Unika San Agustin Tegaskan Pentingnya Filsafat di Tengah Arus Pragmatisme Pendidikan Tinggi

PenaKatolik.Com | Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin) akan menggelar Workshop Humaniora bertema “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” pada Jumat, 26 Juni 2026. Kegiatan yang merupakan bagian dari program Diktisaintek Berdampak ini akan berlangsung di Aula Lantai 4 Kampus II San Agustin mulai pukul 09.30 hingga 13.00 WIB serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube San Agustin Official.

Workshop tersebut menghadirkan dua pembicara utama, yakni Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP, Uskup Keuskupan Sanggau, dan Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ, imam Yesuit sekaligus dosen filsafat di STF Driyarkara Jakarta. Keduanya dikenal sebagai akademisi yang telah lama berkecimpung dalam pengajaran dan pengembangan filsafat di Indonesia.

Workshop Humaniora ini terbuka bagi mahasiswa, dosen, peneliti, pemerhati pendidikan, maupun masyarakat umum yang memiliki minat terhadap isu-isu filsafat, humaniora, dan masa depan pendidikan tinggi.

Moderator kegiatan, Trio Kurniawan, S.S., M.Fil, menjelaskan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar tema akademik biasa, melainkan refleksi kritis Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo terhadap arah perkembangan pendidikan tinggi Indonesia saat ini.

Menurut Trio, perguruan tinggi dewasa ini menghadapi tantangan besar akibat semakin kuatnya orientasi pada kebutuhan industri dan kompetisi global. Dalam situasi tersebut, filsafat dan ilmu-ilmu humaniora sering kali dipandang kurang relevan dibandingkan disiplin ilmu yang dianggap lebih langsung berkontribusi pada kebutuhan pasar.

“Judul seminar ini sesungguhnya lahir dari sebuah kegelisahan intelektual. Di tengah semakin kuatnya kecenderungan kampus pada kebutuhan industri dan kompetisi global, muncul pertanyaan mendasar: apakah filsafat dan ilmu-ilmu humaniora benar-benar telah kehilangan relevansinya bagi perguruan tinggi, atau justru sedang didorong ke pinggir karena dianggap tidak sejalan dengan paradigma pendidikan yang semakin pragmatis dan teknokratis?” ujar Trio.

Ia menilai pertanyaan tersebut penting diajukan kembali karena menyangkut hakikat dan tujuan pendidikan tinggi itu sendiri. Menurutnya, universitas tidak dapat direduksi hanya sebagai lembaga pencetak tenaga kerja yang siap masuk ke pasar kerja.

“Apakah universitas hanya bertugas menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, ataukah juga bertanggung jawab membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, bertindak bijaksana, dan memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi semakin relevan untuk didiskusikan hari ini,” katanya.

Sebuah Diskursus Interdisipliner dalam rangka Mengembangkan Nalar Kritis, Kebijaksanaan Moral-Etis, dan Tanggung Jawab Intelektual (Poster – 2026). Unika San Agustin.

Trio juga menyoroti kualitas para pembicara yang dihadirkan dalam workshop tersebut. Ia menilai Mgr. Valentinus Saeng, CP dan Romo Agustinus Setyo Wibowo, SJ merupakan dua figur yang memiliki otoritas akademik dan pengalaman panjang dalam mendiseminasikan filsafat kepada masyarakat Indonesia.

Secara pribadi, Trio mengaku memiliki kedekatan akademik dengan kedua narasumber tersebut. Mgr. Valentinus Saeng, katanya, pernah menjadi dosen sekaligus penguji tesisnya ketika menempuh studi di STFT Widya Sasana Malang. Sementara itu, karya-karya dan kuliah daring Romo Setyo Wibowo masih terus diikutinya hingga saat ini.

“Saya memandang sangat penting untuk mendengarkan konsep dan argumentasi kedua pembicara ini terkait tema yang diberikan. Menariknya, gagasan-gagasan mereka nanti juga akan ditanggapi oleh para panelis dari latar belakang keilmuan yang berbeda sehingga diskusi menjadi lebih kaya dan interdisipliner,” ujarnya.

Selain menghadirkan dua narasumber utama, workshop ini juga melibatkan panelis dari berbagai bidang ilmu, yakni Dr. Monika Widyastuti Surtikanti, M.Pd., Stanislaus, SE., M.Pd., dan Bdn. Agnes Dwiana Widi Astuti, S.Si.T., M.Kes. Kehadiran para panelis diharapkan dapat memperluas perspektif mengenai posisi filsafat dalam berbagai disiplin ilmu dan praktik pendidikan tinggi.

Lebih jauh, Trio menilai penyelenggaraan Workshop Humaniora ini mencerminkan sikap intelektual Unika San Agustin dalam merespons dinamika pendidikan tinggi Indonesia. Menurutnya, di tengah kecenderungan yang mengukur keberhasilan pendidikan hanya melalui indikator ekonomi dan kebutuhan pasar, perguruan tinggi perlu mempertahankan dimensi reflektif dan humanistisnya.

“Seminar Humaniora ini menunjukkan bahwa San Agustin tidak ingin melihat pendidikan tinggi semata-mata dari ukuran ekonomi dan kebutuhan pasar. Perguruan tinggi tidak boleh kehilangan dimensi reflektif, etis, dan humanistisnya. Justru di situlah letak peran filsafat, yakni membantu kita memahami makna pendidikan, manusia, dan tanggung jawab sosial ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Trio juga menggarisbawahi bahwa dengan kegiatan itu Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo dapat membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai masa depan pendidikan tinggi Indonesia.

Di tengah perubahan teknologi, kecerdasan buatan, dan tuntutan global yang semakin kompleks, filsafat diharapkan tetap menjadi fondasi penting dalam membangun nalar kritis, kebijaksanaan moral, dan tanggung jawab intelektual sivitas akademika.(*Sam) – Sumber: Trio Kurniawan, S.S., M.Fil.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini