PenaKatolik.Com | Sebuah rumah di kawasan Selat Panjang, Siantan, sejak 2022 menjadi Sekretariat Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Bruder MTB. Rumah ini tidak hanya menjadi pusat pelayanan, tetapi juga berkembang menjadi ruang edukasi ekologi bagi kaum muda dan masyarakat melalui program yang dikenal dengan nama Pondok TheRita.
Nama Pondok TheRita berawal dari kata derita yang muncul secara spontan ketika para Bruder MTB menata lingkungan rumah, termasuk kolam, tanaman, dan pondok. Agar terdengar lebih gaul, kata tersebut kemudian ditulis menjadi “TheRita”.
Beragam pemaknaan muncul dari para pengunjung yang datang. Namun, di balik nama yang terkesan unik itu, tersimpan refleksi tentang perjalanan pelayanan, penderitaan, kesetiaan, dan harapan.
Dalam bahan Buletin JPIC-Bruder MTB Tahun 2026 yang dikirimkan oleh Bruder Gerardus MTB, dijelaskan bahwa pelayanan JPIC berakar pada perutusan Yesus untuk membawa kabar baik kepada orang miskin, membebaskan orang tertindas, serta mewartakan tahun rahmat Tuhan (Luk. 4:18–19).
Pelayanan tersebut juga diilhami spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi, khususnya panggilan untuk memperbaiki rumah Tuhan yang nyaris roboh. Panggilan yang bersumber dari pengalaman Santo Fransiskus di hadapan salib San Damiano itu menjadi inspirasi bagi JPIC Bruder MTB untuk merawat ciptaan dan membela kehidupan manusia yang terdampak krisis ekologi.
Membangun Kesadaran Ekologi Integral
Pondok TheRita dikembangkan sebagai ruang edukasi yang tidak hanya mengajarkan keterampilan praktis dalam menjaga lingkungan, tetapi juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap alam.
Edukasi yang dilakukan mencakup pengolahan sampah, pembuatan eco enzyme dan pupuk organik, serta kegiatan menanam berbagai jenis tanaman. Lebih dari itu, Pondok TheRita ingin membangun kesadaran mengenai pentingnya ekologi integral, yakni cara memahami keterkaitan antara manusia, lingkungan, dan kehidupan secara menyeluruh.
Dalam refleksi JPIC Bruder MTB, tantangan ekologis pada masa mendatang semakin kompleks. Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, misalnya, menjadi bagian dari perubahan kehidupan manusia yang perlu disikapi secara kritis. Pada saat yang sama, orientasi ekonomi yang mengutamakan uang dan mengabaikan martabat manusia maupun alam dapat memperburuk krisis ekologi.
Karena itu, generasi muda perlu dibekali dengan pola pikir holistik agar mampu membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama, dan seluruh alam ciptaan.
Bagi JPIC Bruder MTB, pendidikan ekologi tidak cukup berhenti pada tindakan membersihkan lingkungan. Kesadaran ekologis perlu bertumbuh menjadi sikap hidup yang menghormati martabat manusia, memperjuangkan keadilan, dan menjaga keutuhan ciptaan.
Program Bersih dan Hijau Berlandaskan Laudato Si’
Salah satu wujud nyata pelayanan JPIC Bruder MTB di Pondok TheRita adalah program “Bersih dan Hijau”, yang dijalankan dengan mengikuti semangat ensiklik Laudato Si’ tentang kepedulian terhadap rumah bersama.
Program “Bersih” diwujudkan melalui upaya mengurangi, bahkan menghentikan, penggunaan bahan-bahan yang menghasilkan sampah anorganik, seperti plastik. Sampah organik, termasuk daun-daunan dan sisa makanan dari dapur, diolah menjadi kompos, pupuk organik, dan eco enzyme.
Sementara itu, program “Hijau” dilakukan dengan menanam berbagai jenis tanaman buah, bunga, dan sayuran, baik di dalam pot maupun langsung di tanah. Pondok TheRita juga mengembangkan apotek hidup dengan menanam jahe, kunyit, temulawak, kencur, serai, serta sirih hijau dan sirih merah.
Dalam program tersebut, JPIC Bruder MTB menghidupi prinsip “menanam apa yang dimakan dan makan apa yang ditanam”. Prinsip ini mendorong pemanfaatan pangan alami sekaligus membangun kebiasaan konsumsi yang lebih dekat dengan proses produksi pangan sendiri.
Program Bersih dan Hijau juga menjadi sarana animasi dan edukasi bagi kaum muda. Kegiatan pendampingan tidak hanya berlangsung di Pondok TheRita, tetapi dapat dilakukan di sekolah dan asrama yang membutuhkan edukasi lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Pondok TheRita berupaya menghubungkan pengetahuan dengan tindakan nyata. Kepedulian terhadap bumi dimulai dari lingkungan terdekat, kemudian dikembangkan menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.

Mengolah Derita Menjadi Sukacita dan Harapan
Selain menjadi ruang edukasi ekologi, nama Pondok TheRita juga mengingatkan para pelayan JPIC akan makna penderitaan dalam perjalanan pelayanan.
Refleksi tersebut mengambil inspirasi dari Santo Paulus, khususnya dalam 2 Korintus 6:3–10. Dalam perikop itu, Paulus menggambarkan kesetiaan seorang pelayan Allah yang tetap bertahan di tengah penderitaan, kesesakan, kesukaran, dan berbagai tantangan.
Paulus menunjukkan bahwa nilai pelayanan tidak diukur dari kenyamanan hidup, melainkan dari kesetiaan menjalankan perutusan. Ia menggambarkan paradoks kehidupan seorang pelayan Allah: berdukacita, tetapi senantiasa bersukacita; dianggap miskin, tetapi memperkaya banyak orang; seolah-olah tidak memiliki apa-apa, tetapi memiliki segala sesuatu.
Bagi JPIC Bruder MTB, semangat tersebut relevan dengan perjuangan mewujudkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Perjalanan pelayanan tidak selalu mudah. Penolakan, ketidakadilan, kelelahan, dan berbagai tantangan dapat muncul, bahkan dari dalam diri sendiri.
Namun, pengalaman tersebut tidak harus menjadi alasan untuk menyerah. Dalam kasih karunia Allah, penderitaan dapat menjadi jalan pertumbuhan iman, sumber kekuatan, dan kesempatan untuk memperdalam kesetiaan.
Dari refleksi ini, Pondok TheRita tidak sekadar menjadi nama sebuah tempat. Nama tersebut juga menjadi pengingat bahwa derita bukanlah akhir dari perjalanan. Melalui iman, kesetiaan, dan kasih karunia Allah, penderitaan dapat diolah menjadi sukacita dan harapan.
Merawat Bumi, Menumbuhkan Harapan
JPIC Bruder MTB membuka kesempatan bagi kaum muda dan masyarakat yang ingin belajar mengenai kepedulian terhadap lingkungan. Mereka yang tergerak untuk datang dan belajar bersama disambut dengan senang hati.
Kehadiran Pondok TheRita menjadi salah satu bentuk nyata upaya JPIC Bruder MTB untuk terus menyuarakan pentingnya menjaga dan merawat Ibu Bumi. Pelayanan ini tidak hanya berkaitan dengan penghijauan atau pengelolaan sampah, tetapi juga pembentukan kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap sesama dan seluruh ciptaan.
Berlandaskan semangat Laudato Si’, Pondok TheRita diharapkan menjadi ruang perjumpaan, pembelajaran, dan pendampingan yang menumbuhkan kepedulian ekologis dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sebuah nama yang lahir secara spontan, Pondok TheRita berkembang menjadi pengingat akan makna pelayanan: tetap setia di tengah derita, merawat kehidupan, dan menumbuhkan harapan bagi manusia serta bumi sebagai rumah bersama.*Samuel – Sumber: Observasi bersama Bruder Gerardus, MTB.



