahan produktif dan ketersediaan teknologi. Sektor ini juga memerlukan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kreativitas, serta keberanian untuk mengembangkan usaha.

Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dari upaya membangun pertanian yang berkelanjutan. Mereka tidak hanya diharapkan menjadi penerus pekerjaan para petani terdahulu, tetapi juga mampu menghadirkan pendekatan baru melalui pendidikan, kewirausahaan, dan pemanfaatan teknologi.

Temu lapangan dan diskusi pertanian di Baguruh menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan tersebut. Kolaborasi antara pemerintah, praktisi, perguruan tinggi, dan mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pertemuan, tetapi berlanjut dalam bentuk pendampingan, pelatihan, dan kerja sama yang memberikan manfaat nyata.

Pada akhirnya, masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas lahan yang dapat ditanami atau seberapa canggih teknologi yang digunakan. Masa depan itu juga bergantung pada keberanian generasi muda untuk turun ke lapangan, belajar dari pengalaman, dan melihat pertanian sebagai bidang usaha yang memiliki nilai ekonomi sekaligus peran strategis bagi ketahanan pangan. (Samuel- Sumber: Pianus Tutuk mahasiswa aktif Agribisnis semester 7 di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus 3 Plasma 2, Fakultas Sains Dan Teknologi (Ngabang, Kabupaten Landak))

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini