Jumat, Mei 1, 2026

Bacaan dan Renungan Kamis 30 April 2026; Hari biasa Pekan IV Paskah (Putih)

Bacaan I – Kis. 13:13-25

Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem. Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ.

Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka: “Saudara-saudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan menghibur umat ini, silakanlah!”

Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata: “Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah!

Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang luhur Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu.

Empat puluh tahun lamanya Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Dan setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman nabi Samuel.

Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul bin Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.

Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus. Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis.

Dan ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nyapun aku tidak layak.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 89:2-3, 21-22,25,27

  • Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.
  • Engkau telah berkata: “Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.
  • Musuh tidak akan menyergapnya, dan orang curang tidak akan menindasnya. Aku akan membuat tangannya menguasai laut, dan tangan kanannya menguasai sungai-sungai.
  • Akupun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi yang mahatinggi di antara raja-raja bumi.

Bacaan Injil – Yohanes 13:16-20

“Barangsiapa menerima orang yang Kauutus, ia menerima Aku.”

Dalam perjamuan malam terakhir Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Sesudah itu Ia berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya; ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya.

Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.

Aku mengatakannya kepadamu sekarang sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

***

Kebahagiaan dalam Pengabdian

Seringkali kita terjebak dalam pemikiran bahwa kebahagiaan sejati ditemukan saat kita berada di puncak—saat kita dilayani, dihormati, dan memiliki otoritas atas orang lain. Namun, dalam perjamuan malam terakhir, Yesus memutarbalikkan logika dunia tersebut. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Ia memberikan sebuah pernyataan yang menembus jantung ego manusia: “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya.”

Pernyataan ini bukan sekadar pengingat tentang hierarki, melainkan sebuah undangan untuk memiliki kerendahan hati yang radikal. Jika Yesus, yang adalah Guru dan Tuhan, bersedia merendahkan diri-Nya hingga ke posisi paling hina (membasuh kaki yang kotor), maka tidak ada alasan bagi kita untuk merasa “terlalu besar” untuk melayani sesama. Kesombongan sering kali menjadi penghalang terbesar bagi kasih Tuhan untuk mengalir melalui hidup kita.

Menariknya, Yesus menambahkan dalam ayat 17: “Jikalau kamu tahu semua ini, berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.” Perhatikan bahwa kebahagiaan (makarios) tidak datang hanya dari mengetahui teori tentang pelayanan atau menghafal ayat-ayat Kitab Suci. Kebahagiaan itu muncul saat pengetahuan tersebut turun ke tangan dan kaki—saat kita benar-benar melakukannya. Ada sukacita surgawi yang tidak bisa dijelaskan dunia ketika kita memilih untuk melayani tanpa mengharapkan pujian.

Namun, Yesus juga bersikap realistis. Ia tahu bahwa dalam lingkaran pelayanan, ada pengkhianatan dan penolakan (ayat 18). Mengikut Yesus tidak menjamin kita selalu dihargai oleh manusia. Namun, Ia meneguhkan identitas kita: saat kita diutus oleh-Nya, kita membawa otoritas-Nya. Menerima orang yang diutus Yesus berarti menerima Yesus sendiri, dan menerima Yesus berarti menerima Bapa.

Hari ini, kita dipanggil bukan untuk menjadi bos yang memerintah, melainkan hamba yang memulihkan. Keagungan seorang Kristen tidak diukur dari berapa banyak orang yang melayani kita, tetapi dari berapa banyak orang yang hidupnya menjadi lebih ringan karena kehadiran kita. Mari kita berhenti mengejar pengakuan dan mulai mengejar keteladanan Kristus. Di sanalah letak kebahagiaan yang sejati.

Doa Penutup

Bapa yang Mahakasih, kami mengucap syukur atas teladan kerendahan hati yang Engkau tunjukkan melalui Putra-Mu, Yesus Kristus. Ampunilah kami jika selama ini kesombongan masih bertahta di hati kami, dan jika kami sering merasa lebih tinggi dari orang lain. Tuhan, lembutkanlah hati kami agar kami tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi pelaku yang setia. Berikanlah kami keberanian untuk melayani di tempat-tempat yang paling tidak terlihat dan kepada orang-orang yang mungkin tidak bisa membalas kebaikan kami. Biarlah melalui hidup kami, orang lain dapat melihat pancaran kasih-Mu. Kuatkanlah kami saat menghadapi penolakan, dan ingatkanlah kami selalu bahwa sukacita sejati ditemukan dalam ketaatan melakukan kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

***

Santo Pius V, Paus

Antonius Ghislieri adalah nama kecil Paus Pius V (1566-1572). Ia lahir di desa Bosko, tidak jauh dari Milano pada tahun 1504. Orangtuanya miskin sehingga tidak mampu membiayai sekolahnya. Oleh karena itu Antonio sendiri berusaha bekerja untuk membantu orangtuanya. Kerjanya setiap hari adalah menjaga domba-domba mereka di pegunungan. Tetapi atas bantuan seorang dermawan, Antonio di sekolahkan di kampung asalnya di bawah bimbingan imam-imam Dominikan. Kemudian hari Antonio masuk biara Dominikan dan ternyata menjadi seorang biarawan yang pandai dan bijaksana serta taat pada aturan-aturan ordonya, taat pada pimpinan, suka akan kemiskinan dan kemurnian.

Ia menjadi mahaguru filsafat dan teologi. Pada umur 52 tahun, ia ditabhiskan menjadi Uskup dan setahun kemudian menjadi Kardinal. Pada tahun 1565, Paus Pius IV meninggal dunia. Para kardinal berkumpul dalam konklaf untuk memilih Paus baru. Pemilihan ini tidaklah mudah. Tiga minggu telah berlalu, tetapi pemilihan belum juga berhasil menemukan seseorang untuk menduduki tahkta kePausan. Akhirnya atas nasebat Karolus Borromeus yang hadir juga dalam konklaf itu, Antonio Ghislieri terpilih menjadi Paus. Seluruh gereja bersorak gembira karena mempunyai seorang Paus baru yang saleh dan suci.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin gereja, beliau menghadapi banyak masalah. Ia berusaha mewujudkan keputusan-keputusan Konsili Trente. Tugasnya ini dijalankan dengan baik. Ia dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. Hidup sebagai seorang rahib tetap dipertahankannya. Baginya, doa merupakan senjata ampuh untuk menghadapi segala rintangan dan masalah. Tempat tidurnya dialasi dengan jerami kasar. Penderitaan Kristus direnungkannya setiap hari disertai dengan doa rosario. Kemenangan umat Kristen atas angkatan laut Turki dalam perang salib di Lavanto, diperoleh berkat doa rosario dari seluruh umat Katolik di seluruh dunia.

Dalam masa kepemimpinannya, beliau menyederhanakan cara hidup kePausan di Vatikan; menginstruksikan pembaharuan cara hidup ordo-ordo dan para imam projo; membrantas korupsi yang terjadi di Roma dan negara KePausan Vatikan; menginstruksikan pendirian seminari-seminari di setiap keuskupan. Semua rencana yang dirancangnya berhasil baik. Pada tanggal 1 Mei 1572, ia meninggal dunia setelah 6 tahun menjadi pemimpin gereja sejagat.

Santo Marianus dan Yakobus, Martir

Marianus dan Yakobus yang berjabatan masing-masing sebagai lektor dan diakon adalah martir gereja purba yang mati pada tahun 259, pada masa pemerintahan Kaisar Valerian (253-260). Keduanya ditangkap di Cirta (sekarang: Kontastin, Aljajair). Kemudian bersama banyak orang Kristen lainnya, mereka digiring ke Lambessa, sekitar 80 mil jauhnya dari Cirta. Disana mereka disiksa lalu dipenggal kepalanya bersama orang-orang Kristen lainnya.

Santo Yosef-Benedik Cottolengo, Pengaku Iman

Yosef-Benedik hidup antara tahun 1786-1842. Ia membangun rumah penginapan untuk para gelandangan, yatim-piatu dan penderita sakit yang terlantar. Yosef mengurus 8000 orang lebih semata-mata dari derma saja, karena ia percaya penuh kepada Penyelenggaraan Ilahi.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini