PALEMBANG, Pena Katolik — Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) memperingati hari jadinya yang ke-12 dengan menggelar Sidang Senat Terbuka dan Orasi Ilmiah di Aula Gedung Yosep Lantai 3, Kampus Bangau, Palembang. Momentum akademik ini ditandai dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Palembang, Rm. Yohanes Kristianto, yang mengusung subtema “Menggambar Peta Harapan Baru: Sinergi dan Harmoni Ekosistem Pendidikan Katolik demi Keberlanjutan UKMC di Tengah Era Penuh Perubahan”.
Dalam orasinya, Rm. Yohanes Kristianto menegaskan bahwa perayaan Dies Natalis tidak boleh sekadar menjadi seremoni rutin tahunan, melainkan perhentian reflektif untuk mengevaluasi fakta objektif, memperkuat identitas kelembagaan, serta merancang peta jalan strategis masa depan.
Meneladani Spiritualitas
Mengawali orasinya, Rm. Kris mengingatkan kembali landasan pendirian lembaga-lembaga pendidikan Katolik di wilayah Keuskupan Agung Palembang. Para misionaris dan perintis tidak mengawali karya pendidikan dengan kalkulasi untung-rugi finansial, melainkan atas dasar semangat pelayanan humanis untuk mengatasnamakan martabat manusia dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
UKMC, tegasnya, lahir dari rahim cita-cita luhur tersebut sebagai representasi kehadiran Gereja di tengah pergumulan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan pembangunan masyarakat di Sumatra Bagian Selatan. Keberlanjutan UKMC ditopang secara kokoh oleh empat dokumen dasar Magisterium Gereja. Landasan tersebut mencakup Ex Corde Ecclesiae (1990) yang menegaskan universitas Katolik lahir dari “jantung hati Gereja” sebagai laboratorium dialog antara iman dan akal budi (fides et ratio), serta Gravissimum Educationis (1965) yang menekankan pembentukan pribadi manusia secara utuh (holistic character building) demi mengasah nurani dan kepedulian sosial. Selain itu, terdapat seruan pastoral Takhta Suci melalui Disegnare Nuove Mappe di Speranza untuk berani “menggambar peta harapan baru” tanpa mengarungi samudera zaman menggunakan “peta-peta tua”, serta Piagam Sinodal Pendidikan Katolik Indonesia II (KOSDIK II 2026) yang menekankan tata kelola berprinsip sinodalitas untuk berjalan bersama lintas pemangku kepentingan dalam merespons perubahan zaman.
“Identitas Katolik UKMC tidak selesai hanya karena kampus memiliki salib di ruang kelas atau menyelenggarakan Misa semester. Identitas tersebut harus terwujud secara nyata dalam kurikulum berbasis etika, penelitian yang berdampak pada kemiskinan dan lingkungan, serta tata kelola lembaga yang adil dan transparan,” tegas Rm. Yohanes Kristianto.
Tujuh Tantangan Kritis
Membedah realitas pendidikan kontemporer, Rm. Kris memetakan tujuh tantangan kritis yang berpotensi mengancam keberlanjutan pendidikan Katolik. Tantangan tersebut diawali oleh penurunan populasi peserta didik (Demographic Shift) dari jenjang TK hingga SMA/SMK yang berdampak langsung pada pasokan calon mahasiswa baru, serta dinamika regulasi dan standar akreditasi yang menuntut efisiensi tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran. Di samping itu, disrupsi teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI) mengubah pola akses pengetahuan sehingga menuntut dosen beralih dari pengajaran satu arah menjadi mentor interaktif. Tekanan makin terasa akibat persaingan ketat dari jalur mandiri PTN skala besar maupun agresivitas PTS bermodal besar, yang mengharuskan UKMC menciptakan diferensiasi nilai yang kuat.
Tantangan lainnya mencakup perubahan profil Generasi Z dan Alpha yang membutuhkan pendekatan pedagogi berempati terhadap kesehatan mental tanpa mengorbankan integritas dan disiplin. Rm. Kris juga menyoroti masih absennya ekosistem pendidikan Katolik yang terintegrasi akibat kecenderungan lembaga berjalan sendiri-sendiri (silo mentality), hingga masalah keterbatasan finansial institusi yang dipicu oleh ketergantungan tunggal pada Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa.
Empat Seruan
Menjawab tantangan tersebut serta menyambut rumusan Arah Dasar Keuskupan Agung Palembang (ARDAS KAPal) 2027, Rm. Yohanes Kristianto menyampaikan empat seruan konkret bagi pengelola pendidikan di wilayah Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Pertama, Komisi Pendidikan Keuskupan bersama Yayasan-Yayasan Pendidikan Katolik dan Pimpinan UKMC didorong menyusun Master Plan Pendidikan Terpadu melalui pertemuan rutin untuk merumuskan rancangan induk 10–20 tahun ke depan. Kedua, perlu diwujudkan sinergi dan efisiensi sumber daya (Resource Sharing), seperti penyediaan akses laboratorium, perpustakaan digital, hingga kepakaran dosen UKMC bagi sekolah-sekolah Katolik di daerah.
Selanjutnya, langkah ketiga ditujukan pada pembentukan Dana Abadi Pendidikan (Endowment Fund) melalui penggalangan dana bersama yang melibatkan alumni, paroki, dunia usaha, dan gerakan ASAK guna menjamin modernisasi prasarana serta beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu. Terakhir, seluruh lembaga diajak menerapkan Kurikulum Adaptif Berkarakter Katolik yang mengintegrasikan keunggulan sains masa kini dengan pembentukan karakter, moralitas, dan empati sosial.
“Sinergi tidak berarti penyeragaman. Sinergi seperti sebuah orkestra musik—berbagai instrumen memainkan nada yang berbeda, namun saat tunduk pada satu partitur yang sama, ia menghasilkan simfoni yang indah. Sudah saatnya kita beralih dari kompetisi menuju sinergi, dari berjalan sendiri menuju satu gerakan besar pendidikan Katolik,” pungkasnya. (Andreas Daris Awalistyo/Palembang)



