Di Taman Eden, Adam dan Hawa Apakah Digoda oleh Naga atau Ular Kecil?

JAKARTA, Pena Katolik – Kita semua pasti familier dengan lukisan klasik tentang Kejatuhan Manusia: Adam dan Hawa yang berdiri telanjang di Taman Eden. Dalam lukisan itu, keruanya tampak tenang berbincang dengan seekor ular kecil yang melilit pohon. Adegan ini hampir terlihat biasa saja, bahkan penggambaran setan di sana sama sekali tidak tampak mengancam.

Namun, penggambaran tersebut menyisakan sebuah teka-teki besar. Mengapa Adam hanya diam mematung sepanjang waktu ketika makhluk itu berbicara kepada Hawa? Ia tidak mengeluarkan suara dan hanya berdiri di sana. Apakah Adam benar-benar dibuat takjub oleh ular kecil yang bisa berbicara? Atau, adakah sesuatu yang jauh lebih mengerikan di Taman Eden yang membuat Adam ciut dan tak berani bergerak?

Naga atau Ular Kecil?

Dalam mayoritas terjemahan modern, bagian pembuka kisah ini biasanya berbunyi:

“Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kejadian 3:1)

Vulgata, terjemahan Latin Alkitab, menggunakan kata “serpens”, ‘ular’, sedangkan teks bahasa Yunani menggunakan ὄφις, ophis, ‘ular’. Namun, hal yang paling menarik justru ditemukan dalam teks Ibrani kuno, yang menggunakan kata dengan makna yang jauh berbeda.

Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan adalah נָחָשׁ (nahash). Menurut St. Paul Center for Biblical Theology, di sepanjang Perjanjian Lama kata nahash tidak merujuk pada reptil kecil, melainkan makhluk jahat yang kuat dan berukuran raksasa. Kitab Yesaya menyebut nahash sebagai naga laut atau Leviathan yang besar (lihat Yesaya 27:1). Kitab Ayub juga menggunakan kata nahash untuk menggambarkan monster laut yang mengerikan (lihat Ayub 26:13).

Kaitan ini diperkuat dalam Perjanjian Baru. Santo Yohanes dalam Kitab Wahyu menuliskan, “Dan naga besar itu dilemparkan ke bawah, ular tua yang disebut Iblis atau Setan…” (Wahyu 12:9).

Dalam ayat ini, Santo Yohanes secara langsung menyamakan naga (δράκων/drakon) dengan ular (ὄφις/ophis) purba yang ada di Taman Eden. Asosiasi teologis ini mengonfirmasi makna asli dari bahasa Ibrani dan mengubah perspektif kita: makhluk di Eden itu jauh lebih menakutkan daripada seekor ular biasa.

Dalam mitologi Yunani kuno sendiri, naga digambarkan sebagai makhluk melata berukuran raksasa. Meskipun satu keluarga dengan ular, wujud mereka jauh lebih besar, kuat, dan mengerikan.

Bukti Fisik

Sayangnya, hampir semua karya seni visual awal mengisolasi kisah Kejadian ini dari keseluruhan konteks Alkitab, sehingga mereka hanya fokus pada visualisasi ular pohon yang umum.

Padahal, ada satu detail tekstual di dalam Kitab Kejadian yang sering terlewatkan. Setelah Kejatuhan Manusia, Tuhan mengutuk makhluk tersebut dengan berkata:

“… dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.” (Kejadian 3:14).

Kalimat ini secara implisit menyiratkan sebuah fakta penting: sebelum dikutuk, makhluk itu tidak berjalan dengan perutnya. Deskripsi makhluk melata raksasa yang memiliki kaki jelas merujuk pada karakteristik seekor naga, bukan ular biasa yang kita kenal sekarang.

Maka, untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang apa yang dihadapi Adam dan Hawa di Taman Eden, kita harus melihat ilustrasi naga yang mengerikan dalam Kitab Wahyu. Sesuatu yang dihadapi Adam hari itu bukanlah reptil kecil yang menggemaskan, melainkan monster intimidatif yang nyata, sebuah kekuatan gelap yang cukup besar untuk membuat seorang manusia pertama gemetar dan memilih untuk bungkam.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini