Yayasan Surya Kasih Papua Selatan Gelar Pelatihan Pemberdayaan bagi Kelompok Tani dan Peternak

MERAUKE, Pena Katolik – Yayasan Surya Kasih Papua Selatan menyelenggarakan pelatihan intensif bagi warga kelompok binaan Rumah Aspirasi yang berfokus pada sektor usaha ayam petelur dan pertanian. Kegiatan yang diikuti oleh mayoritas Orang Asli Papua (OAP) ini berlangsung di Aula Petrus Vertenten selama dua hari, Selasa–Rabu (28–29 April 2026).

Pelatihan ini digelar dengan tujuan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat lokal agar mampu bersaing secara sehat di dunia usaha.

Dukungan penuh datang dari Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Keuskupan Agung Merauke yang juga menjabat Ketua FKUB Merauke, Romo Kayetanus Tarong, MSC. Dalam arahannya, Romo Kayetanus memberikan motivasi tinggi kepada para peserta agar mengelola usaha tidak hanya untuk kebutuhan keluarga inti (batih), tetapi juga demi kesejahteraan masyarakat luas.

Romo Kayetanus menilai bantuan stimulan berupa bibit hortikultura, padi, ternak ayam petelur, serta Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) sudah sangat tepat sasaran. Namun, ia mengingatkan pentingnya budaya menabung demi keberlanjutan hidup di masa depan.

“Kita harus ingat masa depan dan keberlangsungan hidup, bukan hanya untuk hari ini saja. Pendapatan dari hasil mengelola alam harus disisihkan,” ujar Romo Kayetanus.

Menariknya, Romo Kayetanus mengutip filosofi rohani tentang mukjizat lima roti dan dua ikan, di mana sisa makanan dikumpulkan agar tidak terbuang dan bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Ia mendorong peternak untuk kreatif, misalnya dengan menerapkan sistem integrasi: membangun kolam ikan lele di bawah kandang ayam agar sisa pakan dan kotoran ayam dapat langsung dimanfaatkan menjadi pakan ikan. Ia juga menekankan pentingnya menjadi anggota Credit Union (CU) Sinar Papua Selatan sebagai wadah menabung secara konsisten.

Pendiri Yayasan Surya Kasih Papua Selatan, Edoardus Kaize, yang juga merupakan Anggota Komisi IV DPR-RI dari Fraksi PDI-P, menjelaskan bahwa tujuan utama pengumpulan kelompok binaan ini adalah sebagai ruang untuk saling berbagi (sharing) pengalaman, baik mengenai keberhasilan maupun kegagalan usaha.

Edoardus menyoroti tantangan logistik yang masih dihadapi warga lokal, seperti ketiadaan kendaraan khusus (mobil) untuk mengangkut hasil sayuran dan telur ke toko atau kios di kota.

“Kita mungkin belum memiliki pengalaman matang dalam mengelola barang seperti ini. Modal utama yang kita punya saat ini adalah kesetiaan dan kerja keras. Melalui forum ini, mari kita saling berbagi strategi menghadapi kendala di lapangan,” ungkap Edoardus.

Ia juga meminta warga memanfaatkan keberadaan Rumah Aspirasi yang telah didirikannya secara optimal. Warga diimbau aktif melapor jika menghadapi kendala teknis, mulai dari urusan pupuk, kerusakan alat berat (jonder), manajemen penjualan telur, hingga pencatatan untung-rugi. Selain itu, ia mengingatkan agar produksi telur tidak hanya dijual, tetapi juga dikonsumsi untuk pemenuhan gizi keluarga.

“Jangan melihat Rumah Aspirasi sambil lalu saja. Singgahlah untuk berdiskusi, jangan hanya datang saat ada masalah lalu menggerutu pemerintah tidak memperhatikan,” tegasnya.

Ketua Yayasan Surya Kasih, Bernardus Renwarin, mengakui bahwa sebagai lembaga baru, pihaknya masih memiliki keterbatasan tenaga teknis. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen penuh untuk membangun sinergi dengan instansi pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten.

“Harapan kami, pemerintah siap membantu melalui penyediaan tenaga-tenaga teknis yang mereka miliki, sehingga para peserta dari berbagai kampung ini benar-benar siap bersaing,” kata Bernardus.

Apresiasi terhadap langkah ini juga disampaikan oleh Kepala Rumah Aspirasi, Mathias Kainon. Ia berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam memberdayakan warga lokal agar semakin berdaya.

Pelatihan ini juga menghadirkan perwakilan dari Holding BUMN Pangan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)/ID FOOD, Fackri Mahardi. Ia menyampaikan terima kasih atas undangan khusus ini dan menjelaskan peran strategis lembaga yang diwakilinya.

“ID FOOD berkomitmen penuh untuk menggali dan mengoptimalkan segala potensi komoditas yang ada di sekitar penduduk lokal. Lembaga ini membawahi tujuh wilayah cabang, termasuk di dalamnya Provinsi Papua Selatan,” pungkas Fackri. (Agapitus Batbual/Merauke)

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini