Minggu, Mei 3, 2026

Syukur 99 Tahun Tarekat Maria Mediatrix: Hidup Membiara dan Kesetiaan Menjadi Hamba

AMBON, Pena Katolik – Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra, memberikan pesan mendalam bagi para biarawati dalam perayaan syukur Hari Ulang Tahun ke-99 Tarekat Maria Mediatrix (TMM). Ia menegaskan bahwa panggilan hidup membiara bukanlah sebuah panggung untuk mengejar popularitas atau pengakuan duniawi, melainkan komitmen kesetiaan total dalam menjalankan kehendak Tuhan.

Pesan ini disampaikan dalam homili Misa perayaan HUT TMM ke-99, yang dirangkaikan dengan pencanangan menuju 100 tahun (Yubileum), serta perayaan kaul pertama dan kaul kekal di Gereja Santa Maria Bintang Laut Benteng, Kecamatan Nusaniwe, Ambon, pada Jumat 01 Mei 2026.

Di hadapan para suster, imam, dan umat yang hadir, Mgr. Ino mengangkat teladan Bunda Maria saat menerima kabar dari Malaikat Gabriel.

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Menurutnya, ungkapan tersebut adalah bentuk penyerahan diri yang radikal. Beliau mengingatkan bahwa Maria pun manusia biasa yang mengalami kecemasan dan keraguan.

“Maria bukan pribadi yang sempurna. Ia percaya bukan karena semua hal jelas, tetapi karena keyakinan bahwa Allah mampu berkarya melalui keterbatasan manusia,” ujar Mgr. Seno.

Ia menegaskan bahwa esensi menjadi “hamba Tuhan” adalah hadir untuk melakukan kehendak-Nya, bukan untuk mengejar gelar atau ketenaran.

Perayaan yang khidmat ini juga diwarnai dengan syukur atas keberanian para suster dalam menjawab panggilan Tuhan. Tercatat satu suster mengikrarkan profesi kekal, yakni Sr. Yulita Goban TMM, didampingi oleh tujuh suster yang mengikrarkan profesi pertama: Sr. Maria Monika Boger TMM; Sr. Maria Alfontina Wamir TMM; Sr. Maria Bonefasia Djondjonler TMM; Sr. Maria Helena Romena TMM; Sr. Maria Ivone Djabutafuran TMM; Sr. Maria Xaveria Merek TMM; dan Sr. Maria Ambrosia Remetwa TMM.

Momentum 99 tahun ini dipandang sebagai ruang refleksi penting sebelum memasuki usia satu abad. Mgr. Ieno berpesan agar para suster muda khususnya, terus menjaga ketaatan seperti Nabi Samuel yang selalu siap mendengarkan suara Tuhan.

“Panggilan ini bukan untuk menjadi populer, tetapi menjadi hamba yang setia. Tuhan yang memanggil, Tuhan pula yang melengkapi dan menyempurnakan. Setialah sampai akhir,” tegasnya menutup homili.

Selain perayaan ekaristi, acara dilanjutkan dengan pelantikan Panitia Perayaan Yubileum serta seremoni launching menuju 100 Tahun Tarekat Maria Mediatrix yang bertempat di gedung Catholic Center. Rangkaian acara ini diharapkan mampu memperkuat dedikasi pelayanan dan kesaksian iman TMM di tengah masyarakat luas.

Nama Paus Leo XIII Resmi Menjadi Nama Asteroid Baru

VATIKAN – Spektrum hubungan antara gereja dan ilmu pengetahuan kembali bersinar di kancah astronomi internasional. Observatorium Vatikan baru saja mengumumkan bahwa Uni Astronomi Internasional (IAU) secara resmi menamai empat asteroid yang baru ditemukan dengan nama tokoh-tokoh penting dalam sejarah institusi tersebut, termasuk Paus Leo XIII.

