ATAMBUA, Pena Katolik – Perayaan Minggu Paskah di Gereja Katedral Santa Imaculata Atambua, Kabupaten Belu, berlangsung khidmat pada Minggu pagi (5/4/2026). Dalam homilinya, Uskup Keuskupan Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, menekankan bahwa esensi iman Gereja berpijak pada pengorbanan Kristus melalui sengsara, wafat, hingga kebangkitan-Nya.
Uskup yang akrab disapa Mgr. Domi ini mengajak seluruh umat untuk tidak sekadar merayakan Paskah sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai momentum transformasi hidup dalam keseharian. Ia mengingatkan bahwa dasar iman Gereja dibangun di atas kesaksian para rasul. Kini, tugas menjadi “saksi” tersebut berpindah ke tangan umat dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.
“Setelah Paskah, kita kembali ke keseharian kita di keluarga masing-masing. Tugas kita adalah terus melayani sesama dan membawa pesan Paskah untuk menciptakan dunia yang lebih baik—dunia yang tertebus karena dimuliakan oleh Tuhan,” ujar Uskup Domi.
Mgr. Domi memotivasi umat agar tetap tangguh meski menghadapi tantangan hidup. Mencontoh Maria Magdalena, umat diajak untuk naik ke level iman yang lebih tinggi melalui perjuangan yang penuh jatuh bangun.
Hal menarik dalam pesan Paskah kali ini adalah penekanan kuat pada isu ekologi dan keberlanjutan bumi. Uskup Domi menegaskan bahwa makna Paskah akan hilang jika umat abai terhadap lingkungan; menjaga keutuhan bumi sebagai bentuk iman.
“Paskah itu tidak sekadar kita datang nyanyi merdu-merdu di gereja, tapi kita juga mempunyai tugas untuk membangun dunia,” tegasnya.
Mengutip peringatan lembaga internasional, Mgr. Domi mengingatkan umat akan datangnya musim kemarau (El Nino) mulai April ini, yang menuntut kesiapan dan kearifan dalam mengelola sumber daya. Menutup perayaan ekaristi, Mgr. Domi mengajak umat Keuskupan Atambua untuk berkarya demi keselamatan banyak orang dengan menjaga alam ciptaan.
“Mari kita berkarya menurut semangat itu. Tuhan menjadikan bumi ini sebagai rumah bersama, rumah kesejahteraan, dan rumah kehidupan untuk semua orang,” pungkasnya.



