Bacaan dan Renungan Senin, 13 Juli 2024, Pekan Biasa XV (hijau)

Bacaan I – Yes 1:11-17

“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” firman TUHAN; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.

Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?

Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.

Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.

Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.

Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,

belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm 50:9.16bc-17.21.23

  • Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” Sela
  • Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: “Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?
  • Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah. Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya. Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu.
  • Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu. Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan.
  • Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.”

Bacaan Injil – Mat 10:3411:1

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.

Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.

Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.

Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Radikalitas Mengikut Yesus

Membaca bagian akhir dari amanat perutusan Yesus dalam Matius 10:34-42 sering kali membuat kita terkejut. Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Pernyataan ini terasa kontradiktif dengan gelar-Nya sebagai Raja Damai. Namun, melalui bahasa yang tajam dan radikal ini, Yesus sedang menelanjangi ilusi kedamaian palsu. Damai yang ditawarkan dunia sering kali berupa kompromi dengan dosa demi menghindari konflik. Sebaliknya, kebenaran Kristus menuntut sebuah batasan yang jelas, yang terkadang menimbulkan pemisahan, bahkan di dalam lingkaran keluarga terdekat sekalipun.

Mengikut Yesus membutuhkan prioritas yang mutlak. Mencintai keluarga adalah hal yang kudus, tetapi jika kasih kepada manusia membuat kita mengompromikan kesetiaan kepada Allah, kita sedang menaruh berhala di atas takhta hati kita. Yesus menegaskan bahwa murid sejati adalah ia yang berani memikul salibnya dan mengikut Dia. Memikul salib berarti kerelaan untuk menghadapi konsekuensi, sangkal diri, dan mati terhadap ego serta ambisi pribadi demi berjalan di jalan kebenaran.

Namun, tuntutan yang radikal ini diseimbangkan oleh Yesus dengan janji upah yang penuh dengan kelembutan. Bagian kedua dari perikop ini berbicara tentang penyambutan. Siapa yang menyambut para utusan Kristus, ia menyambut Kristus sendiri, dan siapa yang menyambut Kristus, ia menyambut Bapa. Yesus sangat menghargai setiap bentuk kebaikan yang terkecil sekalipun yang dilakukan demi nama-Nya. Bahkan memberi secangkir air dingin kepada salah seorang yang paling kecil di antara murid-Nya tidak akan kehilangan upahnya.

Ini adalah sebuah penegasan bahwa setiap pengorbanan kita dalam mengikut Yesus—baik itu pengorbanan besar dalam mempertahankan iman di tengah konflik keluarga, maupun tindakan kasih sederhana dalam pelayanan sehari-hari—tidak pernah luput dari pandangan Tuhan. Setelah selesai memberikan petunjuk kepada kedua belas murid-Nya, Yesus segera pergi dari sana untuk mengajar dan berkhotbah di kota-kota mereka (Matius 11:1). Ia tidak hanya mengutus, tetapi Ia sendiri terus bergerak aktif melayani. Kita dipanggil untuk memiliki radikalitas iman yang sama: berani menempatkan Tuhan sebagai yang utama, seraya tetap memancarkan kasih-Nya yang nyata melalui perhatian kepada sesama.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memanggil kami untuk mengikut-Mu dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kami. Karuniakanlah kami keberanian untuk selalu menempatkan Engkau di atas segala-galanya dalam hidup kami, bahkan ketika keputusan itu mendatangkan tantangan atau kesalahpahaman. Mampukan kami memikul salib kami setiap hari dengan setia dan penuh sukacita. Lembutkanlah hati kami agar kami pun peka untuk membagikan kasih dan kebaikan-Mu kepada sesama, khususnya mereka yang paling kecil dan membutuhkan. Amin.

***

Santo Heindrich II, Pengaku Iman

Heindrich lahir di Bavaria pada tanggal 6 Mei 972. Pangeran Bavaria ini dijuluki dengan nama yang ganjil ‘Heindrich der Zanker’, artinya Henrikus Sang Jagoan. Julukan ini tepat sesuai dengan tabiatnya yang suka bertarung dan tiada henti-hentinya berperang. Seluruh waktunya tersita di medan pertempuran dan tiada waktu baginya untuk mendidik putranya yang sama namanya, yaitu Heindrich. Meskipun demikian ia tidak menghendaki pendidikan anaknya terlantar sama sekali. Anaknya dipercayakan kepada para biarawan untuk dididik.

Suatu ketika dalam suatu penglihatan ajaib, Heindrich II ditemui oleh gurunya, Santo Wolfgang. Santo Wolfgang, gurunya, menunjukkan kepadanya kata ‘sesudah enam’. Penglihatan ini membuatnya terus bersiaga, karena ia mengira bahwa setelah enam tahun ia bakal mati. Selama kurun waktu enam tahun itu, ia terus berjaga-jaga dan berdoa. Pada akhir tahun keenam, ia baru mengerti arti penglihatan itu: ia dipilih menjadi raja Jerman, menggantikan ayahnya.

Karena telah terbiasa dengan cara hidup yang selalu siaga penuh dan selalu dekat dengan Tuhan, maka ketika ia naik tahkta ia bertekad: memerintah demi kemuliaan Tuhan. Sasaran utama pemerintahannya ialah ketertiban dalam seluruh kerajaan dan pembaruan Gereja.

Sepeninggal pamannya Otto III pada tahun 1002, ia dipilih menjadi kaisar. Namun ia terlebih dahulu harus berperang selama 12 tahun sebelum menduduki tahkta kekaisaran. Ia menyerang Italia untuk menjatuhkan Arduin dan Ivera dan dinobatkan menjadi raja Lombardia pada tahun 1004. Ia menghalau suku-suku bangsa Slavia yang menyerang wilayahnya. Kemudian ia membebaskan Bohemia dari kekuasaan Boleslav I dari Polandia, dan menyatukan daerah Bohemia, Moravia dan Burgundia ke dalam wilayah kekuasaannya.

Ia menyerahkan kembali Hungaria kepada Gereja. Kemudian lagi, ia mengusir Paus tandingan Gregorius dan mengembalikan Paus Benediktus VIII ke atas tahkta kePausan. Akhirnya pada tahun 1014 ia dinobatkan menjadi kaisar di gereja Santo Petrus di Roma. Ia mendirikan tahkta Bamberg dan bersama istrinya Kunigunde berusaha memperbaharui kehidupan Gereja., mengikuti aturan biara Kluni. Ia menyumbangkan banyak harta kekayaannya untuk mendirikan gereja-gereja dan biara.

Heindrich sangat disegani dan dianggap sebagai kaisar yang adil dan murah hati. Diantara bangunan-bangunan yang ia dirikan, katedral Bamberg adalah yang paling indah. Ia meninggal dunia di Grona, dekat katedral Bamberg berdampingan dengan Santa Kunigunde, istrinya. Heindrich dinyatakan Gereja sebagai ‘Santo’ pada tahun 1146 oleh Paus Eugenius III (1145-1153).

Santo Eugenius, Uskup

Eugenius lahir pada tahun 481. Ia menjabat sebagai uskup Kartago, Tunisia ketika terjadi perang berkali-kalli di kawasan itu. Karena kegiatan-kegiatannya melayani dan meneguhkan umat untuk tidak mengikuti ajaran sesat Arianisme, maka ia ditangkap dan dibuang dua kali dari keuskupannya.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini