Bacaan dan Renungan Senin, 7 September 2026, Pekan Biasa ke-XXII (Hijau)

Bacaan Pertama – 1 Korintus 5:1-8

Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus.

Saudara-saudara, ada berita bahwa di antara kalian terdapat percabulan; bahkan percabulan yang begitu rupa yang di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun tidak terdapat; yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.

Sekalipun demikian, kalian malahan menyombongkan diri. Tidakkah lebih patut kalian berdukacita dan menyingkirkan orang yang berbuat demikian dari tengah-tengah kalian? Sekalipun aku tidak hadir secara badani, namun secara rohani aku hadir, dan aku menjatuhkan hukuman atas orang yang berbuat demikian, seakan-akan aku hadir di tengah kalian.

Jadi bila kita, kalian bersama dengan aku, berkumpul dalam Roh dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita serahkan kepada Iblis dalam nama Tuhan Yesus, sehingga tubuhnya binasa, tetapi rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.

Maka tidak baiklah kalian menyombongkan diri. Tidak tahukah kalian, bahwa ragi yang sedikit saja dapat meresapi seluruh adonan? Maka buanglah ragi yang lama, supaya kalian menjadi adonan yang baru, sebab kalian memang tidak beragi.

Sebab Kristus, Anak Domba Paskah kita sudah disembelih. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, melainkan dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.

Mazmur Tanggapan: Mzm 5:5-6.7.12

Ref. Tuhan, bimbinglah aku dalam keadilan-Mu.

  • Engkau bukanlah Allah yang berkenan akan kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu. Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau benci terhadap semua orang yang melakukan kejahatan.
  • Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, Tuhan jijik melihat penumpah darah dan penipu.
  • Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; karena Engkau, akan bersukarialah orang-orang yang mengasihi nama-Mu.

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya, alleluya.

Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.

Bacaan Injil – Lukas 6:6-11

Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat.

Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, agar mereka mendapat alasan untuk menyalahkan Dia.

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Ia berkata kepada orang yang mati tangan kanannya, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri di tengah.

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kalian: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?”

Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkan tangannya dan sembuhlah ia. Maka meluaplah amarah ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Mewujudkan Kasih Allah di Tengah Jalan Salib

Kehidupan iman kita sering diuji di persimpangan antara keberanian melakukan kebaikan dan ketakutan akan penolakan manusia. Penggabungan perikop-perikop sebelumnya (Lukas 4:16–6:5; Matius 18:15-20) yang kini diperluas dengan Lukas 6:6-11 menemukan dasar panggilannya yang radikal dalam Matius 16:21-27.

Dalam Lukas 6:6-11, Yesus mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat dan mendapati seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamati-Nya dengan cermat untuk mencari alasan menuduh-Nya. Yesus mengetahui pikiran mereka, namun Ia tidak mundur. Ia mengajukan pertanyaan yang menelanjangi kebebalan hati mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membinasakannya?” Tanpa ragu, Yesus menyembuhkan orang itu. Pilihan Yesus untuk berbuat baik demi keselamatan manusia membakar amarah musuh-musuh-Nya, sebuah keputusan yang semakin mempercepat langkah-Nya menuju jalan penderitaan.

Keteguhan sikap Yesus dalam Lukas 6:6-11 menjadi bukti nyata dari pengajaran-Nya dalam Matius 16:21-27. Yesus tidak pernah memilih jalan yang aman demi menyenangkan manusia atau menghindari konflik. Ketika Ia mengajar para murid bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita, dan dibunuh, Petrus mencoba menolak-Nya. Namun, Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang mau mengikut-Nya harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia.

