NAMLEA, Pena Katolik – Pulau Buru dikenal karena pernah menjadi Kamp Pembuangan untuk para tahanan politik pasca peristiwa G30S. Pulau ini mulai menjadi kamp tahanan sejak tahun 1969. Tiga tahun kemudian pada 1973, pelayanan rohani Katolik dimulai.
Awalnya, pelayanan Rohani Katolik di Buru dimulai oleh Ordo Serikat Yesus (Yesuit/SJ). Romo Werner Ruffing SJ mengawali perjalanan pewartaan ini sebelum digantikan Romo Alexander Dirdjooesanto SJ. Dari awalnya gereja didirikan di Namlea, kini sudah ada tiga paroki di Pulau Buru.
Kisah iman di Buru juga melibatkan para tahanan politik, termasuk Pramoedya Ananta Toer yang dikenal sebagai salah satu sastrawan terbesar di Asia. Beberapa tulisannya diselesaikan selama Pramoedya ditahan di Pulau Buru. Berkat bantuan para imam yang memberikan pelayanan rohani, ia dapat “menyelamatkan” beberapa karyanya. Tetralogi Buru, karya raksasa Pramoedya, dapat terbit berkat bantuan para imam, yang “menyelundupkan” dan “menyimpan” karya ini.
Serikat Yesus
Romo Werner Ruffing SJ adalah imam pertama yang melayani di Pulau Buru. Imam Yesuit asal Jerman memulai pekerjaannya pada tahun 1973 di Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) Buru. Saat itu, Romo Ruffing dikatan secara sukarela mendaftarkan diri untuk melayani tahanan politik di Pulau Buru.
Selama melayani ini, Romo Romo Ruffing berhasil membangun beberapa kapel untuk pelayanan iman di Pulau Buru. Ia melayani umat dan juga memberikan pelayanan rohani untuk para tahanan politik ketika itu.
Namun Romo Romo Ruffing sering mengkritik praktik penahanan di Buru. Sebagai tahanan politik, mereka mendapatkan perlakuan tidak manusiawi di Inrehab Buru. Situasi inilah yang dikritik Romo Ruffing. Namun, kritikan ini nyatanya “dihadang kekuasaan”. Tidak-tanduk Romo Ruffing tidak disukai para pengasa di Inrehab Buru. Maka, pada tahun 1976, pemerintah Indonesia menyatakan Romo Ruffing sebagai “persona non grata”. Ia diusir dari Buru dan pindah ke Brasil. Ia meninggal pada tahun 1984 di Negeri Samba itu.
Setelah kepergian Romo Ruffing, pelayanan di Buru kemudian dilanjutkan Romo Alexander Dirdjosoesanto SJ. Saat ia mulai bekerja di Buru, ia mendapati hanya ada 300 umat Katolik, dari total sekitar 17 ribu tahanan politik di Buru. Jumlah ini terus bertambah, sampai sekitar 1000 orang ketika Romo Alex mengakhiri tugasnya di buru tahun 1982.
Di Buru, tugas Romo Alex adalah melayani orang Katolik, namun di luar kegiatan rohani, ia juga melayani semua penghuni. Satu yang menarik di kenang adalah inisiatif Romo Alex untuk menyediakan kacamata untuk para tahanan.
Para tahanan sering terkena sinar matahari ketika membuka persawahan di Buru. Hal inilah yang inilah yang menyebabkan kerusakan mata pada banyak tahanan politik. Atas persetujuan komandan Inrehab, Romo Alex mencari bantuan ke Jerman. Alhasil, Romo Alex mendapat dana dari Miserior Jerman untuk menyediakan sekitar 300 kacamata positif maupun negative untuk para tahanan.
“Karena mengusahakan kacamata murah itu saya dijuluki dokter mata,” kenang Rama Alex.
Romo Alex juga membangun gereja di Namlea. Setelah kepergian Romo Ruffing, saat itu sudah ada beberapa kapel di Buru. Maka, atas seizin komandan Inrehab, Romo Alex lantas berkeinginan membangun sebuah gereja di Namlea. Gereja inilah yang kini menjadi Gereja Maria Bintang Laut Namlea.
“Ini Santo Paulus di Atas Bukit Karang, kudirikan gerejaku,” kata Romo Alex bangga.
Ketika membangun gereja ini, Romo Alex mengingat, orang membelah laut selagi air laut surut sambil membawa semen, batu bata, dan material bangunan lain. Alhasil, gereja berukuran 20 x 20 meter ini selesai dalam 11 bulan. Gereja langsung diberkati dan dipakai untuk kegiatan rohani.
Gereja Kandang Ayam
Kisah iman di Pulau Buru juga menyebut nama Lukas Tumiso. Ia adalah seorang tapol asal Surabaya yang ditempatkan di Unit III Kamp Pembuangan Pulau Buru pada 1976. Ia adalah penganut Katolik. Namun, di Unit III, hampir mustahil menemukan tempat untuk berdoa. Lukas merindukan ada “kapel” kecil yang dapat menjadi tempat untuk berdoa.
Dengan tekat, Lukas membersihkan sebuah bangunan bekas kandang ayam. Ia lalu menyulapnya menjadi gereja sederhana yang bisa digunakan untuk kegiatan agama Katolik.
Aktivitas Lukas di gereja bekas kendang ayam itu akhirnya diketahui Romo Alexander Dirdjosusanto SJ, yang saat itu rutin datang dari Namlea, untuk memberikan pelayanan rohani Katolik. Saat itu, Romo Alex juga sudah menyelesaikan pembangunan gereja di Namlea.
Romo Alex menemui Lukas, dan mengundang tapol itu untuk bertandang ke Namlea setiap hari minggu. Ia mengatakan, di Namlea, ada gereja yang lebih baik, Lukas dapat berdoa di sana, dan mengikuti Pelajaran agama.
Lukas yang mendapat tawawan itu tidak langsung mengiyakan. Baginya, Namlea adalah “Impian”. Bisa pergi ke tempat itu setiap hari minggu tentu menjadi saat menggembirakan. Namun, ia ingat teman-temannya, tidak semua orang bisa pergi ke Namlea, mengingat ia adalah seorang tahanan politik sebagai akibat dari peristiwa G30 S.
Romo Alex mengundang Lukas ke Namlea, sejatinya untuk menawarkan bacaan tentang agama Katolik kepada Lukas. Romo Alex meminta Lukas berkunjung ke Namlea setiap hari Minggu.
“Romo, kalau ke Namlea kita setuju, ndak keberatan. Tapi kalau tiap Minggu, ndak bisa Romo,” kata Tumiso.
“Lho, kenapa ndak bisa?” tanya Romo Alex.
“Tugas pokok seorang tapol itu di sektor pertanian, bukan di gereja,” jawab Tumiso.
“Ah, nanti itu bisa kita bicarakan,” balas Romo Alex.
Romo Alex mendesak Lukas ke Namlea. Aealnya, Lukas bersedia dengan syarat membawa seorang Kawan, dengan alasan untuk membantu membawa sayuran ke Namlea, yang akan diberikan ke pastoran dan susteran. Maka Lukas pun ke Namlea setiap Minggu. Namun, setelah empat kali ke Namlea, Lukas melihat hal ini tidak adil untuk tahanan non-Katolik, karena mereka tidak bisa mengunjungi Namlea. Lukas lalu usul, selain dua orang Katolik untuk keperluan belajar agama, diberikan kesempatan dua orang beragama lain mengunjungi Namlea. Usulan itu disetujui.
Kunjungan para tapol ini akhirnya juga membawa manfaat bagi tahanan lain. Kunjungan ini membuka akses informasi dari luar bagi para tapol. Mereka juga bisa mendapat berbagai barang dibutuhkan, selain membawa bahan bacaan untuk para tahanan.
“Kalau ke Namlea, pasti ada majalah Tempo. Ada kacamata, juga pakaian bekas,” kenang Lukas.
Sastra Buru
Kisah pewartaan iman di Buru juga menggoreskan sejarah bagi sastra Indonesia. Saat itu, salah satu tahanan politik di Buru adalah Pramoedya Ananta Toer. Di Buru, ia menyelesaikan karya terbesarnya Tetralogi Buru, yang harus diakui, karya ini bisa lahir juga berkat bantuan para imam yang saat itu bekerja melayani para tahanan.
Saat itu, pengawasan kepada para tahanan begitu ketat. Pramoedya mengenang, bahkan untuk menulis pun ia tidak leluasa. Di sinilah, berkat bantuan para imam, Pramoedya bisa mendapat lembaran-lembaran kertas untuk menulis. Selanjutnya, ia menitipkan tulisan itu kepada para imam. Setelah bebas, tulisan-tulisan ini dikumpulkan dan diterbitkan.
Pramoedya mengenang, ia mendapat kiriman paket dari istrinya ke barak Unit III yang ditipkan kepada Romo Ruffing. Pramoedya juga sering dibawakan kertas dan alat tulis oleh Romo Alex. Bahkan, beberapa tulisan Pramoedya juga diselamatkan oleh Pastor Alex. Dalam buku Drama Mangir, Pramoedya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Gereja Katolik Namlea, Buru dan Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat, yang telah menyelamatkan karya ini.
Selain Romo Alex, karya-karya Pramoedya di Buru juga dapat selesai berkat bantuan Romo Stanislaus Sutopanitro. Imam yang berkarya di lingkungan Tentara dan berpangkat terakhir Letnan Kolonel ini sejak tahun 1971 memberi pelayanan kepada para tapol.
Dengan status imam tentara, Romo Suto lebih leluasa mengunjungi Pulau Buru untuk mendampingi para tahanan politik. Saat itu, Romo Suto menjalankan pelayanan sosial bernama Proyek Sosial Kardinal (PSK) yang digagas oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono.
Berkat Romo Suto, naskah-naskah karya Pramoedya dapat diselundupkan sepotong-sepotong keluar penjara. Romo Suto lalu menyimpan naskah ini. Setelah Pramoedya dipulangkan dari Buru pada 1979, naskah-naskah ini diserahkan kembali kepada Pramoedya. Naskah ini lalu diterbitkan menjadi Tetralogi Buru yang terdiri dari empat buku: Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).
Awalnya, buku ini diterbitkan oleh Hasta Mitra. Namun sayang, hanya beberapa saat setelah terbit, buku ini dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung. Alhasil, buku ini justru lebih dulu dikenal di luar negeri karena diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa. Setelah reformasi, Tetralogi Buru dan buku-buku Pramoedya lainnya baru dapat dengan bebas diterbitkan oleh Penerbit Lentera Dipantara.
Pada akhirnya, sejarah pelayanan iman Katolik di Pulau Buru menepis sekat-sekat pembatas antara jeruji besi dan kebebasan manusiawi. Melalui pengorbanan para imam Yesuit seperti Romo Ruffing dan Romo Alex, keteguhan tapol seperti Lukas Tumiso, hingga keberanian Romo Sutopanitro dalam menyelamatkan mahakarya sastra Pramoedya Ananta Toer, Gereja hadir bukan sekadar sebagai institusi agama. Di tengah pengasingan yang sunyi dan keras, kehadiran altar dari bekas kandang ayam hingga kokohnya tiang Gereja Maria Bintang Laut di Namlea membuktikan sebuah kebenaran universal: bahwa di mana ada kasih dan pelayanan rohani yang tulus, di situlah martabat manusia, harapan akan peradaban, dan buah pikiran yang merdeka akan selalu menemukan jalan untuk diselamatkan.





