Dari Horeb kepada Kristus: Taurat dan Para Nabi Mencapai Kepenuhannya

Ditulis oleh Romo Yudel Neno

Gunung dalam Kitab Suci bukan sekadar bentangan geografis. Gunung adalah ruang simbolik tempat manusia meninggalkan keramaian di bawah untuk memasuki kedalaman perjumpaan dengan Allah. Karena itu, dalam sejarah keselamatan, gunung sering menjadi locus theologicus: tempat Allah menyatakan diri, manusia mendengarkan, dan sejarah memperoleh arah baru. Dalam kerangka inilah Sinai/Horeb, Musa, Elia, dan akhirnya peristiwa Transfigurasi Yesus harus dibaca sebagai satu garis teologis yang mengarah kepada Kristus sebagai kepenuhan Wahyu.

Musa naik ke Gunung Sinai di tengah perjalanan eksodus bangsa Israel. Di sana, Allah menyatakan kehendak-Nya dan menyerahkan dua loh batu sebagai tanda Perjanjian. Musa kemudian tampil sebagai figur utama Taurat. Melalui Musa, bangsa Israel tidak hanya dibebaskan dari perbudakan Mesir, tetapi diarahkan menuju kebebasan yang bertanggung jawab di hadapan Allah. Taurat menjadi jalan hidup umat perjanjian. Maka Musa bukan hanya pemimpin perjalanan geografis dari Mesir menuju Tanah Terjanji, melainkan juga pemimpin perjalanan spiritual dari perbudakan menuju kehidupan menurut kehendak Allah.

Berabad-abad kemudian, Elia tiba di Horeb. Dalam kegelisahan dan pergumulan hidupnya sebagai nabi, ia mengalami kehadiran Allah bukan terutama dalam angin besar, gempa atau api, melainkan dalam keheningan yang lembut. Jika Musa menjadi representasi Taurat, Elia dapat dilihat sebagai representasi tradisi kenabian. Nabi adalah penyambung lidah Allah yang terus-menerus memanggil umat untuk kembali kepada kesetiaan perjanjian.

Musa dan Elia dengan demikian berdiri sebagai dua poros besar Perjanjian Lama: Taurat dan Para Nabi. Yang satu membawa hukum Allah; yang lain menyerukan kembali kesetiaan terhadap kehendak Allah. Keduanya menunjuk melampaui dirinya sendiri menuju kepenuhan yang akan datang.

Kepenuhan itu tampak secara sangat simbolis dalam peristiwa Transfigurasi. Injil tidak menyebut gunung Transfigurasi sebagai Horeb, tetapi mengatakan bahwa Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes ke sebuah “gunung yang tinggi”. Di sana wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih bercahaya. Kemudian tampaklah Musa dan Elia berbicara dengan-Nya.

Kehadiran Musa dan Elia bukan kebetulan. Secara teologis, peristiwa itu menyampaikan argumen yang sangat kuat: Taurat dan Para Nabi sekarang berdiri di sekitar Kristus. Mereka tidak menjadi pusat; Yesuslah pusatnya. Mereka tidak menggantikan Yesus; kehadiran mereka justru memberi kesaksian tentang Dia.

Karena itu, ketika Petrus hendak mendirikan tiga kemah—untuk Yesus, Musa dan Elia—suara dari awan memberikan penegasan yang menentukan: “Inilah Anak yang Kukasihi… dengarkanlah Dia.” Di sinilah hierarki pewahyuan menjadi terang. Musa harus didengarkan sebagai pemberi Taurat. Elia harus didengarkan sebagai nabi. Tetapi ketika Sang Putera hadir, seluruh perhatian diarahkan kepada-Nya: “Dengarkanlah Dia.”

Kristus bukan sekadar nabi baru sesudah Elia dan bukan pula pembaru hukum sesudah Musa. Ia adalah kepenuhan dari keduanya. Taurat mencapai makna terdalamnya dalam Kristus, dan pewartaan para nabi mencapai tujuan akhirnya dalam Kristus. Apa yang dahulu disampaikan Allah melalui hukum dan perkataan para nabi, kini hadir sebagai Pribadi.

Di sinilah terdapat perbedaan fundamental antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam perjalanan Perjanjian Lama, Allah berbicara melalui para utusan-Nya. Ia bersabda melalui Musa, para nabi dan sejarah umat-Nya. Dalam Kristus terjadi sesuatu yang jauh lebih radikal: Allah tidak hanya menyampaikan Sabda; Sang Sabda sendiri datang dan tinggal di antara manusia. Pewahyuan tidak lagi hanya berbentuk pesan tentang Allah, melainkan kehadiran Allah yang mendatangi manusia.

Perspektif ini sekaligus memperlihatkan dimensi transendensi dan imanensi Allah. Allah adalah Yang melampaui dunia, tetapi sekaligus Allah yang memasuki sejarah manusia. Ia tidak kehilangan keilahian-Nya ketika mendekati manusia, dan kedekatan-Nya tidak menghapus kemisterian-Nya.

Dalam dialog filosofis, pemikiran Alfred North Whitehead tentang primordial nature dan consequent nature of God dapat membantu memberikan bahasa analogis. Dalam “hakikat awali”, Allah dipahami dalam relasinya dengan segala kemungkinan; sedangkan dalam “hakikat akhiri”, realitas dunia sungguh diperhitungkan dalam relasi dengan Allah. Tentu konsep Whitehead tidak dapat begitu saja disamakan dengan doktrin Kristiani tentang Allah. Namun secara filosofis ia membantu menunjukkan bahwa berbicara tentang Allah bukan hanya berbicara mengenai Yang transenden dan jauh, tetapi juga mengenai relasi Allah dengan proses konkret dunia.

Dalam Kristus, iman Kristiani menemukan bentuk paling radikal dari kedekatan itu. Allah memasuki sejarah, merasakan pergumulan manusia, berjalan bersama manusia, bahkan memikul penderitaannya. Dalam bahasa pastoral, Allah menjadi senasib dan sepenanggungan dengan manusia tanpa berhenti menjadi Allah.

Maka perjalanan dari Sinai/Horeb menuju gunung Transfigurasi sesungguhnya adalah perjalanan menuju satu kesimpulan iman: Kristus adalah puncak Wahyu. Musa menunjuk kepada-Nya. Elia mempersiapkan jalan kepada-Nya. Taurat menemukan kepenuhannya dalam Dia. Para nabi menemukan penggenapan pewartaannya dalam Dia. Dan suara Bapa menegaskan kepada Gereja sepanjang zaman: Dengarkanlah Dia.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini