Bacaan dan Renungan Sabtu, 10 Oktober 2026, Pekan Biasa ke-XXVIII (Hijau)

Bacaan I – Gal 3:22-29

Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.

Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.

Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.

Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.

Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.

Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mzm 105:2-3.4-5.6-7

  • Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!
  • Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!
  • Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!
  • Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Ny dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,
  • hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!
  • Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya.

Bacaan Injil – Luk 11:27-28.

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.”

Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Mendengarkan dan Memelihara Sabda Allah

Melanjutkan pengajaran-Nya dalam Lukas 11:15-26 tentang kuasa Allah dan pentingnya mengisi hati dengan Roh Kudus, Injil Lukas 11:27-28 menghadirkan sebuah peristiwa yang sangat hangat namun penuh makna mendalam. Di tengah orang banyak yang mendengarkan Yesus, seorang perempuan berseru memuji Bunda Maria: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau!”

Seruan perempuan itu sangat wajar. Ia mengagumi Yesus dan secara naluriah menganggap betapa beruntungnya ibu yang melahirkan seorang guru dan pembuat mukjizat seagung itu. Namun, Yesus mengarahkan pandangan mereka ke tingkat kebahagiaan yang jauh lebih tinggi dan universal. Yesus menjawab: “Yang berbahagialah ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Melalui jawaban ini, Yesus tidak sedang merendahkan Bunda Maria. Sebaliknya, Yesus justru mengukuhkan alasan sejati mengapa Bunda Maria begitu terberkati. Bunda Maria berbahagia bukan hanya karena hubungan biologis sebagai ibu yang mengandung dan menyusui, melainkan terutama karena ia adalah orang pertama yang mendengarkan Sabda Allah, menerimanya dengan iman melalui perkataan “Terjadilah padaku menurut perkataanmu”, dan memeliharanya dalam hati.

Perikop singkat ini memberikan penegasan penting bagi seluruh perikop sebelumnya (Lukas 11:15-26). Agar hati kita tidak kosong dan kembali dikuasai oleh kejahatan, kita harus mengisinya dengan Sabda Allah. Namun, sekadar mendengar saja tidak cukup. Kebahagiaan sejati dan kekuatan spiritual Kristiani terletak pada tindakan memelihara Sabda tersebut—yaitu merenungkannya, menghidupinya, dan mengamalkannya dalam tindakan kasih sehari-hari.

Ketika kita setia mendengarkan dan melakukan firman Allah, kita diangkat menjadi keluarga rohani Kristus. Kita tidak hanya mengagumi kebaikan Yesus dari jauh, tetapi mengizinkan Sabda-Nya mengubah dan memenuhi seluruh hidup kita.

Doa Penutup

Ya Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas panggilan untuk menjadi murid-murid Putra-Mu. Buka dan lembutkanlah hati kami agar senantiasa peka mendengarkan Sabda-Mu yang hidup. Berilah kami rahmat dan keberanian untuk memelihara serta menghidupi firman-Mu dalam tindakan nyata sehari-hari, sebagaimana Bunda Maria telah meneladankannya. Semoga hati kami selalu dipenuhi oleh Roh Kudus dan menjadi kediaman yang layak bagi Kristus, Sang Sabda yang Menjadi Manusia. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

***

Santo Daniel dkk, Martir

Penyebaran iman Kristen tidak terlepas dari pengejaran dan penganiayaan terhadap para penyebarnya. Moroko adalah negeri yang banyak juga menumpahkan darah para martir. Pada tahun 1220 tercatat lima orang misionaris dari Ordo Fransiskan – martir-martir perintis pewartaan Injil di Moroko – dibunuh oleh orang-orang Islam Moroko. Tujuh tahun kemudian 6 orang misionaris Fransiskan diutus lagi ke sana untuk mewartakan Injil. Mereka itu ialah Samuel, Angelo, Leo, Domnus, Nicholas dan Hugolino. Mereka berangkat ke Moroko melalui Spanyol. Di Spanyol keenam misionaris itu bergabung dengan Daniel, seorang bruder yang diutus mewakili provinsi Gerejawi Calabria.

Di bawah pimpinan bruder Daniel, keenam misionaris Fransiskan itu tiba di Moroko pada tanggal 20 September 1227. Mereka melanjutkan perjalanan ke Ceuta, sebuah kota perdagangan yang dihuni oleh orang-orang Eropa. Di Ceuta mereka mulai mewartakan Injil di jalan-jalan, terutama di tempat-tempat di mana banyak orang berkumpul. Mereka berhasil mempertobatkan sejumlah besar orang.

Timbullah kekacauan di kota itu sehubungan dengan kegiatan mereka. Orang-orang Islam yang tidak puas dengan kegiatan itu, menangkap dan menghadapkan mereka ke depan Kadi (Pembesar kota). Kadi menganggap mereka orang-orang gila karena pakaian mereka sangat kotor dan kepala mereka tidak bertudung. Mereka disiksa dan dihina di muka umum lalu dipenjarakan.

Di dalam penjara Daniel menulis surat kepada orang-orang yang telah menjadi Kristen untuk menguatkan hati mereka sambil menceritakan apa yang sedang terjadi atas diri mereka di dalam penjara. Ia menasehati mereka agar tetap berpegang teguh pada iman Kristen yang telah mereka terima dalam situasi sulit apapun. Sementara itu penyelidikan atas mereka terus dilakukan. Akhirnya diketahui bahwa mereka itu bukanlah orang-orang gila melainkan misionaris-misionaris Kristen yang mau mengkristenkan orang-orang Islam.

Karena itu mereka sekali lagi disiksa dan dipaksa supaya mengingkari imannya. Tetapi pendirian mereka tak dapat dilumpuhkan dengan siksaan apa pun. Mereka tetap memaklumkan Kristus dan menyangkal Nabi Muhamad SAW. Akhirnya mereka mati dipenggal. Jenazah mereka dimakamkan di sana oleh umat Kristen setempat. Beberapa lama kemudian jenazah para martir itu dipindahkan ke Spanyol. Mereka dinyatakan sebagai martir oleh Sri Paus Leo X (1513-1521) pada tahun 1516.

Santo Paulinus dari York, Uskup dan Pengaku Iman

Paulinus lahir di Roma sekitar tahun 584. Pada tahun 601, ia bersama beberapa orang rekannya diutus oleh Sri Paus Gregorius I untuk mewartakan Injil di Inggris, di kalangan suku bangsa Anglo Saxon, warga Kerajaan Northumbria. Setelah tiba di Inggris, Paulinus bekerja di Kerajaan Kent sampai tahun 625. Pada tahun itu diselenggarakan perkawinan antara Edwin, raja Northumbria yang masih kafir, dengan Ethelburga, saudari raja Kent yang sudah memeluk agama Kristen.

Sehubungan dengan perkawinan itu Paulinus mengajukan kepada Edwin syarat berikut ini: Perkawinan itu tidak boleh membatasi kebebasan Ethelburga, dalam melaksanakan kewajiban agamanya dan Edwin harus melindungi Ethelburga dalam menghayati imannya. Edwin benar-benar tulus dan menerima syarat itu. Paulinus, yang sudah ditahbiskan menjadi Uskup bersedia pindah ke Northumbria untuk mendampingi Ethelburga sebagai penasehat dan pembimbing rohaninya.

Pada awal karyanya di Northumbria, Paulinus perlahan-lahan menanamkan iman Kristen dalam hati orang-orang Northumbria termasuk Edwin sendiri. Edwin kemudian bertobat dan dipermandikan pada tahun 627. Peristiwa ini berdampak besar pada seluruh rakyat Northumbria. Banyak orang yang menjadi Kristen mengikuti contoh Edwin. Tetapi enam tahun kemudian, ketika Kerajaan Northumbria diserang oleh orang-orang kafir dari Kerajaan Mercia, keberhasilan Paulinus dalam mengkristenkan orang-orang Northumbria hancur berantakan.

Situasi semakin menjadi kacau setelah Edwin sendiri dibunuh di benteng Hatfield pada tahun 633. Semua karya misioner dihentikan. Paulinus bersama Ethelburga dan dua orang anaknya kembali ke kerajaan Kent yang aman dari segala gangguan. Selanjutnya Paulinus tidak kembali lagi ke Northumbria. Ia kemudian dikirim ke Rochester untuk menduduki takhta keuskupan itu. Di sana pula ia meninggal dunia pada tanggal 10 Oktober 644.

Santo Gregorios Penerang

Gregorios dikenal sebagai rasul Armenia dan pendiri Gereja Armenia. Tempat kelahirannya tidak diketahui jelas tetapi beliau lahir kira-kira pada tahun 257. Ia dijuluki ‘Penerang’ karena membawa terang Injil kepada bangsa Armenia. Gereja menghormatinya sebagai santo pelindung Gereja Armenia. Menurut tradisi, Gregorios beristeri dan menjadi salah seorang anggota Dewan Pengadilan Raja Tiridates (259-314) di Armenia. Ketika diketahui bahwa Gregorios adalah misionaris Kristen yang giat mewartakan Injil bagi orang-orang Armenia, Tiridates menyiksa dan memenjarakan dia. Tetapi kemudian Tiridates sendiri bertobat dan dipermandikan.

Gregorios kemudian diangkat menjadi uskup di kota tua Ashtishat, yang berdekatan dengan kota Erzincan, Turki. Sebagai pemimpin Gereja Armenia, Gregorius mengutus banyak misionaris ke seluruh negeri dan mendidik putera-putera Armenia untuk menjadi imam. Pada tahun 303 Raja Tiridates menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi di Armenia. Dengan begitu Armenia menjadi negara Kristen pertama di kawasan itu. Pada hari tuanya, Gergorius menyerahkan keuskupannya kepada anaknya, lalu mengundurkan diri ke dalam biara. Ia meninggal dunia di propinai Taron, Armenia pada tahun 330.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini