ROMA, Pena katolik – Setiap terjemahan Alkitab memiliki pendekatan dan tujuan yang berbeda-beda, mulai dari yang berusaha mempertahankan kata per kata sesuai teks asli (kata demi kata/formal equivalence) hingga yang berfokus pada penyampaian makna kalimat dengan bahasa modern (makna demi makna/dynamic equivalence).
1. Alkitab Terjemahan Baru
Pendekatan: Terjemahan Alkitab TB mengikuti asas “pendekatan formal” atau “terjemahan harfiah”, yaitu proses penerjemahan diusahakan sedapat mungkin mengikuti arti “harfiah” dari kata atau frasa dari naskah sumber, sehingga hasil terjemahan dapat mempertahankan sejauh mungkin bentuk asli dari teks Kitab Suci tetapi tetap mengikuti kaidah kebahasaan (bahasa Indonesia).
Karakteristik: Terjemahan ini ini diselesaikan pada tahun 1970. Seluruh Perjanjian Baru diterbitkan pada tahun 1971, kemudian seluruh kitab (termasuk Perjanjian Lama) diterbitkan pada tahun 1974. Edisi kedua Alkitab Terjemahan Baru diselesaikan pada 2023, versi terakhir ini yang sekarang digunakan di Indonesia.
Terjemahan Alkitab TB terkesan agak kaku dan tidak selalu mudah dipahami, walaupun cukup sesuai buat studi. Teks-teks Alkitab TB diterjemahkan dari naskah-naskah bahasa aslinya. Untuk Perjanjian Lama, naskah sumber diambil dari kitab-kitab Ibrani versi Biblia Hebraica oleh Rudolf Kittel dengan merujuk pada Naskah Masorah dan Naskah Laut Mati. Sedangkan untuk Perjanjian Baru, naskah sumber diambil dari kitab-kitab Yunani versi Novum Testamentum Graece oleh Nestle Aland.
Penggunaan Sehari-hari: Terjemahan ini menjadi versi Kitab Suci yang digunakan di kalangan Gereja Protestan di Indonesia. Penggunaannya baik untuk kegiatan ibadah, studi Kitab Suci, maupun untuk kepentingan sehari-hari.
2. Alkitab Deuterokanonika
Pendekatan: Terjehaman ini merupakan Alkitab Terjemahan Baru dengan tambahan kitab-kitab Deuterokanonika, maka diberi nama Alkitab Deuterokanonika, diterbitkan dengan hak cipta bersama LAI dan Lembaga Biblika Indonesia (LBI). Versi ini diselesaikan dan terbit pada pada tahun 1976. Alkitab ini digunakan dalam peribadatan dan misa dalam Gereja Katolik di Indonesia.
Alkitab Deuterokanonika Edisi Kedua (DCTB2), yang diterbitkan bersamaan dengan Alkitab TB umum demi menyempurnakan versi Alkitab Deuterokanonika yang pertama, juga menggunakan sumber dan asas penerjamahan yang sama dengan edisi sebelumnya tersebut.
Karakteristik: Bagian Perjanjian Lama (Protokanonika) dan Perjanjian Baru menggunakan teks yang sama dengan Alkitab TB yang umum, sementara bagian Deuterokanonika menggunakan teks yang diterjemahkan dari Septuaginta dengan asas “pendekatan formal” atau “terjemahan harfiah”.
1. Alkitab Terjemahan Baru
5. King James Version (KJV)
Pendekatan: Terjemahan alkitab ini memakai pendekatan “kata demi kata” dengan bahasa Inggris Klasik/Arhaik.
Karakteristik: Diterbitkan pertama kali pada tahun 1611 atas perintah Raja James I dari Inggris. KJV memiliki nilai kebahasaan dan sastra yang sangat tinggi dengan gaya bahasa yang megah (majestic). Menggunakan bahasa Inggris kuno (seperti thee, thou, unto).
Penggunaan Sehari-hari: Terjemahan ini cocok untuk studi literatur, hafalan ayat klasik, dan pembaca yang menyukai keindahan bahasa Inggris era Shakespeare.
6. New King James Version (NKJV)
Pendekatan: Versi modern dari KJV. Terjemahan alkitab ini menggunakan Bahasa Inggris versi modern sebagai pengembangan dari KJV.
Karakteristik: Diterbitkan pada tahun 1982 untuk memperbarui tata bahasa dan kosakata KJV agar lebih mudah dipahami oleh pembaca modern, tanpa mengubah struktur ayat dan gaya bahasa klasik yang menjadi ciri khas KJV.
Penggunaan Sehari-hari: Pembaca yang menyukai ketelitian dan ritme KJV tetapi menginginkan bahasa Inggris modern yang bebas dari kata-kata arhaik.
7. New American Standard Bible (NASB)
Pendekatan: Terjemahan ini menggunakan kata demi kata secara sangat ketat dari Bahasa asli, diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris (*Literal*).
Karakteristik: Dikenal luas sebagai salah satu terjemahan Alkitab bahasa Inggris yang paling akurat dan literal terhadap naskah asli (Ibrani, Aramaik, dan Yunani). Karena keakuratannya yang kaku, tata bahasanya terkadang terasa kurang mengalir saat dibaca keras.
Penggunaan Sehari-hari: Pendalaman Alkitab secara mendalam, studi ekspositori, dan analisis tata bahasa naskah asli.
8. English Standard Version (ESV)
Pendekatan: Kata demi kata yang seimbang (Essentially Literal).
Karakteristik: Diterbitkan pada tahun 2001, ESV berupaya mempertahankan keakuratan kata demi kata seperti NASB, namun dengan tata bahasa Inggris modern yang lebih luwes dan enak dibaca. Versi ini sangat populer di kalangan akademisi dan gereja-gereja evangelis saat ini.
Penggunaan Sehari-hari: Khotbah, pendalaman Alkitab mandiri, dan pembacaan sehari-hari yang membutuhkan ketelitian teks.
9. Christian Standard Bible (CSB)
Pendekatan: Seimbang antara kata demi kata dan makna demi makna.
Karakteristik: Terjemahan ini menjelaskan makna teks asli secara akurat tanpa mengorbankan keterbacaan. CSB berada tepat di tengah-tengah spektrum terjemahan: tidak seterikat ESV/NASB, namun tidak sebebas NLT.
Penggunaan Sehari-hari: Kebaktian umum, kelompok sel, dan pembacaan harian yang seimbang antara akurasi dan keterbacaan.
10. New International Version (NIV)
Pendekatan: Makna demi makna lebih dekat dengan gagasan sehari-hari zaman ini.
Karakteristik: Salah satu terjemahan Alkitab paling populer di dunia. NIV tidak menerjemahkan kata per kata secara kaku, melainkan menerjemahkan gagasan atau makna dari bahasa asli ke dalam bahasa Inggris modern yang natural dan mudah dimengerti.
Penggunaan Sehari-hari: Pembacaan Alkitab harian, pemula, khotbah umum, dan pemahaman cepat terhadap jalan cerita teks.
11. NLT (New Living Translation)
Pendekatan: Makna demi makna dalam Alkitab yang sangat kontekstual. Setiap kalimat ditulis untuk menggambarkan konteks kejadian asli dalam setiap momen iman yang ditulis dan digambarkan dalam Akitab.
Karakteristik: Berfokus sepenuhnya pada kejelasan pesan agar dampaknya terasa sama bagi pembaca modern seperti halnya pembaca abad pertama. Bahasa yang digunakan sangat santai, mengalir, dan mudah dicerna bahkan oleh anak-anak atau pembaca pemula.
Penggunaan Sehari-Hari: Renungan harian (*devotional*), pembacaan narasi/sejarah Alkitab yang panjang, anak-anak, serta pembaca muda.



