PenaKatolik.Com | Pondok TheRita di Selat Panjang, Siantan, menjadi ruang refleksi ekologis yang memadukan pemikiran filosofis, kesadaran teologis, dan praktik nyata dalam merawat lingkungan hidup. Tempat yang dikelola Bruder MTB ini menarik perhatian Frater Egen Koten, imam projo Keuskupan Agung Samarinda, yang menjadikannya lokasi penelitian untuk menyelesaikan tesis magister (S2).
Frater Egen Koten menjalani ujian tesis pada 20 Mei 2026 di STT Bonus, Pontianak. Penelitiannya mengangkat pengalaman dan praktik ekologis yang dijalankan para Bruder MTB di Pondok TheRita, terutama dalam mengimplementasikan semangat ensiklik Laudato Si’ tentang kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.
Dalam sajian utama Buletin JPIC Bruder MTB—San Damiano 2026, Br. Gerardus MTB mengangkat hasil percakapan redaksi dengan Frater Egen Koten mengenai makna Pondok TheRita, praktik perawatan lingkungan, serta gagasan pengembangan tempat tersebut sebagai Rumah Bernalar Ekologi.
Menurut Frater Egen, Pondok TheRita bukan sekadar tempat tinggal atau ruang untuk menata lingkungan, melainkan memiliki makna teologis yang relevan dengan persoalan ekologis zaman sekarang. Dari refleksi atas tempat tersebut, dia memperkenalkan istilah Rumah Bernalar, yakni ruang yang menempatkan akal budi, logika, dan pemikiran kritis sebagai dasar untuk membangun kesadaran ekologis.
“Makna Pondok TheRita adalah pertobatan ekologis yang berlandaskan kisah sengsara Yesus Kristus yang mempertobatkan manusia dari belenggu dosa,” ungkap Frater Egen dalam wawancara tersebut.
Dia menjelaskan, gagasan itu muncul dari kesadaran bahwa kerusakan alam tidak terlepas dari perilaku manusia. Karena itu, manusia perlu menggunakan kecerdasannya untuk membaca situasi lingkungan sekaligus mengubah cara berpikir dan bertindak terhadap alam.
Bagi Frater Egen, Rumah Bernalar secara filosofis merupakan wadah atau komunitas yang menjadikan akal budi, logika, dan pemikiran kritis sebagai fondasi utama. Kesadaran tersebut seharusnya tampak dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui penataan bangunan, penghijauan, dan pemeliharaan lingkungan.
“Bumi yang nalar adalah bumi yang hijau, tidak tercemar dan tidak rusak,” jelasnya.
Merawat Bumi melalui Tindakan Nyata
Dalam penelitiannya, Frater Egen menemukan sejumlah praktik konkret yang dilakukan Bruder MTB untuk merawat lingkungan di Pondok TheRita. Upaya tersebut meliputi pembuatan pupuk organik, pengolahan limbah organik menjadi Eco Enzyme, penanaman sayuran dan buah-buahan, serta pemeliharaan ikan air tawar.
Eco Enzyme merupakan cairan yang dihasilkan melalui proses fermentasi limbah organik dan air selama tiga bulan. Pengolahannya menjadi salah satu upaya untuk memanfaatkan limbah sekaligus mendukung pengurangan penggunaan bahan kimia dalam perawatan lingkungan.
Keberadaan tanaman dan kolam ikan juga membentuk ekosistem kecil yang mendukung kehidupan komunitas. Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian ekologis dapat dimulai dari lingkungan terdekat melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan.
Praktik tersebut berangkat dari semangat Laudato Si’ yang mengajak manusia merawat bumi sebagai rumah bersama. Relasi manusia dengan alam tidak seharusnya dibangun atas dasar eksploitasi, tetapi melalui tanggung jawab, keharmonisan, dan kesadaran bahwa kehidupan manusia bergantung pada kelestarian lingkungan.
Selain merawat lingkungan di komunitas sendiri, Bruder MTB juga menyuarakan aksi ekologis di lembaga pendidikan, lingkungan agama, dan masyarakat. Upaya ini bertujuan membangkitkan kesadaran bersama agar manusia memanfaatkan alam secara bijaksana.

Lima Prinsip Membangun Kesadaran Ekologis
Dalam wawancara tersebut, Frater Egen menguraikan prinsip-prinsip yang dapat menjadi landasan bagi pengembangan Rumah Bernalar Ekologi. Dia menjelaskan prinsip interdependensi, daur ulang, kemitraan, fleksibilitas, dan keragaman.
Prinsip interdependensi menekankan saling ketergantungan antara manusia dan alam. Setiap tindakan manusia memberikan pengaruh terhadap lingkungan, sehingga keberhasilan menjaga ekosistem bergantung pada kesadaran dan tanggung jawab semua pihak.
Prinsip daur ulang menempatkan pengolahan kembali bahan yang tidak terpakai sebagai salah satu cara untuk mengurangi sampah dan mengatasi krisis ekologis. Sementara itu, prinsip kemitraan menekankan pentingnya keterbukaan, kerja sama, dan hubungan saling mendukung dalam kehidupan bersama.
Prinsip fleksibilitas berkaitan dengan kemampuan ekosistem mempertahankan atau memulihkan keseimbangannya ketika menghadapi perubahan lingkungan. Adapun prinsip keragaman menegaskan pentingnya keberagaman dan jaringan hubungan yang memperkuat komunitas sebagai suatu kesatuan.
Kelima prinsip tersebut menjadi kerangka untuk memahami bahwa kepedulian ekologis tidak cukup diwujudkan melalui tindakan individual. Perawatan bumi membutuhkan hubungan yang saling mendukung antara manusia, komunitas, dan lingkungan hidup.

Rumah Bernalar Perlu Terus Dikembangkan
Meski mengapresiasi berbagai praktik ekologis yang telah dilakukan, Frater Egen juga menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas Pondok TheRita sebagai Rumah Bernalar.
Dia menyarankan penataan bangunan komunitas agar semakin mencerminkan prinsip ekologis, perbaikan kolam ikan agar terlihat lebih indah, serta perbaikan pagar untuk menjaga keamanan lingkungan. Penataan tanaman juga perlu dilakukan, termasuk merapikan tanaman yang kurang layak dipandang dan memangkas tanaman yang tidak menghasilkan buah agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman lain.
Dalam hasil penelitiannya, Frater Egen menilai bahwa desain bangunan komunitas Bruder MTB di Selat Panjang telah memperhatikan konteks lingkungan hidup. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup penghuninya.
Praktik pengolahan sampah organik menjadi Eco Enzyme, pembuatan pupuk kompos dari dedaunan, penanaman berbagai jenis tanaman hijau, dan pemeliharaan ikan air tawar juga menjadi bagian dari temuan penelitiannya. Kegiatan tersebut memperlihatkan hubungan antara kepedulian ekologis, pemenuhan kebutuhan hidup, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
Frater Egen berharap Pondok TheRita yang kini dimaknai sebagai Rumah Bernalar dapat terus menjadi contoh pertobatan ekologis yang berkelanjutan. Dia juga mengapresiasi pembentukan tim Gerakan Rumah Bernalar oleh para Bruder MTB beserta pengelolaan lahan khusus untuk mendukung gerakan tersebut.
Harapannya, Rumah Bernalar tidak berhenti sebagai sebuah istilah atau gagasan filosofis, tetapi berkembang menjadi praktik hidup yang menginspirasi semakin banyak orang untuk merawat bumi.
Melalui Pondok TheRita, pesan ekologis Laudato Si’ menemukan bentuk nyata dalam kehidupan komunitas: berpikir secara kritis, bertindak secara bertanggung jawab, dan membangun kesadaran bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga demi keberlangsungan hidup generasi sekarang dan mendatang.*Samuel – Sumber Bruder Gerardus MTB.



