Berhenti Menjadi Pemilik, Belajar Menjadi Saudara

PenaKatolik.Com | Spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi mengajak manusia menata ulang hubungan dengan harta, Tuhan, dan alam. Di tengah budaya yang mengagungkan kepemilikan serta eksploitasi lingkungan, kesederhanaan menjadi jalan menuju kebahagiaan, sedangkan persaudaraan menjadi dasar merawat bumi.

“Kebahagiaan sejati tidak selalu ditemukan dalam kepemilikan, melainkan dalam relasi kita dengan Tuhan.”

Kalimat Pater Pionius Hendi, OFMCap, itu mengajak kita berhenti sejenak di tengah kehidupan yang bergerak begitu cepat. Manusia berlomba-lomba memiliki lebih banyak, mencapai posisi lebih tinggi, dan memperoleh pengakuan yang lebih luas. Namun, di tengah perlombaan itu, sebuah pertanyaan mendasar tetap menunggu jawaban tentang apakah semua yang berhasil kita miliki sungguh membuat kita lebih bahagia?

Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi. Bagi Pater Pio, sapaan akrab Pater Pionius, kesederhanaan bukan sekadar pilihan untuk hidup dengan sedikit harta. Kesederhanaan menyangkut cara manusia menempatkan dirinya di hadapan Tuhan, sesama, dan seluruh ciptaan.

Dalam wawancara pada 4 Oktober 2026 di Provinsialat Ordo Kapusin, Kompleks Rumah Retret Tirta Ria, Jalan Adisucipto Km 9,6, Sungai Raya, Kalimantan Barat, Ketua INFO JPIC Indonesia itu merefleksikan kembali relevansi spiritualitas Fransiskan di tengah budaya yang mengukur keberhasilan melalui kekayaan, jabatan, status sosial, dan pencapaian pribadi.

Dua pertanyaan menjadi pokok pembicaraan, apakah manusia dapat menemukan kebahagiaan dengan berani melepaskan keterikatan pada apa yang dimilikinya, dan bagaimana manusia seharusnya memandang alam—sebagai milik yang bebas dikuasai atau sebagai sesama ciptaan Tuhan?

Keduanya bertemu pada satu persoalan mendasar yaitu cara manusia memahami kepemilikan dan kekuasaan.

Ketika memiliki tidak lagi menjadi tujuan

Dalam kehidupan modern, keberhasilan sering kali diperlihatkan melalui apa yang dapat dikumpulkan seseorang. Rumah, kendaraan, jabatan, penghasilan, dan berbagai privilese menjadi penanda yang mudah dilihat. Manusia pun terdorong membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

Di tengah keadaan itu, semangat kemiskinan Fransiskan menawarkan jalan yang berbeda.

“Ketika dunia berlomba-lomba mengejar jabatan, kekayaan, status, dan berbagai privilese, orang-orang yang memiliki jiwa sederhana dan semangat kemiskinan justru menjadi pribadi yang terbuka kepada Tuhan,” kata Pater Pio pada 4 Oktober 2026.

Pernyataan ini tidak harus dibaca sebagai penolakan terhadap pekerjaan, keberhasilan, atau tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup. Yang menjadi persoalan adalah ketika semua itu mengambil alih tempat yang seharusnya ditempati oleh hal-hal yang lebih mendasar.

Seseorang dapat memiliki kekayaan tanpa menjadikan kekayaan sebagai ukuran tertinggi nilai dirinya. Seseorang juga dapat menduduki jabatan tanpa membiarkan jabatan menentukan seluruh cara dia memandang sesama. Kesederhanaan membantu manusia membedakan antara apa yang dimiliki dan siapa dirinya.

Pater Pio menjelaskan bahwa ketika seseorang menyadari jabatan, kekayaan, privilese, dan kenikmatan duniawi bukanlah hal yang utama, semuanya dapat ditempatkan pada urutan kedua. Kesadaran itu lahir dari pilihan untuk mencari sesuatu yang lebih besar daripada hal-hal yang tampak secara material.

Pemikiran tersebut mengingatkan pada refleksi Santo Agustinus dari Hippo mengenai kerinduan jiwa manusia akan Allah. Kerinduan itu menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan batin yang tidak dapat dipenuhi sepenuhnya melalui kepemilikan materi.

Kebahagiaan, dengan demikian, tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dengan kedalaman relasi manusia dengan Tuhan.

Dalam terang spiritualitas Fransiskan, melepaskan bukan semata-mata kehilangan. Melepaskan dapat menjadi cara untuk membebaskan diri dari keterikatan yang membuat manusia sulit bersyukur, sulit berbagi, dan terus merasa kekurangan meskipun telah memiliki banyak hal.

Kesederhanaan menjadi keberanian untuk tidak menjadikan kepemilikan sebagai pusat kehidupan. Manusia tetap dapat bekerja, berkarya, dan mengembangkan diri, tetapi semua itu diarahkan pada kehidupan yang lebih bermakna.

Dari penguasa alam menjadi saudara ciptaan

Cara pandang tentang kepemilikan tidak berhenti pada harta pribadi. Persoalan yang sama muncul dalam hubungan manusia dengan alam.

Ketika alam hanya dilihat sebagai sumber daya, hutan dapat dinilai terutama dari nilai ekonominya, tanah dari potensi keuntungannya, dan sungai dari manfaat yang dapat diambil darinya. Cara pandang seperti ini berisiko mengaburkan kenyataan bahwa alam bukan sekadar objek yang tersedia untuk memenuhi keinginan manusia.

Santo Fransiskus dari Assisi menawarkan gambaran yang berbeda melalui Gita Sang Surya, yang juga dikenal sebagai Kidung Saudara Matahari. Dalam kidung tersebut, matahari disebut saudara dan bulan disebut saudari. Bahasa persaudaraan ini memperluas cara manusia memahami hubungannya dengan seluruh ciptaan.

“Dalam Gita Sang Surya atau Kidung Saudara Matahari, Santo Fransiskus menegaskan bahwa kita bukan hanya bersaudara dengan sesama manusia, tetapi juga dengan seluruh alam semesta,” ungkap Pater Pio.

Bagi spiritualitas Fransiskan, alam merupakan bagian dari ciptaan Allah yang memiliki nilai dan keberadaannya sendiri. Karena itu, hubungan manusia dengan alam tidak seharusnya hanya didasarkan pada keinginan untuk menguasai dan mengambil manfaat.

Pater Pio menilai bahwa kerusakan lingkungan dan eksploitasi alam yang berlangsung secara masif, termasuk di Kalimantan dan Indonesia, bertentangan dengan semangat persaudaraan tersebut ketika alam diperlakukan sebagai objek yang dapat dikuasai tanpa batas.

Dia mengingatkan bahwa ketika manusia merasa berhak menguasai alam secara mutlak, manusia seolah-olah menempatkan dirinya pada posisi yang menyerupai Allah, yakni sebagai penguasa atas ciptaan lainnya.

Persoalannya bukan bahwa manusia tidak boleh memanfaatkan alam. Manusia membutuhkan tanah untuk bercocok tanam, air untuk kehidupan, dan berbagai hasil alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Persoalannya terletak pada batas, tanggung jawab, dan kesediaan untuk menghormati kehidupan di luar kepentingannya sendiri.

Alam dapat memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak seharusnya menjadi sasaran keserakahan. Manusia dipanggil untuk merawat, bukan sekadar mengambil; menjaga, bukan semata-mata menguasai.

Di sinilah kesederhanaan dan kepedulian ekologis bertemu. Manusia yang tidak menjadikan kepemilikan sebagai tujuan mutlak akan lebih mudah memahami bahwa tidak semua yang dapat diambil harus diambil, dan tidak semua yang dapat dikuasai harus dikuasai.

Mengubah cara pandang, mengubah kebudayaan

Bagi Pater Pio, upaya merawat alam tidak cukup berhenti pada ajakan melakukan tindakan-tindakan praktis. Perubahan yang lebih mendasar perlu dimulai dari cara manusia memandang alam itu sendiri.

“Ketika cara pandang berubah, kebudayaan pun akan berubah. Sebab, kebudayaan tidak mungkin mengalami perubahan mendasar apabila cara pandang manusia tetap sama,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menempatkan krisis ekologis bukan hanya sebagai persoalan teknis, melainkan juga persoalan cara berpikir dan cara hidup. Ketika alam terus dipandang sebagai objek eksploitasi, perilaku yang merusak dapat dianggap wajar selama menghasilkan keuntungan.

Sebaliknya, ketika alam dipahami sebagai bagian dari persaudaraan ciptaan, manusia mulai melihat tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari tanggung jawab moral.

Perubahan cara pandang itu menuntut manusia meninjau kembali ukuran kemajuan. Pembangunan tidak cukup dinilai dari pertumbuhan ekonomi atau besarnya hasil yang diperoleh. Pertanyaan lain perlu diajukan: bagaimana keadaan alam setelah sumber daya dimanfaatkan? Siapa yang menikmati keuntungan, dan siapa yang menanggung akibat kerusakan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting terutama di wilayah yang memiliki kekayaan alam besar, seperti Kalimantan. Kekayaan alam dapat memberikan manfaat bagi kehidupan, tetapi pengelolaannya juga membawa tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat yang bergantung padanya.

Dalam pandangan Pater Pio, manusia perlu menyadari bahwa alam bukan sesuatu yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Alam merupakan sarana untuk mengenali karya Allah sekaligus memenuhi kebutuhan hidup, tetapi penggunaannya harus dijauhkan dari keserakahan.

Spiritualitas Fransiskan dengan demikian tidak berhenti pada kekaguman terhadap keindahan alam. Persaudaraan dengan ciptaan menuntut perubahan sikap dan tindakan yang nyata.

Ketika bumi menjerit, manusia kecil ikut merasakan

Persoalan lingkungan juga berkaitan erat dengan keadilan sosial. Kerusakan alam tidak menimpa semua orang dengan cara dan tingkat yang sama. Masyarakat yang memiliki sumber daya terbatas sering kali lebih sulit melindungi diri dari dampak kerusakan lingkungan.

Pater Pio menghubungkan refleksi ini dengan ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus, yang mengajak umat manusia merawat bumi sebagai rumah bersama.

“Ketika kita merusak alam, sesungguhnya kita membuat bumi menjerit. Ketika bumi menjerit, orang-orang kecil pun turut menjerit,” tuturnya.

Kalimat tersebut memperlihatkan hubungan antara penderitaan ekologis dan penderitaan manusia. Ketika lingkungan rusak, persoalannya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan atau tercemarnya air. Kerusakan itu dapat memengaruhi kehidupan masyarakat yang membutuhkan air bersih, tanah yang layak, udara yang sehat, dan lingkungan yang mendukung keberlangsungan hidup.

Mereka yang paling rentan kerap memiliki kemampuan paling terbatas untuk menghindari dampak tersebut. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap martabat manusia.

Bagi Pater Pio, kerusakan alam berkaitan erat dengan persoalan moral. Ketika keserakahan mengalahkan tanggung jawab, alam kehilangan perlindungan dan manusia lain berisiko kehilangan hak untuk hidup dalam lingkungan yang baik.

Persaudaraan dengan alam, dalam hal ini, sekaligus menjadi persaudaraan dengan mereka yang kehidupannya bergantung pada kelestarian lingkungan. Merawat ciptaan berarti turut menjaga ruang hidup bersama, terutama bagi mereka yang suaranya tidak selalu terdengar dalam pengambilan keputusan.

Belajar menjadi saudara

Spiritualitas Santo Fransiskus mengajak manusia mengubah pertanyaan mendasar dalam kehidupannya. Bukan hanya bertanya tentang apa yang dapat dimiliki, tetapi juga tentang apa yang perlu dijaga. Bukan hanya menghitung keuntungan yang dapat diperoleh, tetapi juga mempertimbangkan kehidupan yang mungkin terdampak oleh keputusan manusia.

Kesederhanaan dan persaudaraan dengan alam merupakan dua jalan yang saling melengkapi. Kesederhanaan membantu manusia membatasi keterikatan pada kepemilikan, sedangkan persaudaraan mengajarkan bahwa kehidupan tidak berpusat pada kepentingan manusia seorang diri.

Di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk memiliki lebih banyak dan menguasai lebih luas, Santo Fransiskus mengingatkan bahwa manusia dapat menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda: bersyukur tanpa harus memiliki segalanya, memenuhi kebutuhan tanpa menyerah pada keserakahan, dan memandang alam bukan sebagai musuh atau benda mati, melainkan sebagai sesama ciptaan.

Pesan Pater Pio pada akhirnya membawa kita kembali kepada relasi dengan Tuhan. Kebahagiaan sejati tidak dapat dilepaskan dari cara manusia menempatkan dirinya dalam hubungan dengan Sang Pencipta, sesama, dan alam.

Berhenti menjadi pemilik yang ingin menguasai segalanya merupakan awal untuk belajar menjadi saudara. Dari sanalah kesederhanaan memperoleh maknanya, kepedulian ekologis menemukan landasan moralnya, dan spiritualitas Fransiskan menjadi jalan hidup yang nyata.*(Samuel).

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini