JAKARTA, Pena Katolik – Masa-masa indah setelah Paskah dan Pentakosta perlahan-lahan mulai memudar. Riuh rendah sukacita rohani dan antusiasme yang meluap-luap kini berganti dengan kesunyian Masa Biasa. Bagi banyak umat beriman, termasuk para baptisan baru, fase ini sering kali terasa hambar—sebuah periode di mana “bulan madu rohani” telah usai dan digantikan oleh rutinitas yang monoton.
Namun, di balik hilangnya kenyamanan emosional ini, sebenarnya tersembunyi sebuah rahmat yang luar biasa. Layaknya otot fisik yang hanya bisa bertumbuh dan menguat ketika ditekan hingga batas kemampuannya dalam berolahraga, otot rohani kita pun membutuhkan ujian kekeringan ini.
Di sinilah kasih kita dimurnikan; bukan lagi berdasarkan perasaan yang fluktuatif, melainkan pada komitmen kehendak untuk tetap setia justru di saat kita sedang tidak ingin melakukannya. Inilah esensi sejati dari membangun kekudusan sebagai sebuah kebiasaan.
Menolak menjadi suam-suam kuku di tengah kejenuhan Masa Biasa menuntut kita untuk berani mengambil pilihan-pilihan nyata setiap hari. Langkah awal yang paling membebaskan adalah dengan merangkul kembali Sakramen Pengakuan Dosa tanpa rasa malu. Mengakui kelemahan dan dosa bukanlah sebuah kekalahan, melainkan tindakan sadar untuk membawa jiwa yang terluka kepada Sang Tabib Agung.
Sama bodohnya dengan menyembunyikan patah tulang dari dokter karena rasa malu, menunda pengakuan dosa hanya akan memperparah kondisi rohani kita. Dengan membiasakan diri menerima sakramen ini secara berkala, kita selalu memiliki kesempatan untuk memulai kembali dengan rahmat yang baru.
Perjalanan ini tentu membutuhkan stamina, dan nutrisi terbaik bagi jiwa tidak lain adalah Ekaristi. Mengandalkan perjumpaan dengan Tuhan hanya sekali seminggu pada hari Minggu sering kali membuat relasi kita menjadi renggang dan rapuh.
Oleh karena itu, mendekatkan diri pada altar-Nya di hari-hari biasa atau setidaknya mendaraskan Komuni Spiritual setiap hari menjadi jangkar yang menjaga jiwa tetap terhubung dengan Sang Sumber Kehidupan. Komitmen ini kemudian harus diwujudkan dalam pembagian waktu harian yang adil. Mengembalikan sebagian kecil dari 24 jam yang Tuhan berikan—meski hanya sepuluh menit di awal—untuk duduk diam dalam doa harian adalah bentuk retribusi dan rasa syukur yang paling nyata atas hidup yang kita terima.
Perjuangan melawan kejenuhan ini akan menjadi jauh lebih ringan jika kita bersedia menimba inspirasi dari bacaan-bacaan rohani yang bermutu, seperti Kitab Suci yang mendalam atau tulisan-tulisan para kudus, yang mampu menyalakan kembali dialog batin saat iman terasa kering. Akhirnya, kita juga harus menyadari bahwa iman Katolik bukanlah sebuah proyek soliter.
Kita membutuhkan kehadiran sesama peziarah, sebuah komunitas yang saling mendukung dan menguatkan agar api komitmen kita tidak padam dalam kesendirian. Pada akhirnya, Masa Biasa bukanlah masa kekosongan rohani, melainkan ruang penempaan karakter. Mari bertindak dengan berani, melawan arus suam-suam kuku, dan memilih untuk mengasihi Allah melalui disiplin rohani yang konsisten, demi mengubah rutinitas biasa menjadi jalan menuju kekudusan yang sejati.



