Hari Studi APTIK, UWDP Pontianak Hadirkan Kekayaan Tradisi dalam Malam Kebersamaan

PenaKatolik.Com | Pertemuan perguruan tinggi Katolik dalam agenda Hari Studi Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) tidak hanya menjadi ruang berbagi praktik baik transformasi pendidikan tinggi. Kunjungan ke Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP), Jumat, 23 Oktober 2026, juga menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengenal kekayaan budaya Pontianak melalui penampilan seni mahasiswa.

Di Pontianak, kota yang tumbuh melalui perjumpaan beragam latar budaya, tarian tradisional, nyanyian khas kota, dan musik tradisional Tiongkok menjadi pengingat bahwa keberagaman merupakan bagian dari pengalaman hidup masyarakat. Melalui seni, mahasiswa tidak hanya tampil di hadapan para tamu, tetapi juga turut memperkenalkan kekayaan budaya kota tempat mereka belajar.

Bertempat di Gedung Santo Fransiskus Assisi lantai 10, kampus UWDP di Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Daratsekip, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, kegiatan Campus Visit and Dinner berlangsung dalam suasana hangat. Mahasiswa UWDP menyambut para peserta dengan penampilan tarian tradisional, nyanyian khas Pontianak, serta musik tradisional Tiongkok.

Penampilan tersebut memberi warna tersendiri dalam rangkaian Hari Studi APTIK yang berlangsung pada 22–24 Oktober 2026. Apalagi, kunjungan ini bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak pada 2026. Budaya pun hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai cara memperkenalkan identitas kota dan keberagaman tradisi yang hidup di tengah masyarakatnya.

Tarian tradisional membawa peserta pada kekayaan ekspresi budaya lokal. Nyanyian khas Pontianak menambah nuansa perayaan hari jadi kota, sedangkan musik tradisional Tiongkok memperlihatkan warna budaya lain yang turut memperkaya kehidupan masyarakat Pontianak. Melalui penampilan mahasiswa, kampus menjadi ruang perjumpaan antara pendidikan, seni, dan kebudayaan.

DOKUMENTASI – Campus Visit dan Dinner di Universitas Widya Dharma Pontianak. Rangkaian HARI STUDI APTIK – Kamis-Jumat, 22-24 Oktober 2026 (Nyanyian Khas Pontianak)

Kampus sebagai ruang perjumpaan

Kunjungan ke UWDP merupakan bagian dari agenda hari kedua Hari Studi APTIK, yang mengangkat tema “Belajar dari Praktik Baik Transformasi Perguruan Tinggi”. Sebelumnya, para peserta mengikuti panel bersama Dr. Iskandar Itan, S.E., M.M., CRBC., CSRS., CSRA., CSP, Rektor Universitas Internasional Batam, serta Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Diskusi tersebut mengajak peserta mempelajari pengalaman transformasi perguruan tinggi, mulai dari tata kelola, pengembangan organisasi, pengelolaan keuangan, hingga strategi menghadapi perubahan dunia pendidikan. Pembahasan dilanjutkan melalui diskusi kelompok mengenai cara mengadaptasi praktik baik bagi perguruan tinggi Katolik.

Dalam konteks itu, kunjungan ke UWDP memberikan dimensi yang berbeda. Jika forum diskusi mempertemukan gagasan dan pengalaman kelembagaan, penampilan mahasiswa memperlihatkan bagaimana sebuah kampus juga dapat menjadi ruang pemeliharaan budaya, kreativitas, dan dialog antarkultur.

Rektor UWDP, Dr. M. Hadi Santoso, S.E., M.M., memandang kepercayaan menjadi tuan rumah sebagai kesempatan untuk berbagi pengalaman sekaligus belajar dari perguruan tinggi lain. Pertemuan tersebut, menurutnya, membuka ruang bagi kampus-kampus untuk saling mengenal dan memperkuat upaya pengembangan pendidikan tinggi.

Persiapan penyelenggaraan telah dilakukan sejak September 2026. Hadi mengungkapkan bahwa kondisi kabut asap sempat menjadi perhatian para tamu yang menanyakan situasi Pontianak menjelang kegiatan. Namun, rangkaian acara akhirnya dapat berlangsung dengan baik.

DOKUMENTASI SUASANA – Campus Visit dan Dinner di Universitas Widya Dharma Pontianak. Rangkaian HARI STUDI APTIK, Gedung Santo Fransiskus Assisi, UWDP.

Membangun pendidikan melalui kolaborasi

Dalam sambutannya, Pater Kosmas Jang, OFMCap, mengajak peserta mengenal perjalanan UWDP yang berawal dari kepedulian terhadap akses pendidikan tinggi bagi generasi muda Kalimantan Barat. Gagasan pendiriannya tumbuh dari keprihatinan bahwa anak-anak muda membutuhkan kesempatan memperoleh pendidikan yang terjangkau dan bermutu.

“Tujuannya bukan terutama untuk membangun gedung yang megah, melainkan membuka pintu bagi generasi muda agar mereka dapat memperoleh akses pendidikan tinggi dengan biaya yang terjangkau, tetapi tetap bermutu,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam sambutan Pater Kosmas.

Seiring perkembangannya, UWDP terus berupaya membangun kapasitas sebagai lembaga pendidikan tinggi. Nama-nama gedung yang menggunakan nama para santo dan santa dalam tradisi Fransiskan juga mengingatkan pada akar spiritualitas kampus, yang menekankan kesederhanaan, pelayanan, persaudaraan, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Bagi UWDP, menjadi tuan rumah Hari Studi APTIK merupakan kesempatan untuk belajar dari praktik baik perguruan tinggi lain, terutama dalam penguatan tata kelola, keberlanjutan lembaga, dan pengembangan mutu pendidikan. Pertemuan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kerja sama antarkampus dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

P. Cyprianus Kuntoro Adi, S.J., Ketua Yayasan Sanata Dharma Yogyakarta, menekankan bahwa perguruan tinggi perlu terus menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan masyarakat. Kampus tidak cukup hanya melayani lulusan sekolah menengah, tetapi juga perlu memikirkan kebutuhan orang dewasa yang bekerja, para profesional, dan peserta yang ingin mengikuti pendidikan dalam bentuk lebih singkat.

Romo Adi mengingatkan bahwa perguruan tinggi perlu mengenali kekuatan masing-masing dan menentukan hal-hal yang harus diperbaiki, tanpa menunggu perubahan besar memaksa mereka bertindak. Kolaborasi antarlembaga menjadi salah satu cara untuk menghadapi tantangan tersebut.

Pandangan serupa disampaikan Yosefin Dewi, perwakilan yayasan yang mengikuti kegiatan. Menurutnya, perguruan tinggi Katolik perlu saling menguatkan, terutama ketika menghadapi persaingan dan tuntutan peningkatan mutu. Kampus yang memiliki pengalaman serta sumber daya lebih kuat dapat berbagi pembelajaran dengan institusi lain.

Ketika diminta menyampaikan satu kata yang menggambarkan harapannya terhadap kerja sama perguruan tinggi, Yosefin menjawab, “Kolaborasi.”

Sementara itu, Prof. Henky Muljana dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, menyoroti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai salah satu tantangan yang tidak dapat dihindari oleh dunia pendidikan tinggi. Perguruan tinggi Katolik, menurutnya, perlu merumuskan strategi untuk merespons perkembangan teknologi tersebut, termasuk dengan dukungan dan kerja sama melalui APTIK.

DOKUMENTASI SUASANA – Campus Visit dan Dinner di Universitas Widya Dharma Pontianak. Rangkaian HARI STUDI APTIK. Foto Dosen yang ikut memeriahkan suasana.

Tradisi dan masa depan berjalan bersama

Penampilan mahasiswa UWDP dalam malam kunjungan memperlihatkan sisi lain dari transformasi perguruan tinggi. Perubahan kampus tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tata kelola, atau kemampuan bersaing, tetapi juga dengan bagaimana institusi pendidikan merawat identitas, membangun relasi, dan memberi ruang bagi ekspresi budaya.

Malam kebersamaan di Gedung Santo Fransiskus Assisi itu pun menjadi lebih dari sekadar penutup agenda kunjungan. Pertemuan tersebut mempertemukan gagasan tentang masa depan pendidikan tinggi dengan pengalaman budaya yang hidup di lingkungan kampus.

Rektor UWDP juga menyampaikan bahwa di tengah pembicaraan mengenai transformasi dan tantangan teknologi, pesan yang muncul tetap sederhana yakni perguruan tinggi membutuhkan keterbukaan untuk belajar, keberanian untuk berubah, dan kemauan untuk bekerja sama. Pada saat yang sama, kemajuan pendidikan tidak harus membuat kampus menjauh dari akar budaya dan nilai-nilai yang membentuk identitasnya.*(Samuel).

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini