VATIKAN, Pena Katolik – Pada 15 April 2026 lalu, Kardinal Fernando Filoni genap berusia 80 tahun. Momen ini menjadikan jumlah kardinal pemilih kembali ke “angka keramat” 120. Kini, perhatian kini tertuju pada langkah strategis Paus Leo XIV selanjutnya. Sebagai seorang ahli hukum kanonik yang berpengalaman, Paus Leo XIV diprediksi akan membawa pendekatan yang lebih ketat dan terukur dalam mengelola badan pemilih tertinggi Gereja ini.
Berbeda dengan para pendahulunya yang sering melampaui batas 120 kardinal pemilih, Paus Leo XIV telah memberikan sinyal bahwa ia berencana menerapkan hukum Gereja secara disiplin. Musim gugur lalu, ia telah memperingatkan para uskup Italia, bahwa ia berniat menegakkan batas usia pensiun kanonik yakni 75 tahun secara tegas.
Banyak pihak bertanya-tanya, apakah ia juga akan memperlakukan angka 120 sebagai batas maksimal yang tidak boleh dilanggar, sesuai dengan yang ditetapkan Paus Paulus VI dalam Romano Pontifici Eligendo. Dalam penerbangan dari Luanda menuju Malabo saat kunjungan ke Afrika baru-baru ini, Paus menyatakan belum memutuskan kapan akan menunjuk kardinal baru.
“Perlu untuk melihat masalah ini dari perspektif global,” ujarnya.
Berfokus pada Kolegialitas
Sejak terpilih, Paus Leo XIV sangat menekankan pentingnya kolegialitas, tercermin dari moto kepausannya “In Illo Uno Unum”. Ia menunjukkan keinginan kuat untuk bekerja sama dengan para kardinal, baik yang berada di Kuria Roma maupun di keuskupan-keuskupan di seluruh dunia. Pertemuan konsistori pada 26 dan 27 Juni 2026 mendatang akan menjadi ajang penting di mana ia akan memanggil para ahli untuk memberikan masukan strategis bagi Gereja.
Meskipun belum ada pengumuman resmi, beberapa tokoh diprediksi menjadi kandidat kuat dalam konsistori pertama mendatang. Di antara nama yang kemungkinan akan menjadi kardinal adalah beberapa pejabat baru Kuria Romawi: Mgr. Filippo Iannone (Pengganti Paus Leo sebagai Prefek Dikasteri untuk Para Uskup); Mgr. Anthony Randazzo (Prefek Dikasteri Teks Legislatif); serta Mgr. Luis Marín de San Martín (Prefek Dikasteri Layanan Kasih).
Dari representasi Afrika, beberapa uskup juga mungkin dipertimbangkan menjadi kardinal, Mgr. Andrew Nkea (Presiden Konferensi Waligereja Kamerun). Ada spekulasi bahwa Paus Leo XIV akan mengembalikan status “kardinal” pada kota-kota besar yang kehilangan tradisi topi merah di era sebelumnya. Nama-nama seperti Mgr. José Gómez (Uskup Agung Los Angeles), Mgr. Josef Grünwidl (Uskup Agung Wina), hingga Mgr. Mario Delpini (Uskup Agung Milan) masuk dalam radar pengamat Vatikan.
Transformasi Lima Tahun ke Depan
Dinamika Kolegium Kardinal akan berubah drastis dalam waktu dekat. Saat ini, lebih dari 40% kardinal pemilih telah berusia 75 tahun atau lebih. Artinya, dalam kurun waktu lima tahun ke depan, Paus Leo XIV akan memiliki kesempatan untuk menunjuk hampir separuh dari anggota kolegium melalui pilihannya sendiri.
Meski ia memilih untuk tetap setia pada batas 120 orang, komposisi Kolegium Kardinal dipastikan akan mengalami penyegaran signifikan yang mencerminkan visi kepemimpinan Paus Leo XIV: global, berorientasi hukum, dan mengedepankan keahlian pastoral.
Sejak ditetapkan Paus Paulus VI pada 1975, ambang batas jumlah kardinal pemilih jarang dipatuhi secara ketat dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun angka 120 adalah batas kanonik, para pendahulu Paus Leo XIV sering kali melampaui jumlah tersebut. Ini terjadi pada kepausan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI.
Namun, Paus Fransiskus adalah yang paling sering melampaui angka tersebut, memperlakukan angka 120 lebih sebagai “lantai minimum” daripada “langit-langit maksimal.” Sebagai contoh, pada awal Konklaf 2025 yang lalu, terdapat 135 kardinal pemilih, di mana 133 di antaranya berpartisipasi dalam pemilihan Paus Leo XIV.
Dari 120 kardinal pemilih yang ada saat ini, mayoritas mutlak merupakan kardinal yang ditunjuk Paus Fransiskus yakni sebanyak 99 Kardinal (82,5%); sementara ada 17 kardinal yang ditunjuk Paus Benediktus XVI; dan sisanya empat kardinal yang ditunjuk St. Yohanes Paulus II.
Data terbaru menunjukkan perubahan geopolitik gerejawi yang signifikan di bawah kepemimpinan Paus Leo XIV. Representasi Eropa dalam kolese pemilih kini berada di titik terendah dalam sejarah modern.
Pergeseran ini merupakan hasil dari upaya internasionalisasi yang didorong kuat oleh Paus Fransiskus. Asia menjadi wilayah yang paling menonjol pertumbuhannya, di mana jumlah pemilih dari Benua Kuning meningkat dua kali lipat sejak 2013. Afrika juga mengalami kenaikan tipis, sementara representasi Amerika Utara justru mengalami penurunan sebesar dua persen dalam periode yang sama.
Dengan komposisi yang lebih beragam dan berpusat pada belahan bumi selatan, wajah masa depan Gereja Katolik kini terlihat semakin mencerminkan sifatnya yang universal, melampaui batas-batas tradisional Eropa.