Tindakan Yesus menyembuhkan pada hari Sabat adalah contoh konkret dari menyangkal diri dan memikul salib. Demi menyelamatkan sesama, Yesus rela dibenci, dituduh melanggar hukum, dan diintai untuk dibunuh. Menjadi murid Kristus berarti berani mengambil risiko demi kebenaran dan kasih, meskipun harus berhadapan dengan tekanan sosial atau penolakan. Jika kita hanya mencari aman dan mempertahankan pujian duniawi, kita akan kehilangan nyawa rohani kita. Sebaliknya, ketika kita berani kehilangan kenyamanan diri demi setia memperjuangkan kasih Allah, kita menemukan kehidupan sejati yang kekal.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengajar kami untuk berani memperjuangkan kebaikan dan kasih tanpa takut pada ancaman dunia. Ampunilah kami bila kami sering kali ragu berbuat benar karena lebih memikirkan penilaian manusia daripada kehendak Bapa. Curahkanlah Roh Kudus-Mu agar kami memiliki keberanian untuk menyangkal diri dan memikul salib hidup kami setiap hari. Mampukan kami menjadi sarana pemulihan bagi sesama yang menderita, demi kemuliaan nama-Mu. Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami kini dan sepanjang masa. Amin.

***

Santa Regina, Perawan dan Martir

Menurut cerita – cerita yang berkembang di negeri Prancis, Regina dikenal sebagai anak dari Klemens, seorang kafir di kota Alicem Burgundia. Ibunya meninggal dunia ketika Regina masih kanak – kanak. Oleh ayahnya ia diserahkan kepada seorang ibu yang beragama Kristen. Ibu ini mendidik Regina menurut kebiasaan hidup Kristiani, hingga akhirnya Regina menjadi Kristen.

Ketika terdengar berita bahwa anaknya sudah memeluk agama Kristen, sang ayah tidak sudi lagi mengakui Regina sebagai anak kandungnya. Regina selanjutnya terus berada di bawah bimbingan ibu Kristen pengasuhnya. Untuk menunjukkan baktinya kepada inang pengasuhnya itu, Regina membantu mengembalakan ternak – ternak ibu itu.

Regina terus berkembang dewasa dan tambah cantik. Banyak orang tertarik padanya dan bermaksud menjadikan dia sebagai isteri mereka. Tak terkecuali pembesar kota itu, Olybirus, gubernur kota Alice tertarik sekali pada Regina. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan Regina sebagai isterinya. Ia meminang Regina. Tatkala ayahnya mendengar berita gembira ini, kembali ia mengakui Regina sebagai anaknya, karena yakin bahwa kehidupannya akan menjadi lebih baik oleh perkawinan anaknya dengan gubernur.

Tetapi apa yang diharapkan sang ayah tidaklah tercapai. Regina dengan tegas menolak pinangan sang gubernur karena tahu bahwa gubernur Olybrius masih kafir. Klemens sangat marah, tetapi tidak mau menyerah kalah. Ia terus membujuk Regina agar mau menerima pinangan gubernur. Namun usaha – usaha itu sia – sia karena Regina terus tetap pada pendiriannya. Lalu Klemens, ayahnya menyeret dia dan memasukkan dia ke dalam sebuah gudang gelap di bawah tanah.

Olybrius pun demikian. Ia menyuruh kaki tangannya menangkap Regina dan memenjarakannya. Disana Regina didera dengan berbagai siksaan dengan maksud agar ia memenuhi pinangan Olybrius. Meski berbagai siksaan ditimpakan padanya, ia tetap tidak goyah. Ia terus berdoa mohon kekuatan Allah. Pada malam hari, ia dihibur oleh suara ajaib yang mengatakan bahwa ia akan segera bebas dari penjara. Keesokan harinya, ia disiksa lagi oleh serdadu – serdadu gurbernur untuk kemudian dipenggal kepalanya.

Tuhan tetap setia pada hambanya. Pada saat Regina hendak dipenggal kepalanya, tiba – tiba tampaklah seekor burung merpati yang putih kemilau hinggap diatas kepalanya. Banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu mengakui kesucian Regina dan bertobat. Namun pemenggalan kepala Regina tetap dilaksanakan oleh serdadu – serdadu Gubernur Olybrius. Regina mati sebagai martir Kristus pada tahun 303 di Autun, Prancis.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini