Menjadi Biarawan atau Biarawati Bukan Sekadar Mengenakan Jubah

PenaKatolik.Com | Dalam homili Pesta Hidup Membiara Suster SFIC, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, mengajak para religius dan umat Katolik untuk menghidupi panggilan dengan kesungguhan. Iman bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan yang harus dijalani secara tulus. Menjadi biarawan atau biarawati bukan sekadar mengenakan jubah, mengucapkan kaul, atau menjalankan berbagai kegiatan keagamaan. Lebih dari itu, hidup membiara menuntut kesungguhan untuk memberikan diri secara utuh kepada Tuhan. Panggilan tidak boleh dijalani setengah hati, apalagi hanya sebagai rutinitas tanpa pembaruan hidup.

Pesan tersebut disampaikan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, dalam homili Perayaan Syukur Pesta Hidup Membiara dan Kaul Kekal Keluarga Besar Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei (SFIC) Provinsi Indonesia. Perayaan Ekaristi berlangsung di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Homilinya, Uskup Samuel mengangkat pertanyaan Rasul Petrus kepada Yesus yakni “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau.” Pertanyaan tersebut menjadi dasar refleksi tentang apa yang sesungguhnya diperoleh seseorang ketika memilih meninggalkan segala sesuatu demi mengikuti Tuhan.

Menurut Uskup Samuel, setiap orang memiliki alasan dan pengalaman yang berbeda ketika memilih jalan hidup religius. Ada yang berangkat dari kekaguman terhadap sosok seorang imam, ada yang tertarik pada spiritualitas tertentu, dan ada pula yang menemukan makna panggilannya secara perlahan melalui pengalaman hidup.

Dia sendiri mengenang bagaimana ketertarikannya menjadi imam Kapusin bermula dari kekaguman terhadap seorang imam Kapusin tua asal Belanda. Imam tersebut dikenal baik, ramah, dekat dengan masyarakat, dan setia dalam pengabdian. Dari sosok itulah tumbuh keinginannya untuk menjalani kehidupan serupa.

Namun, perjalanan panggilan tidak berhenti pada kekaguman terhadap seorang pribadi. Seiring waktu, dia semakin memahami spiritualitas Fransiskan Kapusin dan menemukan makna memberikan diri kepada Tuhan. Dia mengakui bahwa menjadi imam bukan berarti hidup selalu berjalan mulus. Akan tetapi, dia menemukan kebahagiaan dalam menjalani panggilan tersebut.

ARSIP SFIC – Dokumentasi suster-suster yang ditampilkan pada Perayaan yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026,

Keluar dari Iman yang Dangkal

Salah satu bagian penting dalam homili Uskup Samuel adalah kritik terhadap sikap suam-suam kuku dalam kehidupan beriman. Dia mengingatkan bahwa seseorang dapat saja menjalankan berbagai praktik keagamaan, tetapi tidak sungguh membiarkan iman memengaruhi dan memperbarui kehidupannya.

Dia menggambarkan sikap tersebut melalui ungkapan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, yakni hangat-hangat tahi ayam: tidak sungguh panas, tetapi juga tidak benar-benar dingin. Gambaran itu digunakan untuk mengingatkan umat agar tidak menjalani iman secara setengah-setengah.

“Jangan suam-suam kuku, jangan hangat-hangat tahi ayam berdoa tetapi tidak mendalam,” tegasnya.

Menurut dia, doa, devosi Rosario, dan kehadiran di gereja tidak seharusnya berhenti sebagai kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Semua itu perlu membawa perubahan dalam cara seseorang berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupannya.

Uskup Samuel kemudian mengajak umat untuk bergerak menuju kedalaman. Dia mengingatkan agar seseorang tidak puas dengan kehidupan rohani yang dangkal, tetapi berani masuk lebih jauh dalam permenungan untuk memahami kehidupan dan memberikan diri secara lebih tulus.

“Memang tidak gampang menjadi orang yang serius dalam segala hal. Serius tidak berarti lalu kehilangan sukacita sejati,” ungkapnya.

Dengan demikian, kesungguhan bukan berarti hidup tanpa kegembiraan. Sebaliknya, kesungguhan dalam mengikuti Tuhan justru perlu melahirkan sukacita yang bertahan sekalipun seseorang berhadapan dengan kesulitan.

ARSIP SFIC – Dokumentasi suster-suster yang ditampilkan pada Perayaan yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026,

Sukacita yang Menguji Panggilan

Mgr. Samuel juga menghubungkan kesungguhan panggilan dengan kemampuan menghadapi penderitaan. Mengikuti Tuhan tidak menjanjikan kehidupan yang selalu menyenangkan. Ada pengorbanan, rasa sakit, kekecewaan, dan berbagai pengalaman yang dapat mengguncang seseorang.

Namun, kesulitan tidak harus membuat seseorang kehilangan sukacita. Mengacu pada spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi, dia menjelaskan bahwa orang yang menghadapi segala sesuatu bersama Tuhan akan memperoleh kekuatan untuk bertahan.

“Sukacita sejati kata Santo Fransiskus membuat saya tegar,” katanya.

Karena itu, dia mengajak para suster untuk melihat kembali perjalanan hidup membiara mereka. Ada yang telah menjalani 60, 50, 40, dan 25 tahun hidup religius. Ada pula dua suster yang pada perayaan tersebut mengikrarkan kaul kekal.

Bagi Uskup Samuel, perjalanan panjang itu patut menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana panggilan sungguh dihidupi. Apakah kehidupan membiara lebih banyak menghasilkan kepahitan dan kekecewaan, atau justru membentuk pribadi yang tetap bergembira meskipun mengalami berbagai tantangan?

Dia menegaskan bahwa kebahagiaan tidak berarti seseorang selalu tertawa atau terbebas dari penderitaan. Kebahagiaan sejati terlihat ketika seseorang mampu menghadapi kesulitan tanpa menjadi pribadi yang pahit, kaku, dan kehilangan sukacita.

Dalam konteks itu, dia menyampaikan kalimat yang menjadi salah satu inti homilinya, yaitu “Kalau kita sudah siap meninggalkan segala-galanya, kita juga siap menghadapi segala-galanya.”

ARSIP SFIC – Dokumentasi suster-suster yang ditampilkan pada Perayaan yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026,

Panggilan Bukan Tempat Pelarian

Lebih jauh, Uskup Samuel mengingatkan bahwa hidup religius harus menjadi pilihan yang sungguh-sungguh, bukan tempat untuk melarikan diri dari tanggung jawab kehidupan. Menjadi imam, bruder, atau suster harus disertai kesediaan menghidupi panggilan tersebut secara benar.

Dia juga menegaskan bahwa refleksi ini tidak hanya berlaku bagi kaum religius. Setiap orang memiliki panggilan dan tanggung jawab masing-masing. Umat Katolik dipanggil untuk menjadi orang beriman yang sungguh-sungguh, demikian pula mereka yang menjalani kehidupan berkeluarga maupun profesi lainnya.

Karena itu, perayaan Pesta Hidup Membiara bukan hanya menjadi peristiwa syukur bagi keluarga besar SFIC, melainkan juga kesempatan bagi seluruh umat untuk memeriksa kembali kualitas kehidupan imannya.

Perayaan yang dihadiri para imam, biarawan, biarawati, keluarga, dan umat tersebut dilanjutkan dengan acara ramah tamah di Aula Persekolahan Suster Pontianak. Keluarga besar SFIC Provinsi Indonesia merayakan perjalanan panggilan para suster sekaligus menyambut komitmen seumur hidup dua suster yang mengikrarkan kaul kekal.

Di akhir homilinya, Uskup Samuel mengajak semua yang hadir untuk menanggapi panggilan Allah dengan serius, apa pun bentuk panggilan yang dijalani.

Pesannya sederhana, tetapi mendasar: jangan asal-asalan dalam beriman dan jangan setengah hati dalam menjalani panggilan. Sebab, iman yang sungguh-sungguh tidak berhenti pada kata-kata dan kebiasaan, melainkan tampak dalam kehidupan yang terus diperbarui melalui kesetiaan, pengorbanan, dan sukacita.(Samuel)

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini