NAPOLI, Pena Katolik – Di bawah kubah Katedral Napoli yang megah, keheningan yang mencekam menyelimuti ribuan pasang mata. Warga Napoli, yang dikenal dengan iman dan gairah mereka yang meluap-luap, berkumpul untuk menantikan satu hal: sebuah tanda dari pelindung kota mereka, Santo Januarius (San Gennaro).
Pada Sabtu, 3 Mei 2026, tepat setelah pukul 5 sore waktu Napoli, suasana berubah menjadi haru dan penuh syukur. Uskup Agung Napoli, Kardinal Domenico Battaglia, atau yang akrab disapa “Don Mimmo”, mengangkat tinggi sebuah ampul kaca. Di dalamnya, darah St. Yanuarius kembali mencair pada peringatan penyatuan kembali relikuinya. Peringatan ini setiap tahun dilakukan pada minggu pertama Mei. Darah sang martir yang tadinya kering berubah menjadi cair, sebuah fenomena yang oleh warga setempat disebut sebagai “Mukjizat San Gennaro.”
Tradisi yang Melintasi Zaman
Mukjizat dinantikan sebanyak tiga kali dalam setahun selain pada Sabtu pertama bulan Mei, darah St. Yanuarius akan mencair pada dua kesempatan lain yakni pada 19 September saat peringatan liturgi sang Santo sekaligus tanggal kemartirannya dan pada 16 Desember pada peringatan atas perlindungan St. Yanuarius untuk Kota Napoli dari dampak letusan dahsyat Gunung Vesuvius tahun 1631. Masyarakat Napoli meyakini, erupsi Gunung Vesuvius berhasil dicegah berkat doa St. Yanuarius.
Santo Yanuarius adalah Uskup Benevento yang hidup pada masa kekaisaran Romawi. Keteguhannya mempertahankan iman Kristen membawanya pada kemartiran di tahun 305 M, saat penganiayaan kejam di bawah kepemimpinan Kaisar Diokletianus. Bagi warga Napoli, mencairnya darah ini bukan sekadar fenomena fisik, melainkan simbol harapan dan perlindungan Santo Januarius yang terus menyertai kota mereka dari abad ke abad.
Mencairnya darah St. Yanuarius diartikan sebagai pertanda baik, sebaliknya, ketika darah St. Yanuarius tidak mencair pada hari di mana hal itu terjadi, maka hal itu dibaca sebagai sebuah pertanda buruk. Terakhir darah St. Yanuarius tidak mencair pada 16 Desember 2020, beberapa saat sebelum dunia diserang pandemi Covid-19.



