Paus Leo XIV Serukan Perdamaian Dunia di Tengah Krisis Kemanusiaan Sudan dan Konflik Ukraina

VATIKAN, Pena Katolik — Di hadapan ribuan umat yang memadati Lapangan Santo Petrus di tengah terik musim panas Roma, Paus Leo XIV menyampaikan seruan kuat untuk perdamaian dunia usai memimpin Doa Angelus pada Minggu 9 Agustus 2026. Dalam amanatnya, Pemimpin Gereja Katolik Dunia tersebut secara khusus menyoroti krisis kemanusiaan yang memburuk di Sudan serta eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina.

Menggunakan bahasa Inggris, Paus Leo XIV mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi tragis yang menimpa masyarakat Sudan, khususnya di Kota el-Obeid. Kota yang dikuasai Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) tersebut saat ini berada di bawah pengepungan ketat Pasukan Pendukung Cepat (RSF), menyisakan lebih dari 500.000 jiwa tanpa akses ke kebutuhan dasar.

“Saya terus mengikuti dengan prihatin situasi tragis di Sudan, terutama di Kota el-Obeid,” ujar Paus. “Dalam mengungkapkan kedekatan spiritual saya kepada seluruh rakyat bangsa tersebut, saya memperbarui imbauan saya kepada pihak yang berwenang untuk menjamin adanya koridor kemanusiaan bagi populasi sipil.”

Krisis di Sudan kian diperparah oleh maraknya perang drone, kekerasan seksual, hingga ancaman kelaparan massal yang terus mengintai warga sipil di tengah pertempuran sengit kedua belah pihak.

Serangan di Ukraina

Selain Sudan, Paus Leo XIV juga memberikan perhatian serius pada perang yang masih bergejolak antara Ukraina dan Rusia. Beliau menyesalkan semakin meningkatnya aksi kekerasan yang terus memakan korban jiwa dari kalangan masyarakat yang tak berdosa.

Paus menegaskan bahwa insiden serangan yang beruntun dan kian meluas telah mengorbankan banyak warga sipil, termasuk anak-anak. Beliau pun mendesak kedua belah pihak untuk menghormati hukum humaniter internasional dan segera menghentikan serangan terhadap sasaran sipil.

“Di hadapan begitu banyak penderitaan, saya memperbarui imbauan tulus saya agar hukum humaniter dihormati dan kedua belah pihak menghentikan serangan terhadap target sipil,” tegasnya. “Perang hanya akan melahirkan perang baru dan menyebabkan penderitaan yang luar biasa.”

Renungan Angelus

Sebelum menyampaikan seruan politik dan kemanusiannya, Paus Leo XIV memimpin renungan Doa Angelus pada Hari Minggu Biasa XIX ini dari jendela Istana Apostolik. Renungan tersebut diambil dari Injil Matius (Mt 14:22-33), yang mengisahkan Yesus berjalan di atas air dan menolong para murid-Nya yang dihantam badai di Danau Galilea.

Paus menggarisbawahi bagaimana para murid yang baru saja menyaksikan mukjizat penggandaan roti dan ikan, mendadak menjadi tidak berdaya dan ketakutan saat diterpa angin sakal. Menurut Paus, pesan teologis penting dari kisah ini adalah bahwa manusia sering kali baru bisa mengenali kehadiran Tuhan setelah menyadari rapuhnya diri mereka sendiri.

Melalui narasi Santo Petrus yang sempat berjalan di atas air namun mulai tenggelam karena rasa takut sebelum akhirnya diselamatkan Yesus, Paus memberikan dua pelajaran praktis bagi umat beriman:

Tidak menjadi sombong saat meraih kesuksesan atau menilai diri secara berlebihan. Tidak berputus asa saat menghadapi cobaan yang membuat seolah-olah segala sesuatu berada di luar kendali.

“Bahkan ketika angin berhembus menentang kita, dalam Dialah kita akan menemukan kedamaian, terang, dan kekuatan untuk perjalanan kita,” ungkap Paus seraya mengajak umat untuk selalu menyambut Kristus ke dalam “perahu kehidupan” melalui doa, sakramen, dan Sabda-Nya.

Mengakhiri doanya, Paus Leo XIV menyapa para peziarah dalam berbagai bahasa. Beliau juga memberikan peringatan khusus untuk mengenang para korban bom atom Hiroshima dan Nagasaki yang memperingati ulang tahun ke-81 pada pekan ini, sembari terus memohon doa untuk perdamaian di Ukraina, Timur Tengah, dan Sudan.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini