Senin, Mei 4, 2026

Vikjen Keuskupan Manokwari-Sorong Sampaikan Permohonan Maaf Terkait Insiden di Seminari Petrus Van Diepen

SORONG, Pena Katolik – Vikjen Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS), Pastor Izaak Bame, secara resmi menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas insiden kekerasan yang terjadi di lingkungan Seminari Menengah Petrus Van Diepen, Aimas, Kabupaten Sorong. Pernyataan ini dikeluarkan menyusul pemberitaan mengenai tindakan pemukulan yang dilakukan oleh seorang Frater pembina, Gabriel Weripang, terhadap salah satu siswa kelas 9A, Asmeraldo Junior Nso, pada Minggu, 26 April 2026 lalu.

Dalam keterangannya, Pastor Izaak menegaskan bahwa pihak pimpinan Keuskupan sama sekali tidak membenarkan tindakan tersebut. Mewakili pimpinan tertinggi Keuskupan, ia menyampaikan permohonan maaf tanpa batas kepada korban, kedua orang tua, serta keluarga besar Nso-Kinho atas trauma dan kejadian tak terpuji yang dialami siswa tersebut.

Mengingat persoalan ini telah masuk ke ranah hukum, Pastor Izaak memohon dengan rendah hati kepada pihak keluarga agar bersedia membawa kembali penyelesaian masalah ini ke tingkat internal Keuskupan Manokwari-Sorong dan Seminari Petrus Van Diepen.

Terkait kelanjutan masa depan Frater Gabriel sebagai calon petugas gereja, Keuskupan meminta pihak keluarga untuk menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada pimpinan Gereja.

“Soal panggilan hidup dari Frater Gabriel adalah tanggung jawab pimpinan Keuskupan untuk memutuskannya berdasarkan penilaian objektif internal,” tegas pernyataan yang disampaikan Pastir Izaak.

Keuskupan juga menekankan beberapa poin penting guna menjaga kondusivitas umat dan kualitas pendidikan di Papua Barat Daya. Umat diminta untuk tidak mengaitkan kejadian ini dengan isu lain yang tidak relevan, serta tidak terhasut oleh tafsiran liar yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap Seminari. Peristiwa ini akan dijadikan bahan evaluasi mendalam bagi Rektor, staf pembina, dan guru di Seminari Petrus Van Diepen untuk memperbaiki sistem pendampingan siswa.

Pastor Izaak mengingatkan para pendidik bahwa selama siswa berada di asrama, para pembina dan guru adalah orang tua bagi mereka. Tugas mendidik harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.

Pastor Izaak mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya umat Katolik, untuk mengambil hikmah dari kejadian ini. Keuskupan berkomitmen untuk menjadikan insiden ini sebagai titik balik dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan baik bagi generasi penerus bangsa dan Gereja di masa depan.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini