OISE, Pena Katolik – Sebuah kabar duka menyelimuti Gereja Katolik di Prancis. Uskup Beauvais, Noyon, dan Senlis, Mgr. Jacques Benoit-Gonnin, secara resmi mengumumkan penutupan komunitas suster Karmelit di Compiègne (Jonquières). Keputusan ini diambil sebagai dampak nyata dari krisis panggilan hidup bakti yang terus berlanjut.
“Seiring bertambahnya usia, berkurangnya jumlah anggota, lambatnya panggilan baru, serta sulitnya mendapatkan bantuan tenaga dari luar, para Suster Karmelit Compiègne akhirnya memutuskan untuk menutup komunitas mereka,” ujar Mgr. Benoit-Gonnin dalam pernyataan resminya pada 21 April 2026.
Saat ini, hanya tersisa enam biarawati di biara tersebut. Mereka direncanakan akan meninggalkan biara secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.
Setengah Milenium Sejarah
Biara Karmel Compiègne didirikan pada tahun 1641, biara ini memiliki sejarah yang sangat mendalam bagi iman Katolik. Dunia mengenalnya melalui kisah heroik 16 Martir Compiègne yang tewas dipancung menggunakan guillotine di Paris pada 17 Juli 1794, selama Revolusi Prancis. Perjalanan Sejarah ini menjadikan biara mereka bukan sekadar komunitas religius biasa.
Para martir ini menyerahkan hidup mereka demi perdamaian Gereja dan negara. Kisah mereka diabadikan secara luas melalui karya sastra Georges Bernanos dan opera terkenal karya Francis Poulenc, “Dialogue of the Carmelites.”
Tepat sebelum komunitas ini resmi ditutup, para suster tersebut sempat menyaksikan puncak penghormatan tertinggi gerejawi bagi para martir itu. Pada 18 Desember 2024, Paus Fransiskus menyetujui dekrit kanonisasi equipollent bagi ke-16 martir tersebut.
Sementara pada 8 Mei 2025, perayaan syukur atas kanonisasi digelar di Compiègne, bertepatan dengan hari terpilihnya Paus Leo XIV. Pada 13 September 2025, Misa agung di Katedral Notre-Dame, Paris, yang diikuti dengan prosesi napak tilas rute para martir menuju lokasi eksekusi.
Kesedihan yang Berbalut Harapan
Penutupan ini menandai berakhirnya era kehadiran fisik ordo Karmel di wilayah tersebut setelah upaya restorasi yang panjang sejak abad ke-19. Komunitas ini sempat berpindah ke bangunan baru di Jonquières pada tahun 1992 karena kondisi bangunan lama yang mulai menua.
Mantan vikaris paroki Holy Carmelites of Compiègne, Pastor Yann Deswarte, menyatakan bahwa meski berita ini menyedihkan, ada sebuah “penyelesaian” yang indah di baliknya.
“Ini menyedihkan karena sebuah era berakhir, tetapi saya merasa indah bahwa Tuhan mengizinkan kanonisasi para martir tersebut tuntas sebelum komunitas ini pergi. Ini adalah bentuk pemenuhan, dan Tuhan akan memberikan buahnya,” ungkap Pastor Deswarte.
Ia meyakini bahwa selama ini seluruh keberhasilan pelayanan paroki merupakan buah dari doa-doa para suster Karmelit.
“Ada kesedihan nyata, namun di saat yang sama ada harapan, karena mulai sekarang para martir Karmelit yang telah menjadi orang kudus itulah yang akan mengambil alih tugas menjaga kami melalui doa mereka di surga!” tambahnya.
| Tahun | Peristiwa Penting |
| 1641 | Pendirian biara pertama di Compiègne. |
| 1794 | 16 suster dieksekusi selama Revolusi Prancis. |
| 1867 | Biara dipulihkan kembali oleh biarawati dari Troyes. |
| 1992 | Komunitas pindah ke lokasi baru di Jonquières. |
| 2024 | Kanonisasi 16 Martir Compiègne oleh Paus Fransiskus. |
| 2026 | Pengumuman resmi penutupan komunitas karena krisis panggilan. |



