Bentuk Calon Imam yang Peka Kemanusiaan, Seminari Menengah St. Paulus Palembang Gandeng GenSa Gelar Sosialisasi Bahaya TPPO

PALEMBANG, PENA KATOLIK — Dalam upaya membekali para calon imam agar memiliki kepekaan sosial yang tinggi, Seminari Menengah Santo Paulus Palembang menggelar kegiatan sosialisasi terkait Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Kegiatan yang menyasar siswa kelas Retorika B dan Gramatika ini dilaksanakan berkolaborasi dengan komunitas anak muda Generasi Samaritan (GenSa).

Melalui pembekalan ini, para seminaris (calon imam) diajak untuk menyadari bahwa keberpihakan Gereja terhadap martabat manusia merupakan hal mutlak di tengah maraknya krisis kemanusiaan modern. Salah satu fokus utama yang dibahas adalah dinamika perdagangan orang di Indonesia yang kini kian masif memanfaatkan celah teknologi digital, media sosial, dan platform daring dalam menjerat korbannya.

Kepala Sekolah SMA Seminari Menengah Santo Paulus Palembang, Aloysius, menegaskan bahwa pemahaman mengenai isu TPPO ini merupakan bagian krusial dari proses formasi atau pembentukan karakter para calon imam.
“Kegiatan ini memberikan fondasi penting mengapa Gereja tidak boleh bersikap netral atau acuh tak acuh terhadap persoalan kemanusiaan. Seorang calon imam dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus secara nyata dengan membela martabat manusia, terutama bagi mereka yang menjadi korban ketidakadilan,” ujar Aloysius dalam sambutannya.

Materi edukasi TPPO disampaikan langsung oleh Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus (Romo Paschal), Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Pangkalpinang sekaligus pendamping Generasi Samaritan.

Romo Paschal memaparkan bahwa modus kejahatan TPPO saat ini telah bergeser. Pelaku tidak lagi dominan menggunakan kekerasan fisik di awal, melainkan lewat manipulasi psikologis, penyalahgunaan relasi kepercayaan, serta memanfaatkan teknologi digital untuk menjebak korban yang rentan. Dari perspektif iman Katolik, ia mengingatkan para siswa bahwa TPPO bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan sebuah luka mendalam bagi kemanusiaan karena merusak martabat manusia yang diciptakan serupa dengan gambar Allah.

Suasana sosialisasi semakin hidup dengan hadirnya Generasi Samaritan (GenSa). Komunitas orang muda ini membagikan kesaksian iman mereka melalui aksi nyata, pembinaan, dan edukasi dalam mendampingi sesama yang terluka. Terinspirasi dari kisah “Orang Samaria yang Murah Hati”, GenSa mengajak para seminaris untuk menjadi motor penggerak yang memiliki mata yang terbuka, hati yang peka, dan tangan yang siap menolong sesama tanpa membeda-bedakan.

Melalui sinergi ini, Seminari Menengah Santo Paulus Palembang berharap para santri calon imam masa depan ini semakin teguh dalam meyakini bahwa mewartakan Injil harus berjalan beriringan dengan pembelaan terhadap hak-hak kemanusiaan. Gereja dipanggil untuk menjadi menyuarakan suara bagi mereka yang tak bersuara (voice for the voiceless) serta menjadi benteng pelindung bagi kelompok yang rentan dari bahaya perdagangan orang dan kekerasan.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini