Pena Katolik, Pontianak | Vigili Paskah bukan sekadar rangkaian liturgi panjang, melainkan perjalanan spiritual yang mencerminkan dinamika hidup manusia. Pesan ini disampaikan oleh Romo Dominico Xaverio Budoyo Setiawan, OP, Kapelan Unika San Agustin Kampus II Pontianak, dalam refleksi Vigili Paskah yang dibagikan melalui akun Instagram DominikanID, Sabtu (4/4/2026).
Dalam refleksinya, Romo Dominic menegaskan bahwa perayaan Vigili Paskah mengajak umat untuk memahami kehidupan iman sebagai proses yang berjalan secara bertahap, penuh dinamika, dan tidak selalu mudah.
“Vigili Paskah bukanlah sekadar upacara panjang yang melelahkan, melainkan cermin dari perjalanan hidup kita sendiri yang dijalani secara bertahap,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan hidup manusia sering kali dimulai dengan ketidakpastian, tantangan, masa penantian, harapan, dan keyakinan, bahkan berbagai kesulitan yang diibaratkannya sebagai “kerikil tajam” yang menghadang langkah kehidupan.
Mengheningkan Diri di Tengah Perjalanan Hidup
Menurut Romo Dominic, malam Vigili Paskah menjadi momentum bagi umat untuk berhenti sejenak dan merefleksikan arah perjalanan rohani masing-masing. Umat diajak memasuki suasana penantian akan cahaya kebangkitan Kristus sebagai simbol harapan baru.
Ia menekankan bahwa liturgi Vigili Paskah yang dimulai dalam kegelapan memiliki makna mendalam bagi kehidupan manusia. Kegelapan, katanya, sering hadir dalam bentuk ketakutan, kecemasan, dan kebingungan hidup.
Namun demikian, justru dalam kegelapan itulah manusia diajak untuk melihat dirinya secara jujur di hadapan Tuhan.
“Di dalam kegelapan, kita diajak bertanya: siapakah saya selama ini di hadapan Tuhan?” tuturnya.
Iman Dimulai dari Kejujuran
Romo Dominic juga mengingatkan bahwa iman tidak lahir dari rasa merasa diri sudah suci atau tidak membutuhkan Tuhan. Sebaliknya, iman berawal dari kesadaran akan keterbatasan manusia.
Ia menegaskan, tanpa Tuhan manusia kehilangan arah hidup. “Tanpa Tuhan, hidup kita menjadi gelap. Tanpa Tuhan, kita tidak punya pegangan hidup. Tanpa Tuhan, tidak ada jalan keselamatan,” katanya.
Pernyataan tersebut, menurutnya, menjadi dasar pengalaman iman kristiani yang sejati, yakni kerendahan hati untuk mengakui kebutuhan manusia akan Tuhan.
Lilin Paskah sebagai Simbol Harapan
Refleksi kemudian mengarah pada simbol utama Vigili Paskah, yakni penyalaan lilin Paskah. Romo Dominic menggambarkan momen ini sebagai pengalaman spiritual ketika umat perlahan melihat kembali harapan dan merasakan kehadiran Allah dalam hidup.
Ia mengatakan bahwa cahaya lilin melambangkan tuntunan Tuhan yang menenangkan hati dan membuka kembali kesadaran manusia terhadap lingkungan dan sesamanya.
Umat, lanjutnya, berjalan menuju sumber terang dengan membawa “cahaya-cahaya kecil iman” masing-masing, yang menjadi tanda perjalanan rohani bersama.
Sejarah Keselamatan dan Pilihan Manusia
Dalam refleksinya, Romo Dominic juga menyinggung makna liturgi sabda dalam Vigili Paskah yang menghadirkan sejarah keselamatan Allah, mulai dari bangsa Israel hingga keselamatan bagi seluruh umat manusia.
Secara tidak langsung ia mengingatkan bahwa Allah senantiasa setia mendampingi manusia, meskipun manusia kerap memilih menjauh.
Menurutnya, manusia sering melupakan bahwa Tuhan telah lebih dahulu memilih manusia sebagai anak-anak-Nya, sehingga perayaan Paskah menjadi undangan untuk kembali kepada relasi tersebut.
Pembaruan Janji Baptis
Bagian penting lain dalam Vigili Paskah, yakni pembaruan janji baptis, disebut Romo Dominic sebagai simbol pembaruan hidup. Percikan air suci, katanya, menjadi tanda pembersihan dosa sekaligus pengingat identitas umat sebagai manusia baru dalam Kristus.
Ia mengajak umat untuk menjadikan perayaan ini sebagai titik balik kehidupan iman, bukan sekadar ritual tahunan.
Dalam doa penutup refleksinya, ia mengajak umat memohon agar terang Paskah tetap hidup dalam keseharian.
“Tuhan, jadikanlah malam Vigili ini sebagai titik balik dalam hidupku. Biarlah lilin yang kunyalakan malam ini tidak padam ketika aku keluar dari pintu gereja, tetapi tetap bernyala dalam kesabaranku, dalam kejujuranku, dan dalam kasihku kepada sesama,” doanya.
Romo Dominic menutup refleksi tersebut dengan ucapan, “Selamat merayakan Vigili Paskah,” sebagai ajakan bagi umat untuk menghidupi makna kebangkitan Kristus dalam kehidupan nyata.*Sam (Sumber: DominikanID).