Pengumuman ini disampaikan melalui siaran pers pada Rabu, 29 April 2026, menyusul publikasi WGSBN Bulletin Volume 6, Isu 4. Keempat asteroid tersebut ditemukan oleh astronom Lituania, Kazimieras Černis, dan astronom Observatorium Vatikan, Romo Richard P. Boyle, menggunakan Vatican Advanced Technology Telescope (VATT) yang berlokasi di Mount Graham, Arizona, Amerika Serikat.

Asteroid pertama diberi nama (858334) Gioacchinopecci, yang diambil dari nama baptis Paus Leo XIII (Gioacchino Vincenzo Raffaele Luigi Pecci). Paus yang menjabat dari tahun 1878 hingga 1903 ini memiliki peran krusial dalam sejarah ilmu pengetahuan Vatikan.

Pada tahun 1891, melalui dokumen Motu Proprio “Ut Mysticam”, Paus Leo XIII mendirikan kembali Observatorium Vatikan. Langkah ini diambil untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Gereja tidak hanya merestui sains, tetapi juga merangkul dan mempromosikannya dengan dedikasi penuh.

Tiga Tokoh

Selain Paus Leo XIII, tiga asteroid lainnya dinamai untuk menghormati sosok-sosok yang berjasa dalam memajukan riset astronomi Gereja. Asteroid (836955) Lais merujuk pada Romo Giuseppe Lais (1845–1921), Wakil Direktur Observatorium selama 30 tahun yang terlibat dalam proyek peta bintang internasional pertama, “Carte du Ciel”. Sementara Asteroid (836275) Pietromaffi untuk menghormati Kardinal Pietro Maffi (1858–1931), Presiden Observatorium yang merekomendasikan agar pengelolaan institusi ini diserahkan kepada Serikat Yesus (Jesuit) guna menjaga standar riset yang tinggi. Terakhir Asteroid (688696) Bertiau dinamai sesuai Romo Florent Constant Bertiau (1919–1995), seorang Jesuit Belgia yang mendirikan Pusat Komputer Observatorium pada 1965 dan mempelopori penelitian tentang polusi cahaya.

Tradisi Penamaan di Luar Angkasa

Penamaan ini bukanlah yang pertama bagi pemimpin Gereja Katolik. Sebelumnya, asteroid (560974) Ugoboncompagni telah dinamai untuk menghormati Paus Gregorius XIII (reformator kalender) dan asteroid (8661) Ratzinger untuk Paus Benediktus XVI.

Proses penamaan asteroid sendiri bukanlah hal yang mudah. Sebuah asteroid harus ditentukan orbitnya dengan presisi yang sangat tinggi sebelum mendapatkan nomor permanen. Setelah nomor tersebut keluar, penemu baru diperbolehkan mengajukan nama ke Kelompok Kerja Nomenklatur Benda Kecil (WGSBN) milik IAU untuk ditinjau secara ketat.

Langkah penamaan ini kembali menegaskan pesan Paus Leo XIII lebih dari satu abad lalu: bahwa iman dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan, membantu manusia mengangkat semangat dalam merenungkan kemegahan peristiwa-peristiwa surgawi.

Asosiasi Eksorsis Internasional Puji Keberanian Spiritual Paus Leo XIV: Perdamaian Sejati Dimulai dari Perjuangan Spiritual

VATIKAN, Pena Katolik – Asosiasi Eksorsis Internasional (International Association of Exorcists atau AIE) secara resmi menyatakan dukungan dan pujian atas keberanian Paus Leo XIV dalam menyuarakan perdamaian di tengah meningkatnya tensi peperangan dan terorisme global. Dalam pernyataan bertajuk “Keberanian Paus Leo”, para eksorsis menegaskan bahwa perdamaian dunia tidak dapat dipisahkan dari pembebasan manusia atas dosa dan pengaruh jahat.

Pernyataan ini muncul menyusul serangkaian seruan diplomasi damai yang dilakukan Bapa Suci di berbagai zona konflik, termasuk Iran, Tanah Suci, dan Ukraina, serta kunjungan apostoliknya ke Afrika pada pertengahan April 2026 lalu.

Meskipun misi perdamaian ini diwarnai ketegangan diplomatik—termasuk serangan terbuka dari Presiden AS Donald Trump di media sosial—Paus Leo XIV menegaskan bahwa dirinya tidak gentar. Bapa Suci menyatakan bahwa fokus utamanya adalah mewartakan Injil, bukan terjebak dalam perdebatan politik.

AIE mencatat bahwa situasi dunia saat ini mencerminkan dinamika kejahatan yang nyata. Meskipun Iblis disebut sebagai “pangeran dunia ini”, tanggung jawab moral tetap ada pada manusia untuk memilih kebaikan di atas kekerasan.

“Krisis yang lebih dalam saat ini memengaruhi hati manusia yang terluka oleh dosa, sehingga seringkali tidak mampu mengenali kebenaran dan kebaikan,” ungkap pernyataan resmi AIE.

Sebagai pakar dalam bidang peperangan rohani, AIE mengusulkan langkah-langkah konkret yang dapat diambil oleh umat beriman untuk mendukung terciptanya perdamaian dunia. Menurut mereka, perdamaian yang autentik harus dimulai dari dalam hati, keluarga, dan komunitas melalui Adorasi Ekaristi, Doa Rosario, puasa, dan karya belas kasih.

Para eksorsis menekankan bahwa “pertempuran spiritual” adalah bagian intrinsik dari perjalanan Gereja sepanjang sejarah. Perdamaian bukan sekadar gencatan senjata politik, melainkan pembebasan spiritual dari jeratan si jahat.

Mengakhiri pernyataannya, Asosiasi Eksorsis Internasional memohon perantaraan Bunda Maria, Ratu Perdamaian, agar menerangi para pemimpin bangsa dan negara. Mereka berharap umat manusia diberikan karunia rekonsiliasi yang berlandaskan pada Kristus.

Dukungan dari para eksorsis ini memperkuat posisi Paus Leo XIV dalam menjalankan misinya sebagai “pembuat damai” yang tak bersenjata di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh konflik bersenjata.

Paus Leo XIV Menjawab Surat yang Dikirim Anak-Anak Korban Serangan Sekolah Perempuan di Iran

VATIKAN, Pena katolik – Paus Leo XIV kembali menyuarakan keprihatinan mendalam atas konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, menyusul tragedi serangan militer yang menghantam sebuah sekolah dasar perempuan di Minab, Iran. Bapa Suci menegaskan bahwa perlindungan terhadap nyawa manusia harus berada di atas agenda politik mana pun.

Pernyataan ini disampaikan Paus dalam konferensi pers di atas pesawat kepausan saat dalam perjalanan kembali ke Roma setelah kunjungan 11 hari di Afrika, Kamis 23 April 2026. Jawaban tersebut dibuat atas surat menyentuh hati yang dikirimkan oleh para orang tua korban serangan 28 Februari 2026 lalu, yang menewaskan lebih dari 150 orang.

Dalam pidato tidak resminya kepada jurnalis, Paus Leo XIV menekankan bahwa perdebatan mengenai politik internasional seringkali melupakan penderitaan rakyat sipil.

“Isu utamanya bukanlah apakah perlu ada pergantian rezim atau tidak; isu utamanya adalah bagaimana mempromosikan nilai-nilai yang kita yakini tanpa mengorbankan nyawa begitu banyak orang yang tidak bersalah,” tegas Paus Leo XIV.

Bapa Suci menyebut situasi di Iran sangat “kompleks” dan “kacau,” terutama dengan ketidakpastian gencatan senjata di mana sikap Amerika Serikat dan Iran terus berubah-ubah. Beliau memperingatkan bahwa selain krisis ekonomi global, ada populasi seluruh negara yang menderita akibat perang ini.

Surat yang diterima Paus, yang ditulis dalam bahasa Farsi, mengungkapkan kepedihan luar biasa para keluarga korban. “Hari ini, alih-alih merasakan hangatnya pelukan anak-anak kami, kami hanya bisa memegang tas mereka yang hangus dan buku harian yang bersimbah darah,” tulis para orang tua dalam kutipan surat tersebut.

Mereka menyatakan bahwa advokasi perdamaian yang konsisten dari Paus memberikan “sentuhan penyembuhan bagi hati kami yang hancur.” Mereka juga berharap agar seruan Paus untuk “meletakkan senjata” didengar oleh pihak-pihak yang bertikai.

Tanggapan AS

Di sisi lain, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) menyatakan bahwa serangan terhadap sekolah di Minab saat ini masih dalam proses penyelidikan. Hingga saat ini, pihak Pentagon belum secara resmi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memberikan tanggapan dingin terhadap komentar Paus. Ia menegaskan bahwa militer AS menjalankan perintah presiden berdasarkan otoritas hukum dan Konstitusi.

“Kami tahu apa misi kami. Kami memiliki pengacara di mana-mana yang meninjau apa yang kami lakukan dan mengapa kami melakukannya,” ujar Hegseth pada 24 April.

Menutup pernyataannya, Paus Leo XIV mendesak semua pihak untuk menghormati hukum internasional dan terus mengupayakan dialog. Beliau menekankan pentingnya melindungi warga sipil yang selama ini sering terabaikan di berbagai titik konflik dunia.

“Saya mendorong kelanjutan dialog demi perdamaian, agar semua pihak melakukan segala upaya untuk mempromosikan perdamaian dan menghilangkan ancaman perang,” pungkasnya.

Darah Santo Januarius Mencair Kembali Pada Peringatan Penyatuan Kembali Relikuinya

NAPOLI, Pena Katolik – Di bawah kubah Katedral Napoli yang megah, keheningan yang mencekam menyelimuti ribuan pasang mata. Warga Napoli, yang dikenal dengan iman dan gairah mereka yang meluap-luap, berkumpul untuk menantikan satu hal: sebuah tanda dari pelindung kota mereka, Santo Januarius (San Gennaro).

Pada Sabtu, 3 Mei 2026, tepat setelah pukul 5 sore waktu Napoli, suasana berubah menjadi haru dan penuh syukur. Uskup Agung Napoli, Kardinal Domenico Battaglia, atau yang akrab disapa “Don Mimmo”, mengangkat tinggi sebuah ampul kaca. Di dalamnya, darah St. Yanuarius kembali mencair pada peringatan penyatuan kembali relikuinya. Peringatan ini setiap tahun dilakukan pada minggu pertama Mei. Darah sang martir yang tadinya kering berubah menjadi cair, sebuah fenomena yang oleh warga setempat disebut sebagai “Mukjizat San Gennaro.”

Tradisi yang Melintasi Zaman

Mukjizat dinantikan sebanyak tiga kali dalam setahun selain pada Sabtu pertama bulan Mei, darah St. Yanuarius akan mencair pada dua kesempatan lain yakni pada 19 September saat peringatan liturgi sang Santo sekaligus tanggal kemartirannya dan pada 16 Desember pada peringatan atas perlindungan St. Yanuarius untuk Kota Napoli dari dampak letusan dahsyat Gunung Vesuvius tahun 1631. Masyarakat Napoli meyakini, erupsi Gunung Vesuvius berhasil dicegah berkat doa St. Yanuarius.

Santo Yanuarius adalah Uskup Benevento yang hidup pada masa kekaisaran Romawi. Keteguhannya mempertahankan iman Kristen membawanya pada kemartiran di tahun 305 M, saat penganiayaan kejam di bawah kepemimpinan Kaisar Diokletianus. Bagi warga Napoli, mencairnya darah ini bukan sekadar fenomena fisik, melainkan simbol harapan dan perlindungan Santo Januarius yang terus menyertai kota mereka dari abad ke abad.

Mencairnya darah St. Yanuarius diartikan sebagai pertanda baik, sebaliknya, ketika darah St. Yanuarius tidak mencair pada hari di mana hal itu terjadi, maka hal itu dibaca sebagai sebuah pertanda buruk. Terakhir darah St. Yanuarius tidak mencair pada 16 Desember 2020, beberapa saat sebelum dunia diserang pandemi Covid-19.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini